Opini
Keistimewaan Puasa Ramadhan
Ayat ini diperkuat oleh potongan ayat lainnya dalam surah yang sama ayat ke-185 yang artinya: Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri
Prof Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA, Ketua Majelis Syura Dewan Dakwah Aceh dan Dosen Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry
PUASA Ramadhan merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim dan muslimah. Landasan hukumnya adalah ayat Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya; Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Ayat ini diperkuat oleh potongan ayat lainnya dalam surah yang sama ayat ke-185 yang artinya: Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.
Dua ayat Al-Qur’an tersebut menjadi pegangan paling kuat bagi setiap muslim untuk tidak meninggalkan puasa Ramadhan setahun sekali dan menjadi pemicu kesungguhan iman taqwa seseorang muslim dalam hidup dan kehidupan.
Seorang muslim diwajibkan mengikat diri dan berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah dalam hidup ini terkait dengan perilaku, tata cara dan keperluan hidupnya. Oleh karenanya tidak ada para ulama dan ilmuan muslim yang masih waras yang membantah kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, yang ada adalah umat Islam beramai-ramai mempersiapkan diri untuk melaksanakan puasa Ramadhan setahun sekali.
Fondasi agama
Selaras dengan hadits Rasulullah saw yang artinya: Islam dibina atas lima fondasi; syahadatain (bersyahadat tiada Tuhan selain Allah, nabi Muhammad saw sebagai Rasul Allah), mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi yang mampu.
Maka jadilah kelima fondasi tersebut sebagai titik pangkal asas yang paling mendasar bagi seorang muslim. Tiada gelar muslim kepada setiap insan kalau tidak memiliki dan mengamalkan lima fondasi tersebut sesuai dengan tuntunan fikih.
Mengucap dua kalimah syahadat (asyhadu an la ila ha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah) merupakan pengakuan dan penentuan seseorang manusia menjadi muslim (beragama Islam), tanpa mengucap dua kalimah tersebut walau bagaimanapun baik perangainya tetap bukan muslim.
Seterusnya Ketika ia sudah bersyahadat maka wajiblah atasnya melaksanakan keempat azas Islam lainnya sebagai rutinitas hidup dan kehidupannya. Maknanya seorang yang telah bersyahadat tidak boleh meninggalkan shalat wajib lima waktu sehari semalam. Tidak boleh meninggalkan kewajiban membayar zakat manakala sampai haul dan nisab, tidak boleh meninggalkan puasa di setiap bulan Ramadhan dan tidak boleh meninggalkan kewajiban berhaji ke Baitullah manakala punya kesanggupan.
Karena itu syahadatain itu merupakan komponen paling mendasar sebagai pengakuan seseorang itu sudah menjadi muslim, tanpa kata muslim bagi seseorang yang tidak bersyahadatain. Manakala shalat pula menjadi ukuran kedisiplinan dalam hidup dan kehidupan seseorang muslim.
Tidak ada ajaran kedisiplinan dalam agama selain Islam seperti yang diatur dalam menunaikan ibadah shalat lima waktu sehari semalam. Ketika azan berkumandang umat Islam meninggalkan semua pekerjaan menuju masjid untuk menunaikan shalat. Itu berlaku lima kali sehari semalam yang paling diutamakan karena Islam menjanjikan pahala lebih dalam shalat berjamaah di masjid. Dengan itu pula umat Islam terlatih hidup disiplin semenjak ia baligh.
Sementara zakat sebagai fondasi ketiga menjadi lambang kasih sayang dalam Islam manakala sampai nisab (ukuran wajib zakat) dan sampai haul (sampai tahun). Zakat yang diperuntukkan kepada delapan ashnaf tersebut betul-betul menjadikan Islam sebagai agama yang memiliki doktrin kasih sayang terhadap sesama muslim.
Sehingga dengan pendistribusian zakat secara benar dan maksimal segala kendala yang menimpa Islam dan umat Islam dapat teratasi. Seperti memberdayakan fakir miskin, membebaskan muslim dari utang piutang, menyelamatkan para musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan, memperkokoh logistik perang dan semisalnya.
Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan menjadi lambang keimanan bagi setiap umat Islam. Karena menahan diri sebulan penuh dari makan minum dan berhubungan suami istri di siang hari itu sesuatu yang amat sulit dilakukan manusia. Tetapi umat Islam sanggup dan mau melakukannya. Itu berarti ada pancaran iman dalam hidup dan kehidupan seseorang muslim yang tidak dimiliki oleh penganut agama lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Tgk-Hasanuddin-Yusuf-Adan-MCL-MA-OK.jpg)