Kupi Beungoh
Tari Saman Sebagai Warisan tak Benda Diakui Dunia
Tari Saman sering menjadi pusat perhatian penonton karena cukup unik karena dalam pelaksanaan tari Saman sama sekali tidak menggunakan alat musik, nam
Dalam acara Saman Jalu selalu ada istilah “beserinen” (berasal dari kata “serinen” artinya saudara).
Pemain saman tuan rumah mencari “serinen” dari pemain saman tamu. Konsekwensi dari pemilihan serinen ini akan berlanjut pada pergaulan selanjutnya atau setelah saman selesai. Selama pelaksanaan saman jalu berlangsung, semua konsumsi yang diperlukan menjadi tanggungan dari pihak serinen dari tuan rumah.
Demikian juga nanti sewaktu diadakan kembali saman jalu tandang (artinya pihak tuan rumah yang telah melaksanakan saman jalu akan pergi ke kampung tamu tadi).
Pada kegiatan di kampung tadi kembali apa yang menjadi kewajiban tuan rumah sbelumnya juga akan menjadi kewajiban tuan rumah yang sedang menerima tamu ini.
Yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa hubungan silaturahum ini akan berlanjut sampai pemain saman ini tua. Mereka masih saling berkunjung dan juga keluarga masing-masing juga terus menjalin hubungan dan selalu mengenang kejadian “beserinen” pada masa menjadi pemain saman waktu muda.
Jika dianalisis, keakraban seperti ini, saman ini sebenarnya mempunyai fungsi sebagai pengerat silaturahim antarkampung yang ada di Gayo Lues
Dilansir dari situs resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Pada 24 November 2011, Tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai daftar Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia dalam sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya TakBenda UNESCO di Bali.
Harapan saya tari saman ini dapat ditingkatkan kelestarianya dikalangan masyarakat terkhususnya di generasi muda, agar tari saman tidak punah atau digantikan dengan kesenian lain.
*) Penulis adalah Mahasiswa S1 Prodi KPI UIN Ar-Raniry
| “Islam-Politik” di Era Modern: Historiografi Karantina Rubiah dan Kontekstualisasi Haji 2026 |
|
|---|
| Hari Raya Idul Adha Qurban: Bukti Cinta dan Pengorbanan terhadap Tuhan |
|
|---|
| Laut yang Indah, Kesadaran yang Masih Rendah |
|
|---|
| Ketika Negara “Beribadah” Pakai Pajak Rakyat |
|
|---|
| Ngopi Sambil Nonton Bola: Tren Baru yang Mengubah Wajah Malam Kota |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sapira-89j.jpg)