Ramadhan Mubarak
Visi Misi Ramadhan
Tanpa kesiapan diri, semulia apapun tamu itu menjadi tidak istimewa jika tanpa sambutan yang berarti. Sebagai tamu kehormatan, kita akan menyediakan t
Dr Munawar A Djalil MA, Pegiat dakwah dan Kadis Pendidikan Dayah Aceh
RAMADHAN adalah bulan yang penuh keagungan. Begitu agungnya bulan ini sehingga gerbang rahmat dibuka lebar-lebar, pintu neraka dikunci rapat dan setanpun semuanya dibelenggu.
Cerita Ramadhan tentu bukan fiktif. Ramadhan adalah tamu suci yang mendatangi siapapun dengan berbagai keistimewaan. Keistimewaannya bukan semata karena diturunkannya Alquran, tetapi terletak pada sambutan umat Islam pada bulan ini untuk mengistimewakan kualitas dirinya sendiri.
Tanpa kesiapan diri, semulia apapun tamu itu menjadi tidak istimewa jika tanpa sambutan yang berarti. Sebagai tamu kehormatan, kita akan menyediakan tempat seluas-luasnya bagi Ramadhan untuk mengasah, mengasih serta mengasuh jiwa kita sebagai muslim. Hakikatnya itulah yang menjadi visi dan misi bulan Ramadhan.
Mengasah Jiwa
Kemantapan jiwa seseorang berbanding lurus dengan kualitas keimanannya. Semakin menipis keimanan dalam jiwanya, maka semakin sering hatinya tergoncang. Ramadhan akan mengasah keimanan kita yang lesu menjadi kuat, yang padam menjadi terang, yang loyo menjadi segar berbinar.
Kekuatan jiwa yang tersentuh ajaran Ramadhan bukan saja mampu mendorong dirinya, melainkan bisa menjadi daya dan kekuatan bagi orang lain. Ramadhan hendak mengajarkan keberkahan hidup dengan mengasuh jiwa muslim. Apabila keimanan dalam jiwanya begitu dalam (kuat), maka hatinya akan lebih stabil dan akan tabah dalam menghadapi berbagai kondisi yang dialaminya.
Ketika seseorang mengalami kesedihan akibat dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat, maka bisa jadi orang yang beriman akan menangis karenanya. Bagi sebagian orang, menangis adalah hal hina yang menandakan kelemahan jiwa. Orang Yahudi selalu menyebut ‘cengeng’ manakala mendapati anak-anak mereka menangis, dan dikatakan tidak akan mampu menghadapi musuh-musuhnya.
Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis dalam pandangan mereka adalah hal yang hanya dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai prinsip hidup.
Berbagai anggapan di atas, tentunya tidak sepenuhnya benar. Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap peristiwa yang menimpa diri maupun umatnya.
Rasulllullah SAW meneteskan air mata ketika anaknya yang bernama Ibrahim meninggal dunia. Abu bakar Ash-Shiddiq digelari oleh anaknya Aisyah RA sebagai Rajulun Bakiy (orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya kerap bergolak manakala shalat di belakang Rasullullah SAW karena mendengar ayat-ayat Allah.
Abdullah Bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada seseorang yang sedang membaca Alquran. Ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam“ (QS Al-Muthaffifin: 6), saat itu juga beliau diam, berdiri tegak, dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Rabnya, kemudian beliau menangis.
Umar bin Khattab, seorang yang dikenal paling tegas, justru luluh hatinya ketika suatu ketika dia mendengar seseorang membaca surat Ath-thur sampai pada ayat ketujuh yang berbunyi: “Sesungguhnya siksaan Tuhanmu pasti terjadi”. Beliau bahkan seketika itu jatuh pingsan.
Gambaran di atas menjelaskan betapa Rasullullah SAW dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam hati mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka.
Mengasih Jiwa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-munawal-jalil-ma_20170626_170538.jpg)