Opini

Das Sein dan Das Sollen Calon Gubernur Aceh

Analisis politik biasa sangat jarang menggunakan kerangka “seharusnya”. Yang diperlukan dalam analisis politik (seperti juga analisis sosial-ekonomi)

Editor: mufti
Serambi
Teuku Kemal Fasya, Antropolog politik Universitas Malikussaleh 

Dengan beragam tekanan mereka berhasil menjaga keseimbangan sehingga cukup sukses di tengah sistem multipartai ini. Kredit khusus layak diberikan kepada Nasdem dan PKB yang mendapatkan keuntungan ekor jas menjulang sebagai pengusung Anies-Muhaimin pada Pilpres lalu. Golkar yang menjadi pendukung Prabowo pun tidak tergerus suaranya, penanda kematangan dalam berpolitik sejak Orde Baru.

Untuk ketua partai-partai menengah-kecil seperti Gerindra, PPP, PAN, dan PKS bisa meramaikan untuk bursa calon wakil gubernur. Bahkan Fadhullah (Gerindra), Illiza Sa’aduddin Djamal (PPP), dan Mawardi Ali (PAN) bisa saja menjadi kuda hitam jika memiliki basis koalisi tepat.

Memajukan orang partai dibandingkan “tokoh luar” adalah penguatan infrastruktur demokrasi. Sejak model Pemilu berubah kepada proporsional terbuka dan calon perseorangan memungkinkan maju pada Pilkada, kecenderungan memajukan sosok populer dibandingkan sosok berkeringat di partai politik semakin besar.

Pilihan itu yang menyebabkan partai-partai yang awalnya dibentuk dengan idealisme perubahan dan strategi kader seperti PAN, Gerindra, dan PDIP tak kuasa untuk menolak bursa saham politikus artis dan selebritas untuk masuk. Ternyata artis-artis itu pun berhasil mendapatkan kursi. Faktor kekayaan menyebabkan mereka bisa membiayai politik (political budget cycle) secara mandiri tanpa gila ketika kalah.

Faktor selebritas

Faktor kepopuleran (selebritas) sebenarnya ikut memengaruhi model agregasi politik pada tiga periode Pemilu Indonesia terakhir. Menonjolnya sosok Haji Uma (H Sudirman) dalam demokrasi elektoral di Aceh adalah fenomena tersendiri. Suaranya bahkan lebih besar dibandingkan suara calon presiden di Aceh, adalah dampak lain politik menoleransi selebritas.

Siapa sangka artis yang terkenal konyol dalam film Empang Breuh sebagai ayah Yusniar bisa menjadi pemenang telak, di atas suara calon presiden Jokowi pada Pilpres 2019 dan Prabowo pada 2024.

Fenomena itu tidak baru. Dedi Mizwar, Rano Karno, dan Dede Yusuf sudah lebih dahulu merintis di jalur politik dengan modal artis. Desi Ratna Sari dan Rieke Diyah Pitaloka mekar seiring jalan politik Haji Uma.

Namun, ia tidak aji mumpung. Ia semakin matang sebagai senator, termasuk semakin piawai menyalin dramaturgi politik. Kini namanya semakin digadang-gadang sebagai calon gubernur dari jalur independen.
Sosok populer non-partai lain yang juga telah dilihat masuk bursa calon gubernur adalah Nezar Patria.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika ini juga mulai disebut-sebut bisa menjadi calon gubernur alternatif dengan pengalaman aktivis dan profesionalnya sebagai Pemred The Jakarta Post, Direktur Kelembagaan PT Pos, dan komisaris PT Pegadaian (Persero).

Demikian pula beberapa akademisi yang dianggap bisa menjadi kandidat calon gubernur/wakil gubernur. Kebesaran nama mereka terbantu oleh peran media massa dan netizen.

Dampak selebritas ini memang memberikan pengaruh yang kompleks, apalagi di era revolusi industri informatika dan digital. Warga demokratis (citizen) telah lama bertransformasi menjadi netizen, dan kini telah menjadi sekumpulan “masyarakat” media digital/media sosial berbasis budaya konsumeristik.

Mereka bisa ikut dalam mendukung atau menyerang seseorang dengan selubung algoritma dunia digital, tanpa pikir panjang atau merasa bersalah. Maka tak heran, banyak artis hingga komedian menjadi politikus serius yang “menggelitik” dunia seperti Joseph Estrada, Arnold Schwarzenegger, Donald Trump, dan Volodimir Zelensky.

Akhirnya, beberapa sosok yang tidak sempat diulas panjang di tulisan ini, bukan berarti tidak layak. Minimal kans mereka terdaftar dalam kaleidoskop Pilkada Aceh 2024 sebagai calon wakil gubernur, seperti Darwati A Gani, Nasir Djamil, Prof Samsul Rizal, atau Prof Adjunc Marniati. Menang adalah soal lain.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved