Salam

Hentikan segera Genosida Gaza

Dimasukkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ke dalam daftar hitam negara-negara yang membahayakan anak-anak di daerah konflik, sebetulnya sudah s

Editor: mufti
Bashar TALEB / AFP
Warga Palestina memeriksa sekolah PBB yang menampung pengungsi yang terkena serangan Israel yang menurut IDF menargetkan anggota Hamas di Nuseirat, di Jalur Gaza tengah, pada 6 Juni 2024. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memborbadir sekolah UNRWA milik PBB di Gaza dengan dalih ada teroris sekitar 20-30 orang, pulahan korban meninggal. 

Dimasukkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ke dalam daftar hitam negara-negara yang membahayakan anak-anak di daerah konflik, sebetulnya sudah sangat menyakitkan bagi Israel. Jika seseorang, sekelompok orang, apalagi sebuah bangsa dimasukkan dalam daftar hitam karena ikut membantai anak-anak dan kaum perempuan, tamatlah sebutan sebagai se-buah bangsa. Karena yang membantai anak-anak tak berdosa itu, pastilah tergolong orang sakit jiwa. Bahkan tak layak dise-but sebagai manusia. Bangsa yang demikian tak pantas hidup berdampingan dengan manusia. Siapa pun yang berdekatan de-ngan mereka akan menimbulkan malapetaka.

Hingga kini hampir 250 hari Israel melakukan serangan yang mema-tikan dan tanpa henti ke Palestina, agresi yang berakibat terbunuhnya puluhan ribu warga sipil. Sebagian besar di antaranya anak-anak. Akan tetapi, masih ada sebagian bangsa yang mengagung-agungkannya, me-nyebut tindakan Israel sebagai aksi ‘bela diri’, masih sesuai dengan Hak Asasi Manusia, dan sederet kalimat pembenaran lainnya.

Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, tak mungkin bisa terus membohongi dunia. Su-dah sangat jelas di depan mata, aksi Israel adalah genosida alias pembantaian besar-besaran secara sistematis. Mungkin Hitler pun, kalau masih hidup, akan iri dengan kekejian yang di-lakukan Israel terhadap Palestina.

Langka terbaru PBB itu sebetulnya belum cukup. Yang harus me-reka lakukan mestinya menghentikan Israel melakukan genosida ber-kelanjutan di Gaza dengan cara apa pun. Duta Besar Palestina untuk PBB menyebutkan, upaya PBB memasukkan Israel sebagai negara pembantai anak-anak belum cukup untuk menghentikan kekejian me-reka. Begitupun dia menyebutnya sebagai langkah penting.

Meski sangat tipis peluang–karena pembantaian terus terja-di, bahkan dengan jumlah korban yang makin lama bertambah banyak--masih ada sedikit waktu bagi lembaga-lembaga interna-sional dan bangsa beradab untuk bertindak cepat. Siapa pun yang membiarkan genosida berkelanjutan menunjukkan bahwa mereka juga bukan bangsa yang beradab.

Menghadapi negara-negara seperti Israel memang agak memu-singkan. Soalnya, beragam kalimat dan kecaman tak mempenga-ruhi sikap mereka. Bahkan putusan sekelas ICJ yang meminta Is-rael menghentika serangan ke Gaza, dianggap angin lalu saja.

Sebelumnya Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres me-nyatakan telah memasukkan Israel ke dalam daftar hitam ne-gara dan organisasi yang membahayakan anak-anak di daerah konflik. Guterres mengatakan telah memberitahukan keputus-an tersebut kepada atase pertahanan Israel di Amerika Serikat, Mayor Jenderal Hidai Zilberman.

Menurut laporan surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, upaya sekuat tenaga Israel telah gagal untuk membujuk Guterres agar tidak memasukkan Israel ke dalam daftar hitam. Televisi Israel, Channel 13, juga melaporkan hal yang sama. Karena itu, Israel akan disebut dalam daftar hitam yang akan dirilis pekan depan sebagai laporan kepada anggota Dewan Keamanan PBB, yang akan membahas laporan tersebut pada 26 Juni.

Bulan lalu, Yedioth Ahronoth melaporkan adanya kekhawatiran besar Israel terhadap keputusan tersebut, menyusul sejumlah pernyataan ke-ras Guterres atas Israel. Sumber yang dikutip warta tersebut menyebut bahwa Sekjen PBB tidak menyukai Israel dan tidak dapat dipengaruhi.

Israel khawatir daftar hitam yang mencantumkan negaranya ter-sebut akan berimbas pada embargo senjata. Harian Israel terse-but juga mencatat salah satu konsekuensi dari daftar hitam ada-lah rusaknya reputasi Israel ketika laporan tersebut direspons komunitas internasional. Namun, tentu saja upaya PBB itu belum cukup. Genosida harus dihentikan segera, sekarang juga!

POJOK

PBB sebut Israel sebagai pembantai anak-anak
Belum cukup menggambarkan kekejian mereka

Separuh kabinet Prabowo-Gibran dari NU
Bentar lagi juga dapat lahan tambang

KPK punya petunjuk keberadaan Harun Masiku
KPK oh KPK

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved