Kupi Beungoh

Refleksi Sosial dan 'Gol Bunuh Diri'

Menyerang kubu sendiri tidak hanya merusak diri sendiri tetapi juga melemahkan keseluruhan komunitas atau kelompok yang kita miliki.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Wasekjen TASTAFI Sumatera Utara & Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah Aceh, Tgk. Alwy Akbar Al Khalidi, SH., MH 

Oleh: Tgk Alwy Akbar Al Khalidi, SH, MH.

SEHEBAT apapun kita, menyerang kubu sendiri hanya akan jadi pencundang dan dianggap sebagai tindakan dari barisan sakit hati atau anak 'durhaka'.

Berhentilah melakukan itu hanya karena dendam pribadi atau demi mendulang likes, shares, dan tepuk tangan riuh dari para pengikut yang awam dan tidak mengetahui secara mendalam.

Menyerang kubu sendiri tidak hanya merusak diri sendiri tetapi juga melemahkan keseluruhan komunitas atau kelompok yang kita miliki.

Tindakan seperti ini sering kali dilandasi oleh perasaan marah atau kecewa yang tidak tersalurkan dengan cara yang sehat.

Dalam jangka panjang, tindakan semacam itu bisa merusak reputasi dan integritas seseorang.

Memang, media memiliki legitimasi yang sangat kuat di era digital ini.

Siapa pun yang tampil di berbagai platform media dan sedikit pandai merangkai kata, langsung diberi gelar ulama atau minimal ustadz dan ustadzah.

Di media sosial, popularitas sering kali diukur dari jumlah pengikut, like, dan share yang didapat.

Sayangnya, ini tidak selalu mencerminkan kebenaran atau kualitas konten yang disampaikan.

Banyak orang yang kemudian memanfaatkan popularitas ini untuk menyebarkan informasi yang kurang akurat atau bahkan menyesatkan, demi meraih perhatian dan keuntungan pribadi.

Di media, kebenaran dianggap sebagai apa pun yang diucapkan oleh mereka yang sesuai dengan selera netizens.

Bahkan, umpatan dan celaan sering kali datang dari seorang anak muda kepada para pemimpin negeri dan ulama.

Ini merupakan cerminan dari rendahnya literasi media dan kemampuan kritis masyarakat dalam mencerna informasi.

Ketika sebuah opini atau pernyataan menjadi viral, sering kali kita lupa untuk memverifikasi kebenarannya dan malah ikut larut dalam arus popularitas.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved