KUPI BEUNGOH
Mengenal Masjid Al-Badar, Perekat Ukhuwah Warga Kota Baru
Cikal bakal masjid Al-Badar bermula tahun 1968. Ketika itu warga komplek Pemerintah Propinsi DI Aceh (bermukim sejak 1957) merampungkan pembangunan
Oleh: Azhar Abdullah Panton *)
Masjid Al-Badar adalah salah satu masjid jamik di Kota Banda Aceh yang berlokasi di Gampong Kota Baru (lebih dikenal Lampineung), Kecamatan Kuta Alam.
Masjid ini berada di depan kantor Gubernur Aceh dan berseberangan dengan Balee Meuseuraya Aceh (gedung pertemuan termegah di Banda Aceh) yang dilalui jalan protokol Panglima Nyak Makam.
Masjid Al-Badar berdiri di atas lahan seluas 5.079 meter persegi yang merupakan hibah dari Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang Pemerintah Aceh).
Luas bangunan masjid 1.068 meter persegi, dan sisa lahan terdiri dari bangunan penunjang, seperti tempat wudhu, toilet/kamar mandi, lahan parkir, Taman Pendidikan Alquran (TPA) dan sarana pendukung lainnya.
Mulanya lahan masjid mencapai satu hektar, namun separuhnya telah dibangun instansi pemerintah dan fasilitas umum lainnya, yaitu Sanggar Kegiatan Belajar (sekarang juga ditempati Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh), Kantor Keuchik Kota Baru, Taman Kanak-kanak (TK) Karyawan, dan Puskesmas Pembantu (sekarang PAUD Al-Hilal).
Letak masjid yang memiliki daya tampung hingga 1200 jamaah ini sangat strategis. Selain mudah diakses, masjid ini memiliki lahan parkir yang luas.
Tidak hanya warga setempat, sebagian warga gampong terdekat seperti Pineung dan Peurada, sehari-harinya juga menjadikan Masjid Al-Badar sebagai rumah ibadahnya.
Baca juga: Halo Dortmund, Kotamu akan Oranye
Bahkan saat jam kerja kantor, jamaah shalat fardhu didominasi oleh aparatur pemerintah, karena letak masjid Al-Badar yang dikelilingi oleh berbagai instansi pemerintah.
Di waktu-waktu tertentu, seperti shalat Jum’at dan shalat hari raya serta malam-malam Ramadhan masjid kebanggaan warga Kota Baru ini selalu disesaki jamaah.
Dari segi arsitektur, masjid yang diarsiteki Ir Masri Sutan Bandaro, Dosen Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala ini merupakan masjid satu kubah tanpa menara.
Kubahnya dilapisi sisik kayu dan bergaya Mughal. Ruang utama masjid ditopang oleh 14 pilar dan berandanya dikelilingi 40 pilar.
Berbeda dengan arsitektur Islam umumnya yang identik dengan hiasan kaligrafi, Masjid Al-Badar tidak mengaplikasikan kaligrafi baik di dinding eksterior maupun interior.
Saat bencana dahsyat gempa bumi dan tsunami melanda Aceh 2004 silam, masjid ini tetap berdiri kokoh dan tidak terjadi pergeseran arah kiblat.
Masjid yang telah terdaftar di Sistem Informasi Masjid (Simas), Kementerian Agama RI dengan ID 01.4.01.19.02.000005 ini termasuk masjid berprestasi di Banda Aceh.
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
| Rumah Sakit Iskandar Muda: Warisan Medis Belanda yang Lestari di Kutaraja |
|
|---|
| Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Masjid-Al-Badar-Gampong-Kota-Baru-Banda-Aceh.jpg)