Kupi Beungoh

Bangga Menjadi Dosen

Pengorbanan dan perjuangan seorang dosen dalam ikhtiar mendidik generasi dan mencerdaskan bangsa, tentu sebuah kehormatan.

Editor: Amirullah
For Serambinews
Dr. Ainal Mardhiah, S Ag, M.Ag, Dosen Pascasarjana UIN Ar Raniry Banda Aceh 

Pengorbanan dan perjuangan seorang dosen dalam ikhtiar mendidik generasi dan mencerdaskan bangsa, tentu sebuah kehormatan. Dan bangsa yang besar tentu memandang positif, bangga, dan menghargai para dosen dan para pendidik.

Bangsa yang besar tentu memandang perlu dan penting memberikan penghargaan kepada dosen dan pendidik lainnya dalam berbagai bentuk penghargaan dan materi, sehingga para dosen dan pendidik sejahtera dan bahagia. Kebahagian yang mereka miliki akan menjadi penyemangat bagi dosen dan pendidik dalam kegiatan  mendidik dan mengajar  8baik di sekolah maupun dikampus.

Cukuplah melaporkan apa yang sudah dilakukan sehari-hari dalam kegiatan belajar mengajar dan apa yang sudah diperbuat di masyarakat dan  apa yang sudah dilakukan untuk pengembangan diri sebagai laporan untuk mendapat tunjangan sertifikasi, tanpa harus dibuat peraturan yang berlebihan, sampai dosen dan guru harus lebih fokus kepada persiapan bahan untuk syarat sertifikasi dibanding dengan mengajar dan mendidik.

Bahan untuk mendapat tunjangan sertifikasi harusnya disiapkan oleh bagian administrasi sesuai dengan tugas yang dikerjakan dosen atau guru tanpa harus diminta. Selesai mengerjakan tugas, dosen dan guru  tinggal mengumpulkan dan melaporkan, apa saja yang sudah dilakukan melalui bahan yang sudah disediakan. Jika tidak, Ini bisa mengakibatkan kelelahan dan stres yang tinggi  pada para guru dan dosen sehingga tugas utama mendidik menjadi terabaikan.

Sebuah penghargaan kepada dosen dan guru yang sudah berjasa mencerdaskan bangsa dalam bentuk sertifikasi jangan terkesan seperti tidak ikhlas diberikan, terkesan mempersulit. Untuk bukti kerja, bukankah cukup laporkan apa saja yang sudah dilakukan dalam cakupan TUPOKSI tanpa harus diatur, dibatasi  dan dipilih kegiatan-kegiatan yang bisa dilaporkan untuk sertifikasi, dan yang tidak,  sampai membuat kehilangan sikap jujur demi uang sertifikasi. 

Yang sanggup bekerja banyak laporkan yang banyak, yang tidak sanggup banyak, biarlah dengan standar minimal yang mampu dilakukan, dengan catatan tugas utama itu wajib dilakukan yaitu mengajar dan mendidik. Tentang pembayaran, biarlah pimpinan atau negara yang menilai berapa layaknya seorang dosen dan guru layak itu layak di beri tunjangan dengan semua usaha yang telah ia lakukan.

Dosen Itu Investasi Dunia Dan Akhirat

Di dunia seorang dosen mendapat gaji setiap bulan, meski kata orang gajinya kecil, tidak sejahtera. Bagi orang-orang bersyukur tentu tidak hanya mengukur jumlah, tapi melihat juga sisi lainnya. Bahwa bersyukur kita punya gaji meski sedikit, moga berkah. Disamping gaji pokok, dosen juga punya tunjangan sertifikasi, dan remon. Jika melihat dari kaca mata orang kecil, tentu akan selalu hadir rasa syukur dengan apa yang  dimiliki.

Selain di dunia dosen dan guru mendapat gaji dan tunjangan sertifikasi, di akhirat seorang guru dan dosen punya tabungan, punya keuntungan,  punya deposito, yang merupakan hasil investasi ilmu pada setiap murid dan mahasiswa ketika mengajar di dunia. 

Bangga menjadi dosen tidak hanya karena mendapat gaji dan tunjangan sertifikasi, namun lebih dari itu bisa mewariskan  ilmu kepada generasi penerus bangsa, lebih bangga lagi bisa mawariskan ilmu agama dan syari'at Islam kepada generasi Islam. Tentunya, dengan harapannya besar negeri ini bisa kokoh dan bisa dipimpin oleh orang yang bermoral. Persoalan bagaimana negara menghargai dan memuliakan para guru dan dosen, itu sangat tergantung dari akhlak pemimpin dan penguasanya.

Jika mereka yang memimpin dan berkuasa memiliki akhlak yang baik, tentu sudah pasti mereka akan menghargai dan memuliakan guru, dosen dan siapapun  dengan baik. Namun sebaliknya jika penguasa itu tidak memiliki akhlak yang baik, apalagi yang mendapat kekuasaan dengan cara tidak baik, tidak benar, kecuali karena terpaksa untuk menjaga umat dan syari'at tentu kita bisa memahami dan memakluminya.

Lalu karena negara bersikap demikian seperti kata orang "dosen itu gaji kecil dan tidak sejahtera menjadi dosen"? Apa kemudian kita berhenti menjadi dosen atau guru? Lalu kita tidak mau menjadi dosen? Saya rasa tidak demikian.

Bagaimanapun sikap orang lain terhadap kita, tentunya tidak harus mempengaruhi kita untuk terus berbuat baik, terus mendidik generasi dan mencerdaskan bangsa di tengah kondisi akhlak dan moral pemimpin, moral rakyat sedang di uji oleh Allah SWT, sedang sangat merosot bahkan bisa dikatakan rusak.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved