Ruang Bahasa
Mengenali Ciri Kata Majemuk, Jenis dan Contohnya, serta Bedanya dengan Frasa
Pada bagian ini pembahasan kita fokuskan untuk mengenali ciri-ciri kata majemuk, bedanya dengan frasa, dan jenis-jenisnya, disertai dengan contoh.
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Amirullah
Oleh: Yarmen Dinamika, Wartawan Harian Serambi Indonesia
Para pencinta bahasa Indonesia sekalian.
Pada bagian ini pembahasan kita fokuskan untuk mengenali ciri-ciri kata majemuk, bedanya dengan frasa, dan jenis-jenisnya, disertai dengan contoh.
Mengawali pembahasan ini kita uraikan terlebih dahulu ciri-ciri dari kata majemuk.
Pertama, kata majemuk terbentuk dari gabungan dua kata atau lebih yang berpadu dan menghasilkan kata yang memiliki makna baru.
Contohnya, rumah sakit. Ini bukan berarti rumah yang tidak sehat atau rumah jorok, juga bukan rumah yang rusak parah, melainkan gedung tempat merawat orang sakit.
Di gedung ini juga disediakan dan diberikan pelayanan medis yang meliputi berbagai masalah kesehatan.
Kedua, kedudukan kalimatnya setara dan sifatnya sama. Bersifat koordinatif, tidak saling menerangkan.
Contohnya, kakek nenek, suami istri, anak cucu.
Ketiga, adanya perluasan pada kalimat inti.
Perluasan maupun penggabungan di dalam kalimat, nantinya juga akan menghasilkan pola kalimat baru.
Contohnya, kaca hias, bukan bermakna kaca yang dipenuhi hiasan, melainkan kaca (cermin) muka yang digunakan untuk berhias.
Contoh lain, meja hijau. Ini bukan semata meja yang taplaknya berwarna hijau, melainkan kiasan yang mengacu pada lembaga pengadilan.
Keempat, mempunyai lebih dari satu subjek/predikat.
Contohnya, anak laki-laki, saudara dua sepupu, makan keringat orang, dan makan asam garam.
Kelima, cara penulisannya. Ada kata majemuk yang ditulis terpisah (berspasi), ada pula yang ditulis serangkai (gabung).
Contohnya, kawin siri (berspasi) dan maskawin (tanpa spasi).
Keenam, kata majemuk yang ditulis serangkai hanyalah kata majemuk yang telah mengalami proses perpaduan secara sempurna.
Contohnya, bumiputra, olahraga, dan saputangan. Akan tetapi, kata sejenis seperti warga negara, olah gerak, dan sapu jagat, itu semua ditulis terpisah (berspasi).
Ketujuh, untuk mengetahui kata majemuk yang ditulis serangkai mau tidak mau haruslah kita berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang saat ini versi daringnya merupakan edisi ke-6.
Soalnya, ada kata majemuk yang diharuskan untuk ditulis serangkai, seperti kacamata dan matahari, akan tetapi ada kata lain yang unsur katanya hampir sama, tidak diharuskan untuk ditulis serangkai, misalnya kaca muka dan kaca riben atau mata air dan mata angin. KBBI-lah yang menjadi pedoman utama dalam menentukan kata majemuk yang ditulis berspasi dengan yang ditulis serangkai.
Kedelapan, kata majemuk tidak dapat diperluas dengan imbuhan berupa awalan atau akhiran hanya di masing-masing katanya. Jika imbuhan diperlukan maka harus diletakkan di awal dan di akhir gabungan kata tersebut sehingga memiliki makna.
Sebagai contoh, "kereta api" tidak dapat diperluas dengan imbuhan di satu kata saja, seperti "perkereta api" atau "kereta apian", kecuali kata majemuk itu mendapat imbuhan di awal dan di akhir sehingga menjadi "perkeretaapian". Maknanya adalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah kereta api.
Kesembilan, posisi kata majemuk tidak dapat ditukar dan tidak bisa ditambah maupun dipisahkan.
Posisi kata-kata yang membentuk kata majemuk bersifat tetap dan tidak dapat ditukar satu sama lain tanpa mengubah atau membuat makna menjadi tidak jelas.
Selain itu, unsur kata majemuk tidak dapat ditambah atau dipisahkan. Contohnya, kata "angkat kaki" tidak dapat ditukar menjadi "kaki angkat," dan kata "makan hati" tidak dapat dipisahkan menjadi "makanan hati" atau "makan itu hati" tanpa mengubah maknanya.
Kata majemuk beda dengan frasa
Selain itu, perlu diingat bahwa kata majemuk berbeda dengan frasa.
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif (misalnya 'gunung tinggi' disebut frasa karena merupakan konstruksi nonpredikatif atau tidak berhubungan dengan predikat dalam kalimat).
Perbedaan lainnya terletak pada pembentukan makna.
Frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih, tetapi tidak menghasilkan makna baru.
Dari sisi penulisan juga terdapat perbedaan. Kata majemuk dapat ditulis terpisah atau serangkai, sedangkan frasa selalu ditulis dengan cara terpisah.
Pada kata majemuk juga tidak dapat disisipkan kata lain.
Dalam linguistik struktural, komponen-komponen kata majemuk tidak dapat disela dengan unsur lain. Sebagai contoh, "mata sapi" yang berarti 'telur goreng tanpa dihancurkan atau didadar' adalah kata majemuk karena tidak bisa disela dengan unsur lain.
Demikian pula pada kata "kacamata". Ini bukanlah berarti kaca pada (di dalam) mata atau kaca dari mata, melainkan lensa tipis untuk mata guna menormalkan dan mempertajam penglihatan (ada yang berangka dan ada yang tidak).
Sebaliknya, frasa dapat memiliki unsur yang disisipkan di antara komponennya, tanpa mengubah maknanya. Contohnya, "mata guru" yang berarti 'mata kepunyaan guru' dapat disisipi menjadi "mata jeli guru" atau "mata tajam guru" karena dapat disela, sehingga ini adalah sebuah frasa.
Nah, setelah mengenali ciri-ciri kata majemuk dan bedanya dengan frasa, sekarang kita lanjutkan ke pembahasan jenis-jenis kata majemuk.
Jenis-jenis kata majemuk
Kata majemuk dapat dikelompokkan berdasarkan jenis kata-kata yang digabungkan dan bentuknya.
Berikut ini dirincikan beberapa jenis kata majemuk:
1. Kata majemuk noun-noun: Terbentuk atas dua atau lebih kata benda (noun).
Contohnya: batu bara, meja dapur, rumah batu.
2. Kata majemuk adjektiva-noun: Terdiri atas kata sifat dan kata benda.
Contohnya: bersih hati, manis mulut, pahit lidah.
3. Kata majemuk verba-noun: Menggabungkan kata kerja dan kata benda.
Contohnya: makan angin, main perempuan, lenggang kangkung.
4. Kata majemuk noun-adjektiva: Kata benda dan kata sifat digabungkan.
Contohnya: gedung tinggi; hidung belang, daun muda.
5. Kata majemuk adjektiva-verba: Gabungan antara kata sifat dan kata kerja.
Contohnya: rajin kerja, suka jajan, malas (ber)gerak.
6. Kata majemuk adverbia-adjektiva:
Terbentuk dari kata keterangan dan kata sifat.
Contohnya: tinggi semampai, penuh pesona, habis manis.
7. Kata majemuk adjektiva-adverbia: Menggabungkan kata sifat dan kata keterangan.
Contohnya: cantik molek, muda belia, tua bangka.
8. Kata majemuk preposisi-noun: Melibatkan kata depan dan kata benda.
Contohnya: jauh di pulau, dekat di mata, dengan setulus hati.
9. Kata majemuk verba-preposisi: Gabungan kata kerja dan kata depan.
Contohnya: makan ke dalam, pukul samping, sikut kiri kanan.
10. Kata majemuk verba-adjektiva: Menggabungkan kata kerja dan kata sifat.
Contohnya: kerja keras, makan enak, tidur nyenyak.
11. Kata majemuk noun-verba: Terdiri atas kata benda dan kata kerja.
Contohnya: roda berputar, air mancur, ayam berkokok.
12. Kata majemuk gabungan: Kombinasi dari lebih dari dua jenis kata, misalnya, rumah sakit kanker atau rumah sakit ibu dan anak (noun-noun).
13. Kata majemuk pasangan atau duplikat:
Terdiri atas dua kata yang mirip atau sama.
Contohnya: sangkut paut, adat istiadat, gegap gempita.
14. Kata majemuk berulang: Terdiri atas kata yang diulang untuk memberikan penekanan atau intensitas. Misalnya, terang- benderang, gilang-gemilang, terbang-terbang burung, atau jauh-jauh datang.
Demikian sekadar contoh.
Pada intinya, kata majemuk membuka pintu lebar terhadap ekspresi bahasa yang lebih kaya, efisien, dan spesifik.
Dengan memahami jenis-jenis kata majemuk, seseorang dapat menggabungkan kata-kata dengan lebih kreatif, menciptakan makna yang lebih mendalam dan menyampaikan informasi secara lebih tepat dibandingkan jika ia hanya menggunakan kata tunggal, bukan majemuk.
Sebagai penutup dari pelajaran mengenai kata majemuk ini, mari kita tinjau sejenak apa yang disampaikan Samsuri dalam bukunya berjudul Analisis Bahasa: Memahami Bahasa Secara Ilmiah (1994).
Pada halaman 200 buku tersebut Samsuri menyatakan bahwa bentuk kata majemuk dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu bentuk endosentik dan eksosentik.
Namun, KBBI membakukan dua istilah ini menjadi endosentrik dan eksosentrik.
Kata majemuk dikategorikan sebagai bentukan endosentrik adalah apabila konstruksi distribusi (persebaran)-nya sama dengan kedua, ketiga, atau salah satu unsurnya.
Adapun frasa endosentrik adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua maupun salah satu unsurnya. Unsur-unsur tersebut berkedudukan setara dan maknanya mengacu pada referensi yang sama (Ramlan, 1987:155).
Unsur-unsur pembentuk frasa endosentrik apositif mempunyai referensi yang sama dan dapat saling menggantikan. Hal ini berarti bahwa konstruksi frasa endosentrik apositif terbentuk dari dua unsur atau lebih. Untuk itu, unsur-unsur pembentuknya secara otomatis mempunyai hubungan antarunsur, baik hubungan posisi maupun hubungan makna.
Contoh, rumah sakit dan jual beli, keduanya adalah kata majemuk berbentuk endosentrik, karena distribusinya sama dengan unsur yang pertama.
Sementara itu, kata majemuk disebut bentukan eksosentrik apabila konstruksi distribusinya berlainan dari salah satu unsurnya. Atau suatu ungkapan yang maknanya tidak berasal dari makna konstituennya (dalam semantik).
Kata majemuk eksosentris terjadi justru ketika kelas kata gabungan itu berbeda dari salah satu atau semua unsur pembentuknya. "Bawah sadar," "luar biasa," "luar negeri," dan "pukat harimau" adalah contoh kata majemuk eksosentris.
Demikian, semoga paham.
Lancar jalan karena ditempuh, lancar kaji karena diulang.
(Kemahiran didapat karena rajin berlatih). []
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yarmen-Dinamika-Wartawan-Harian-Serambi-Indonesia-27-4.jpg)