Jurnalisme Warga
Menikmati Keindahan Aceh hingga ke Ujung Barat
Saya adalah salah satu anggota Kelompok Seudati yang beanggotakan 27 orang. Perjalanan ke Sabang ini adalah Modul Nusantara kebinekaan kami yang ke-11
HAIRUN NISA, Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Angkatan 4 Inbound Unmuha Aceh dari Universitas Muhammadiyah Pontianak, melaporkan dari Banda Aceh
Tidak ada yang bisa mengalahkan semangat yang kami rasakan setiap kali tiba hari untuk melaksanakan Modul Nusantara. Ini adalah momen di mana kami—Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Angkatan 4 Inbound Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh—dapat mengenal sekaligus menikmati keindahan dan keasrian alam Aceh.
Dengan semangat menyala, kami sudah sangat siap untuk menyambut kegiatan Modul Nusantara ini dengan tujuan Kota Sabang pada 11 Mei 2024 pagi. Dalam benak saya, sungguh ini merupakan pengalaman luar biasa bagi kami para mahasiswa PMM 4 Unmuha bisa mengunjungi daerah paling ujung barat Indonesia, yakni Titik 0 Indonesia.
Kami yang berjumlah 83 orang harus dibagi ke dalam tiga kelompok Modul Nusantara, yakni Kelompok Ranup Lampuan, Kelompok Saman, dan Kelompok Seudati agar lebih efisien dan teratur.
Saya adalah salah satu anggota Kelompok Seudati yang beanggotakan 27 orang. Perjalanan ke Sabang ini adalah Modul Nusantara kebinekaan kami yang ke-11 dan ke-12 dengan tema menjelajahi tempat-tempat wisata dan kuliner Kota Sabang serta kunjungan ke Monumen Nol Kilometer Indonesia.
Keberangkatan kami ke Sabang di mulai pukul 06.30 WIB dengan menaiki bus dari Unmuha menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Setibanya di pelabuhan, masing-masing kelompok berkumpul untuk dibagikan tiket kapal dan segera masuk kapal feri setelah terdengar intruksi untuk masuk.
Kapal yang kami tumpangi adalah kapal feri ro-ro BRR atau kapal lambat. Sesuai dengan namanya, kapal ini melaju dengan kecepatan rendah. Dengan begitu, kami bisa lebih leluasa menikmati keindahan laut kurang lebih 1 setengah jam sejak pukul 08.00 WIB. Ditambah lagi dengan makanan yang telah disiapkan dan cuaca yang mendukung, tidak begitu cerah dan tidak panas menambah rasa bahagia dan antusias kami di perjalanan kali ini.
Setibanya di Pelabuhan Balohan dan turun dari kapal pada pukul 09.50 WIB, kami sudah ditunggu oleh mobil tur Sabang, yaitu mobil Hiace yang membawa kami keliling Kota Sabang.
Mobil ini sangat nyaman, bisa ditumpangi hingga 12 orang. Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah bungker Jepang di Anoi Itam.
Bungker Jepang ini menjadi saksi bisu dari masa lalu dan merupakan salah satu tempat wisata yang memukau untuk dikunjungi. Tersembunyi di tengah hutan hijau dan masih asri, bungker ini menawarkan kombinasi yang menakjubkan antara sejarah dan keindahan alam.
Dinding-dinding batunya yang berlapis lumut menambah aura misterius, sedangkan pepohonan yang menjulang di sekitarnya menambah nuansa eksotis.
Merenung di sana, Anda bisa membayangkan bagaimana suasana di masa perang dulu, sambil menikmati panorama alam yang menakjubkan.
Kami habiskan waktu di sana kurang lebih 1 jam dan pada pukul 11.00 WIB kami lanjutkan perjalanan ke Taman I Love Sabang, setelah itu mengunjungi Tugu Sabang-Merauke.
Pukul 12.30 tiba waktunya untuk istirahat dan makan siang di Sabang Fair, sembari menikmati keindahan laut dengan embusan angin yang lembut. Rasa penat pun hilang seketika.
Setelah itu, kami singgah di Masjid Agung Babussalam Sabang untuk shalat Zuhur berjemaah. Baru pada pukul 14.00 WIB kami menuju hotel untuk check-in, bersih-bersih, dan persiapan tur selanjutnya di Kota Sabang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/HAIRUN-NISA.jpg)