Jurnalisme Warga
Kedah-Ketambe Koneksi Paru-Paru Dunia
Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) terletak di Aceh. Melintasi beberapa kabupaten, di antaranya, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh
KHAIRUDDIN, S.Pd., M.Pd., Kepala SMA Negeri 1 Matangkuli dan Ketua Tim Pengembang IT GTK Disdik Aceh, melaporkan dari Ketambe, Aceh Tenggara
Istilah paru-paru dunia lazimnya mengacu pada keberadaan hutan hujan tropis di sebuah wilayah. "Paru-paru dunia" terutama berada di wilayah Amazon di Amerika Selatan, Kongo di Afrika, dan hutan hujan Asia Tenggara. Hutan-hutan ini dianggap penting karena perannya menyimpan karbon, menjaga keanekaragaman hayati, dan mengatur iklim global.
Namun, istilah ini bisa juga digunakan secara lebih luas untuk mencakup semua hutan hujan tropis di seluruh dunia.
Di lingkup Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara terbesar penghasil hutan hujan tropis atau ‘tropical rain forest’. Beberapa area tersebut, antara lain, berada di: 1). Hutan Hujan Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh dan Sumatera Utara; 2). Hutan Hujan Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan; 3). Hutan Hujan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan; 4). Hutan Hujan Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat; 5). Hutan Hujan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah; 6). Hutan Hujan Taman Nasional Lorentz, Papua; dan 7). Hutan Hujan Taman Nasional Manokwari Selatan, Papua Barat.
Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) terletak di Aceh. Melintasi beberapa kabupaten, di antaranya, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Kota Subulussalam. Hutan Aceh Utara sebenarnya juga termasuk KEL, terutama lintasan Samarkilang dan Paya Bakong. Namun, hutan Aceh Utara hanya tersisa 18 persen dari luas daerah kabupaten terbesar di Aceh tersebut.
Kawasan di atas merupakan salah satu dari sedikit tempat di dunia, di mana hutan hujan tropis, lahan gambut, dan ekosistem pegunungan yang kaya biodiversitas bertemu. Kawasan ini meliputi Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Leuser, Taman Nasional Singkil, dan sebagian dari Taman Nasional Kappi.
KEL di Aceh memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, termasuk spesies langka seperti orang utan sumatra, harimau sumatra, gajah sumatra, badak sumatra, dan banyak lagi.
Kawasan ini juga memiliki fungsi penting menjaga keseimbangan ekologi, mengatur tata air, dan menyediakan layanan ekosistem yang penting bagi masyarakat setempat.
KEL sendiri memiliki area yang membentang pada sebagian Bukit Barisan seluas 2,5 juta hektare. Namun sayangnya, pusat paru-paru dunia di Aceh, tepatnya di Aceh Tenggara dan Gayo Lues ini justru mengalami area parah yang disorot dunia sebagai kriteria Warisan Dunia dalam Bahaya (List of World Heritage in Danger). Daerah ini diharapkan mampu mempertahankan status Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) dari Unesco.
Kedah kaki Gunung Leuser
Terdapat satu tempat di Gayo Lues yang bisa jadi selama ini masih asing terdengar di telinga masyarakat Aceh, yaitu Kedah. Saya sendiri mendengar nama ini seperti nama daerah di Malaysia. Dari ibu kota kabupaten, Blangkejeren menuju Kedah hanya butuh waktu 15 sampai 20 menit. Melintasi Blang Jerango dan Kuta Panjang, belum terlihat secara jelas bahwa daerah ini memiliki keindahan alam yang dijaga keasriannya.
Kedah memiliki area wisata yang disebut dengan Rain Forest Lodges Bunglow. Di hutan ini terdapat aneka tanaman yang membebaskan warganya untuk memanfaatkan hasil alam, seperti kopi. Warga boleh saja memetik kopi di sini, tetapi tidak boleh merusak alam. Tidak diperkenankan untuk menebang pohon atau merusak ekosistem lingkungan hidup, termasuk berburu hewan.
Meski tidak luas untuk area wisata, tetapi keasrian alamnya terasa sekali masih dirawat dengan baik. Hanya saja butuh kesadaran wisatawan untuk menjaga agar tidak sembarangan membuang sampah, terutama ke sungai yang terdapat di kawasan Kedah.
Pemerintah Kabupaten Gayo Lues sangat mengharapkan jika di Kedah dapat dijadikan laboratorium alam sebagaimana yang sudah dibangun pada beberapa tempat di KEL. Sehingga, daerah ini juga memungkinkan dilakukan riset biota.
Laboratorium Alam Ketambe
| Jembatan Awe Geutah, si Kecil yang Tangguh |
|
|---|
| Langkahan Pascabanjir: Kesaksian dari Tanah yang Dihantam Bah dan Kayu |
|
|---|
| TKA Aceh di Peringkat 31: Apa yang Salah dengan Pendidikan Kita? |
|
|---|
| Kokurikuler sebagai Jalan Menuju Sekolah Aman Bencana di SMAN 1 Matangkuli |
|
|---|
| Pendidikan Aceh: Sinergi dan Optimis Pascabencana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/KHAIRUDDIN-SPd-MPd.jpg)