Konflik Palestina vs Israel
Kabinet Kementerian Israel Rapat Terus-terusan, Bersiap Hadapi Serangan Dahsyat Lebanon dan Iran
Kabinet Kementerian Keamanan (Kemenhan) Israel rapat terus-terusan dalam beberapa hari terakhir, persiapan hadapi serangan dahsyat Lebanon dan Iran.
Penulis: Sara Masroni | Editor: Muhammad Hadi
Dalam dokumen tersebut ditekankan, Iran adalah provokator utama ketidakstabilan regional, pembiayaan, pelatihan, persenjataan, dan pengarahan proksinya.
"Termasuk Hamas dan Jihad Islam Palestina (PIJ) di Gaza, Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak dan Suriah, dan Houthi di Yaman," demikian pernyataan salinan dokumen berbahasa Inggris yang diperoleh The Times of Israel.
Selama sepuluh bulan terakhir, Iran telah melancarkan serangan tanpa henti terhadap Israel dan warga negaranya.
Meluncurkan ratusan rudal dan pesawat nirawak dari wilayahnya dan mengancam akan melancarkan serangan terkoordinasi lebih lanjut dari proksi-proksi ini.
Pihaknya mencatat, serangan berkelanjutan Hizbullah dari Lebanon terhadap Israel yang melibatkan lebih dari 6.500 roket, lebih dari 100 rudal anti-tank, dan ratusan kendaraan udara nirawak.
"Menyebabkan kematian 44 orang dan melukai puluhan orang, termasuk banyak warga sipil," tulis dalam dokumen tersebut
"Ini termasuk 12 anak yang terbunuh akibat serangan roket Hizbullah di desa Druze, Majdal Shams, yang “mewakili garis merah yang tidak dapat diabaikan Israel," sambungnya.
Sementara kelompok pejuang Islam Hizbullah dan Iran sama-sama bersumpah untuk membalas kematian komandan Hizbullah Fuad Shukr yang tewas dalam serangan Israel di Beirut Selasa malam lalu dan kepala Hamas Ismail Haniyeh di Teheran yang tewas dalam ledakan bom di Teheran beberapa jam kemudian.
Israel belum secara terbuka menyatakan atau menyangkal bertanggung jawab atas kematian Haniyeh.
Iran mengancam akan menghukum Israel atas pembunuhan tersebut, dengan memperingatkan bahwa responnya akan lebih keras daripada serangannya pada 13-14 April.
Ketika itu, Iran menembakkan 300 pesawat nirawak dan rudal yang hampir semuanya berhasil dicegat ke Israel sebagai balasan atas dugaan serangan Israel di Suriah yang menewaskan dua jenderal di Korps Garda Revolusi Islam.
Meskipun ada ancaman dari Iran dan Hizbullah, serangan besar lainnya belum juga dilancarkan sampai saat ini.
Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah menegaskan ketidakpastian mengenai tanggal responnya yang merupakan “bagian dari hukuman” bagi Israel.
Di sisi lain, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan pada minggu lalu bahwa Israel "berada pada tingkat kesiapan yang sangat tinggi untuk skenario apa pun, baik secara defensif maupun ofensif."
“Menuntut harga yang sangat mahal untuk setiap tindakan agresi terhadap kami dari front mana pun,” kata Netanyahu.
Sementara Amerika Serikat telah terlibat dalam upaya intensif untuk meredakan konflik, dengan sejumlah pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Washington Post bahwa upaya diplomatik untuk meredakan serangan balasan Iran mungkin berhasil.
Hal itu setelah AS segera mengerahkan pasukannya ke wilayah tersebut, dan menyampaikan pesan kepada Iran yang memperingatkan konsekuensi serius bagi pemerintahan baru Presiden Masoud Pezeshkian.
(Serambinews.com/Sara Masroni)
BACA BERITA SERAMBI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.