Jurnalisme Warga

Takjil Iebu Peudah di Bulan Puasa, Perlu Persiapan Lebih Satu Bulan

Iebu peudah terkenal sebagai makanan khas buka puasa warga Aceh Besar, tetapi sesungguhnya tidak semua masyarakat Aceh Besar sempat menikmatinya.

Editor: Amirullah
Serambi Indonesia
T.A. SAKTI, peminat kebudayaan Aceh, melaporkan dari Bale Tambeh, Gampong Tanjung Selamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar 

Oleh: T.A. SAKTI, peminat kebudayaan Aceh, melaporkan dari Bale Tambeh, Gampong Tanjung Selamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar

TERNYATA persiapan dalam menyajikan segelas 'iebu peudah' untuk takjil buka puasa bukanlah perkara gampang.

Begitu kesan yang saya dengar dari penuturan Tgk Aiyub di Bale Tambeh, halaman rumah saya dalam Ramadhan ini.

Walaupun, iebu peudah terkenal sebagai makanan khas buka puasa warga Aceh Besar, tetapi sesungguhnya tidak semua masyarakat Aceh Besar sempat menikmatinya.

Tgk Aiyub adalah tokoh adat dan penceramah agama. Beliau mantan keuchik di Lam Alue Raya dan mantan imum mukim Leupung, Kecamatan Kutabaro, Aceh Besar.

Sejauh informasi yang saya himpun, di Kecamatan Kutabaro, Kabupaten Aceh Besar, tradisi memasak iebu peudah di meunasah pada bulan puasa masih terwariskan hingga kini.

Mencari bahan “ramuan” iebu peudah untuk buka puasa di meunasah dilakukan paling lambat sebulan sebelum Ramadhan tiba. Hal ini didahului dengan sebuah rapat di meunasah.

Dalam rangka menyongsong bulan Puasa 1445 H, masyarakat Lam Alue Raya, Mukim Leupung, Kecamatan Kutabaro, Aceh Besar, pada bulan Februari 2024 pukul 08.30 pagi berangkat mencari bahan “ramuan” iebu peudah yang akan dimasak di meunasah.

Jumlah peserta gotong royong itu lebih 50 orang, terdiri atas kaum muda berumur di bawah 50 tahun.

Sebagian anak muda mengendarai sepeda motor, selebihnya menumpang truk. Mereka berkumpul di kaki gle (dataran tinggi) yang sudah disepakati. Dua ekor kambing juga diturunkan dari truk.

Daging kambing akan dijadikan lauk makan siang bersama (Aceh: meuramien) setelah para pencari bahan ramuan berkumpul kembali.

On kayee 44

Sebutan resep obat on kayee peuet ploh peuet (44 jenis daun kayu) cukup populer bagi peminat obat herbal di Aceh.

Namun, pada hari ini tidak semua nama tumbuh-tumbuhan itu dikenal orang. Mereka hanya tahu gambaran daun dan batangnya, tetapi tak tahu lagi namanya.

Dapat ditambahkan bahwa tumbuh-tumbuhan di pegunungan itu ada yang berupa batang kayu dan 'urot' (tumbuhan yang hidup menjalar).

Menurut Tgk Aiyub, nama tumbuh-tumbuhan bahan iebu peudah yang dapat diperoleh di perbukitan sebagai berikut:

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved