Salam
Bahasa Aceh Memang harus Kita Selamatkan
Hal ini diperparah lagi dengan kondisi perkembangan zaman, dimana semua alat-alat digital (digitalisaisi) yang digunakan para remaja bisa dipastikan t
ADANYA kekhawatiran dari banyak kalangan bahwa penggu-na bahasa Aceh dewasa ini semakin sedikit, tampaknya cukup beralasan. Buktinya, anak-anak muda sekarang terlihat sema-kin enggan menggunakan bahasa daerahnya sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di tempat umum lainnya.
Hal ini diperparah lagi dengan kondisi perkembangan zaman, dimana semua alat-alat digital (digitalisaisi) yang digunakan para remaja bisa dipastikan tidak ada yang menggunakan ba-hasa Aceh. Semua perintah dalam komunikasi digital tersebut menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau bahasa lainnya dari berbagai negara.
Menghadapi kondisi seperti ini tentu saja membuat para re-maja semakin jauh dari bahasa ibunya. Anak-anak sudah tidak memiliki kebanggaan lagi menggunakan bahasa Aceh dalam pergaulannya sehari-hari, bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa bahasa Aceh dianggap bisa menghambat aktivitas ko-munikasi mereka.
Untuk itu, adanya wacana dari anggota DPRK Banda Aceh agar bahasa daerah bisa dihidupkan kembali, termasuk dima-sukkan dalam kurikulum muatan lokal di sekolah, kita nilai su-atu ide yang serius. Artinya, wacana ini jangan dianggap seba-gai ide biasa, melainkan sebuah gagasan ideal yang harus atau wajib diperjuangkan bersama.
Sebelumnya diberitakan, anggota DPRK Banda Aceh, Dr Mus-riadi Aswad, menilai secara umum penggunaan bahasa Aceh mengalami degradasi atau penurunan di tengah masyarakat saat ini. Kondisi ini diperparah dengan generasi milenial yang sudah banyak tidak menggunakan lagi bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari.
"Hal ini dikhawatirkan bahasa Aceh yang merupakan bahasa ibu yang mesti dilestarikan bisa hilang sesuai perkembangan zaman," kata Musriadi kepada Serambi, Kamis (25/4/2024) Musriadi Aswad menyatakan bahwa bahasa adalah identitas, termasuk bahasa Aceh, sehingga penting diselamatkan dengan cara dimasukkan ke kurikulum dan diajarkan kepada anak-anak sekolah. Setidaknya untuk tingkat SD dan SMP saja.
Menurutnya, bahasa Aceh dapat pula di kembangkan mela-lui media massa dan masyarakat. Ia menambahkan, sebenar-nya pelaksanaan pengajaran bahasa daerah sudah termaktub dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 194. Untuk itu, Musriadi mendesak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Ban-da Aceh agar memasukan kurikulum muatan lokal bahasa, khu-susnya bahasa Aceh mulai tingkat dasar hingga menengah.
“Juga perlu dicanangkan hari berbahasa Aceh satu hari da-lam beraktifitas di sekolah, seperti yang diterapkan selama ini yaitu Gerakan Sehari Berbudaya Pasti (Sedati) Aceh di sekolah untuk semua tingkatan di bawah kewenangan Pemerintah Kota Banda Aceh," imbuhnya.
Agar kebijakan ini berjalan dengan baik, maka perlu diatur dengan regulasi atau Peraturah Wali Kota sebagai payung hu-kum dalam pembinaan dan pengembangan bahasa dan budaya Aceh di sekolah. "Sebagai tanggung jawab kebudayaan dan seni, semua se-kolah diwajibkan satu hari dalam satu minggu, guru dan siswa berbicara dengan bahasa Aceh dalam berinteraksi sesama sis-wa maupun dengan guru, dan ada hari berbahasa Aceh disesu-aikan dengan jam pelajaran muatan lokal," demikian Musriadi.
Untuk itu, sekali lagi, kita mendukung penuh seandainya ide atau gagasan ini mendapat respon yang postif dari Pemko Banda Aceh. Sebab, akan sangat sulit suatu budaya akan bisa berkem-bang tanpa adanya dukungan dari pemerintah itu sendiri. Nah?
POJOK
Nasdem dan PKB akhirnya dukung Pemerintah-an Prabowo-Gibran
Apa kata Anies terbukti: Tidak semua orang sang-gup beroposisi…
Pengguna Bahasa Aceh mulai terdegradasi, kata Musriadi Aswad
Kalah pengguna bahasa “Basa-basi” semakin ber-tambah, kan?
Partai pemenang Pemilu didorong usung ketua partai maju ke Pilkada
Bagi yang sudah lolos ke DPR RI sebaiknya tidak “berjudi” ya?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Viral-Teuku-Rassya-Seloroh-Bahasa-Aceh-saat-ke-Serambi-Indonesia-Hana-Peng-Hana-Inong.jpg)