Jumat, 29 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Laut yang Indah, Kesadaran yang Masih Rendah

Pada akhirnya, laut tidak pernah berubah. Laut tetap indah dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh.

Tayang:
Editor: Firdha Ustin
for serambinews/FOR SERAMBINEWS.COM
Sri Hardianty, S.IP., M.Pd, Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh. 

Sri Hardianty, S.IP., M.Pd *)

Aceh merupakan salah satu wilayah pesisir di Indonesia. Dengan garis pantai yang membentang lebih dari 1.600 kilometer dan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia serta Selat Malaka, laut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Laut menjadi sumber ekonomi, jalur transportasi, ruang sosial, sekaligus destinasi wisata yang terus berkembang di berbagai wilayah seperti Aceh Barat, Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Jaya.

Namun, di balik keindahan dan potensi tersebut, laut Aceh juga menyimpan risiko besar yang sering tidak disadari masyarakat.

Karakter perairan laut Aceh dikenal memiliki gelombang tinggi, arus balik (rip current) yang kuat, serta perubahan cuaca yang cepat.

Kondisi tersebut menjadikan sejumlah kawasan pantai sebenarnya tidak sepenuhnya aman untuk aktivitas berenang bebas, terutama bagi masyarakat yang belum memahami karakter laut secara memadai.

Dalam beberapa waktu terakhir, kasus tenggelam kembali terjadi di sejumlah wilayah pesisir Aceh.

Di Aceh Barat, seorang remaja dilaporkan terseret arus saat mandi di Pantai Suak Ribee pada Mei 2026 ini dan ditemukan meninggal dunia setelah proses pencarian tim SAR gabungan.

Sebelumnya, pada April 2026 seorang warga lanjut usia juga ditemukan meninggal dunia setelah diduga mandi seorang diri di kawasan pesisir yang sama.

Pada kasus lain, seorang anak berusia 10 tahun meninggal dunia setelah terseret arus di kawasan Pantai Batu Putih, Aceh Barat.

Rentetan peristiwa ini menunjukkan bahwa kecelakaan laut di wilayah pesisir bukan lagi kejadian insidental, melainkan persoalan yang terus berulang dengan pola yang hampir sama.

Sayangnya, setiap tragedi hanya menghadirkan duka sesaat tanpa diikuti perubahan budaya keselamatan yang serius. Peringatan muncul setelah korban jatuh, bukan sebelum risiko terjadi.

Akibatnya, kasus tenggelam terus berulang di lokasi yang sama, dengan kelompok korban yang juga relatif serupa, terutama anak-anak dan masyarakat yang melakukan aktivitas mandi tanpa pengawasan.

Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks dalam kehidupan masyarakat pesisir. Laut begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi kedekatan geografis tersebut tidak selalu diikuti oleh kesiapsiagaan dan literasi keselamatan yang memadai.

Banyak masyarakat masih memandang laut semata sebagai ruang rekreasi yang aman, tanpa memahami bahwa laut memiliki dinamika alam yang berbahaya dan tidak dapat diprediksi sepenuhnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved