Kupi Beungoh
Pentingnya Pendidikan dan Kolaborasi Lintas Profesi Kesehatan
Kesenjangan sosial di Indonesia yang signifikan antara dokter dan perawat menyebabkan perdebatan di kalangan tenaga kesehatan.
Oleh Ns. Alfiatur Rahmi, S.Kep *)
Kesenjangan sosial di Indonesia yang signifikan antara dokter dan perawat menyebabkan perdebatan di kalangan tenaga kesehatan.
Menteri Kesehatan Budi Sadikin menegaskan bahwa banyak orang menganggap perawat tidak setara dengan dokter padahal hal tersebut tidak ditemukan di negara lain.
Kesenjangan ini tidak hanya terbatas pada pandangan masyarakat tetapi juga mencakup bidang pendidikan dan praktik kerja.
Pendidikan keperawatan dianggap lebih rendah daripada pendidikan kedokteran dan berpengaruh pada kerja sama dan pemahaman instruksi dalam penanganan pasien.
Apoteker di Indonesia juga menghadapi masalah serupa, Apoteker harus memiliki berbagai keterampilan dalam menjalankan tugas dan peran, namun seringkali tidak mendapatkan pengakuan dan apresiasi yang layak.
Isu tersebut menunjukkan bahwa untuk memastikan hasil perawatan kesehatan yang lebih baik dan pelayanan yang lebih terintegrasi, kerjasama multidisiplin antara dokter, perawat, dan apoteker harus ditingkatkan.
Untuk meningkatkan layanan kesehatan di Aceh, pendidikan interprofesional (IPE) dan kolaborasi interprofesional (IPC) menjadi sangat penting.
Kesuksesan IPE dan IPC bergantung pada norma, kemampuan berkomunikasi, nilai, standar, dan kerja tim, serta nilai yang kuat yang berfungsi sebagai dasar untuk tindakan etis antara profesional.
Kerja sama tim adalah dasar pembentukan tim yang berhasil. Mahasiswa disiplin ilmu kesehatan harus memahami fungsi masing-masing dan cara menggunakan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam situasi dunia nyata.
Selain itu, IPC memainkan peran penting dalam keberhasilan implementasi interprofessional dalam pelayanan kesehatan karena memungkinkan para profesional bekerja sama dalam diagnosis, perencanaan dan tindakan yang menghasilkan pelayanan kesehatan yang lebih luas dan terorganisir.
IPE dan IPC memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan di Aceh dengan membangun kemampuan berkomunikasi yang kuat, pencerahan tentang nilai dan norma dan kerja sama tim yang sinergis.
Hal ini sejalan dengan tujuan menciptakan masyarakat yang sepenuhnya sehat.
IPE dan IPC sebagai dasar pembelajaran dirasa semakin penting dalam pendidikan profesi kesehatan.
IPE dan IPC membutuhkan kerja sama lintas disiplin, tetapi dalam praktiknya sering terjadi kesulitan untuk berkomunikasi dan memahami antara mahasiswa dari program studi yang berbeda.
Mahasiswa Aceh menghadapi banyak masalah saat menerapkan konsep ini. Aceh memiliki perbedaan budaya dan bahasa antara mahasiswa dapat menjadi hambatan utama dalam proses belajar bersama.
Hal ini dapat menyebabkan kerja sama antar profesional menjadi kurang efektif.
Penting untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang menyadari kompleksitas situasi di lapangan, memfasilitasi penerapan konsep IPE dan IPC di lapangan.
Kurikulum pendidikan kadang-kadang tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi nyata, sehingga mahasiswa tidak termotivasi untuk terlibat dalam aktivitas IPE dan IPC.
Institusi pendidikan dan masyarakat harus menyediakan fasilitas, mendidik dan menyebarkan prinsip kerja sama lintas disiplin untuk membantu siswa menghadapi kesulitan.
Fakta dan masalah yang muncul selama pelaksanaan IPE dan IPC di Aceh menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran harus diubah.
Semua pihak harus mendukung sepenuhnya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan keterampilan kolaboratif mahasiswa.
“Sebagai mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Syiah Kuala, saya menyadari bahwa interaksi antara fakultas kesehatan cenderung minim.
Hal ini tercermin dari kurangnya saling mengenal, bahkan setelah melakukan kegiatan bersama.
Kondisi ini menciptakan kesempatan untuk meningkatkan kolaborasi melalui IPE dan IPC.
Penting untuk merangkul perspektif yang berbeda dari fakultas kesehatan lainnya.
Melalui IPE, mahasiswa dapat membangun pemahaman yang holistik terhadap peran dan kontribusi masing-masing disiplin ilmu.
Sehingga diharapkan akan tercipta kesadaran akan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam praktik kesehatan”.
Komitmen terhadap kualitas IPE dan IPC dapat memperkuat hubungan antar fakultas.
Mahasiswa akan terpapar pada beragam sudut pandang dan pendekatan dalam menyelesaikan tantangan kesehatan apabila terlibat dengan dosen dan praktisi kesehatan dari berbagai disiplin ilmu.
Hal ini dapat membantu mengatasi sekat antar fakultas. Penerapan IPE dan IPC yang efektif membutuhkan perencanaan yang matang.
Proses ini melibatkan penyusunan kurikulum yang terintegrasi, penciptaan kesempatan untuk berinteraksi dan penilaian yang menyeluruh terhadap efektivitas kolaborasi.
Dengan demikian, kolaborasi antar fakultas dapat terjalin secara berkelanjutan.
Melalui IPE dan IPC yang berkualitas, mahasiswa dapat mengasah keterampilan komunikasi, kolaborasi dan pemecahan masalah lintas disiplin.
Hal ini akan memberikan bekal yang bernilai dalam dunia kerja kedepannya.
*) PENULIS adalah Ns Alfiatur Rahmi, S.Kep yang merupakan Mahasiswa S2 Fakultas Keperawatan USK, Wakil Pengembangan Internal GEN-A dan Perawat di UKS Fatih Bilingual School.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
Kemudahan Tanpa Tantangan, Jalan Sunyi Menuju Kemunduran Bangsa |
![]() |
---|
Memaknai Kurikulum Cinta dalam Proses Pembelajaran di MTs Harapan Bangsa Aceh Barat |
![]() |
---|
Haul Ke-1 Tu Sop Jeunieb - Warisan Keberanian, Keterbukaan, dan Cinta tak Henti pada Aceh |
![]() |
---|
Bank Syariah Lebih Mahal: Salah Akad atau Salah Praktik? |
![]() |
---|
Ketika Guru Besar Kedokteran Bersatu untuk Indonesia Sehat |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.