Kupi Beungoh

Laki-laki Aceh Patriarki, Benarkah?

Aceh, sebagai salah satu provinsi di Indonesia, memiliki budaya yang kaya dan unik. Sejarah panjangnya, termasuk masa lalu sebagai pusat perdagangan i

|
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Herman, mahasiswa KPI Ar Raniry. 

Oleh: Herman dan Sidiq Maulana *)

PROVINSI Aceh, yang kaya akan budaya dan sejarahnya, juga memiliki lanskap sosial yang kompleks, terutama dalam hal kesetaraan gender.

Dalam beberapa dekade terakhir, upaya telah dilakukan untuk mengatasi ketidaksetaraan gender di Aceh, tetapi pertanyaan tetap mengemuka: apakah laki-laki Aceh masih memegang kendali dominan dalam ranah domestik, seperti yang dipersepsikan oleh sebagian netizen di media sosial?

Aceh, sebagai salah satu provinsi di Indonesia, memiliki budaya yang kaya dan unik. Sejarah panjangnya, termasuk masa lalu sebagai pusat perdagangan internasional dan pengaruh Islam yang kuat, telah membentuk pola pikir dan norma-norma yang berbeda dari wilayah lain di Indonesia. Khususnya dalam ranah domestik, norma-norma ini sering kali menempatkan laki-laki sebagai pemimpin dan penentu utama dalam keluarga.

Meskipun banyak kemajuan telah dicapai dalam hal kesetaraan gender di seluruh dunia, Aceh masih menghadapi tantangan besar dalam hal ini. Perempuan di Aceh masih dihadapkan pada berbagai hambatan, termasuk akses terhadap pendidikan yang setara, peluang kerja yang adil, dan pengambilan keputusan yang merata dalam rumah tangga. Permasalahan ini tidak hanya berkaitan dengan akses dan kesempatan, tetapi juga dengan norma-norma sosial yang membatasi peran perempuan dalam masyarakat.

Dalam ranah domestik, peran laki-laki Aceh sering kali dipandang sebagai otoritas yang tidak dapat diganggu gugat. Mereka dianggap memiliki kendali atas keputusan-keputusan penting dalam keluarga, seperti keuangan, pendidikan anak-anak, dan bahkan perkawinan. Struktur keluarga yang bersifat patrilineal juga memperkuat pandangan ini, di mana warisan dan kekuasaan turun secara eksklusif kepada laki-laki. Namun, tidak semua laki-laki Aceh memegang pandangan ini.

“Hal seperti itu tidak hanya ada di Aceh, semua daerah pasti terdapat budaya tersebut, hanya saja levelnya berbeda, kita tidak bisa generalisasi hal tersbeut,” ucap Dr Nashriyyah MAg, kepala Pusat Studi Gender Anak UIN Ar-Raniry.

Masih banyak di antara mereka yang sadar akan pentingnya kesetaraan gender dan berusaha untuk membangun hubungan yang setara dengan pasangan mereka.

Ada yang aktif dalam mendukung pendidikan perempuan, mempromosikan partisipasi perempuan dalam kehidupan publik, dan bahkan berbagi tanggung jawab domestik dengan pasangan mereka.

“Dalam keluarga harus dapat membagi tugas, tugas di ranah domestik maupun publik tidak mengenal jenis kelamin, caranya dengan melakukan komunikasi terbuka di situasi yang tepat,” tambahnya.

Suara Netizen

Netizen mengambil peran yang semakin penting dalam menyuarakan pendapat mereka tentang berbagai isu, termasuk kesetaraan gender.

Dalam diskusi online melalui media sosial seperti Instagram, TikTok dan Facebook, banyak netizen yang mengungkapkan pandangan mereka tentang peran laki-laki Aceh dalam ranah domestik.

Beberapa mengamini stereotip yang ada, menggambarkan laki-laki sebagai penguasa mutlak dalam keluarga. Namun, tidak sedikit pula yang menolak pandangan tersebut, menyatakan bahwa perubahan sedang terjadi dan laki-laki Aceh tidak sepenuhnya terikat oleh norma-norma patriarkis.

Untuk mengatasi permasalahan kesetaraan gender di Aceh, diperlukan upaya bersama dari semua pihak. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat secara keseluruhan perlu bekerja sama untuk mengubah pola pikir yang sudah tertanam dalam budaya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved