Kupi Beungoh

Takut Berbicara? Mengenal Istilah Aprehensif dalam Perspektif Ilmu Komunikasi

Dalam mengaktualisasi diri serta ketertarikan untuk mengenal dunia dan mencoba hal baru, tentunya tidak terlepas dari yang namanya komunikasi.

Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Ratna Sari, Mahasiswa UTU/Pembelajar Ilmu Komunikasi. 

Oleh Ratna Sari *) Berbagai kalangan umur mulai dari anak-anak, remaja bahkan dewasa tentunya memiliki kebutuhan untuk mengaktualisasi diri.

Dalam mengaktualisasi diri serta ketertarikan untuk mengenal dunia dan mencoba hal baru, tentunya tidak terlepas dari yang namanya komunikasi.

Namun pada prakteknya masih banyak dari kita yang dilanda kecemasan berkomunikasi baik itu tingkat rendah maupun kecemasan yang tinggi.

Nah, hal ini di istilahkan dengan aprehensi komunikasi, bahwa akan ada manusia yang memiliki ketakutan untuk melakukan komunikasi yang dikenal sebagai communication apprehension.

Orang yang aprehensif dalam komunikasi, biasanya akan menarik diri dari pergaulan, berusaha sekecil mungkin berkomunikasi, dan hanya akan berbicara apabila terdesak saja.

Bila kemudian ia terpaksa berkomunikasi, sering pembicaraannya tidak relevan, dan orang yang aprehensif dalam komunikasi, cenderung tidak menarik oleh orang lain.

Aprehensi komunikasi mengacu pada perasaan takut atau khawatir terhadap interaksi dalam komunikasi.

Mereka yang memiliki aprehensi komunikasi akan merasa takut melakukan kesalahan dan dihina ketika terlibat suatu interaksi.

Namun dalam hal itu, beberapa pakar ilmu komunikasi menyatakan bahwa aprehensi komunikasi terbagi menjadi dua bagian, yaitu trait aprehensi dan state aprehensi.

Trait aprehensi sering kali di kaitkan dengan perasaan ketakutan berkomunikasi dalam seluruh konteks, sedangkan state aprehensi merupakan ketakutan berkomunikasi pada konteks yang spesifik saja.

Banyak peneliti sepakat bahwa kecemasan berkomunikasi disebut dan berhubungan dengan sifat kepribadian, namun akhir-akhir ini aprehensi komunikasi diperluas baik itu dari sudut pandang sifat maupun situasional.

Trait aprehensi komunikasi dikaitkan dengan sifat kepribadian.

State (situasional) didefinisikan sebagai respon situasional yang dialami individu dalam konteks here and now, biasanya memiliki respon emosi yang negatif, sebelum terjadi komunikasi.

Aprehensi komunikasi state sering diasosiasikan dengan performansi komunikasi yang terganggu dan tingkat evaluasi yang lebih rendah dari pengamat.

State aprehensi komunikasi adalah sesuatu yang dialami oleh kebanyakan orang.

Hampir setiap orang, bahkan pembicara berpengalaman profesional mungkin merasa gugup dalam berkomunikasi.

Menurut Myers dan Myers (dalam Boyle 1995), terdapat Aprehensi komunikasi berdasarkan tipe kepribadian ekstrovert  dan introvert.

Ekstrovert artinya tipe pribadi yang suka bergaul, menyenangi interaksi sosial dengan orang lain, dan berfokus pada the world outside the self.

Sebaliknya tipe introvert adalah mereka yang senang menyendiri, reflektif, dan tidak begitu suka bergaul dengan banyak orang.

Seseorang yang memiliki tipe introvert lebih suka mengerjakan aktivitas yang tidak banyak menutut interaksi seperti halnya membaca, menulis, dan berpikir secara imajinatif.

Jadi agar kita tidak merasa cemas ketika berbicara, ada baiknya kita mengenali diri sendiri dengan baik.

Berlatih dan mengasah kretivitas dalam berinteraksi baik bersama seseorang maupun orang banyak menjadi bagian penting untuk menurunkan tingkat kecemasan dalam berkomunikasi.

 *) PENULIS adalah Ratna Sari, Mahasiswi UTU/ Pembelajar Ilmu Komunikasi.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved