Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Ritual Tulak Bala dalam Masyarakat Aceh

Pemberian sesajen yang telah dihias dan dilepaskan ke laut merupakan kegiatan sebelum datang Islam dan bukan dari Syariat Islam.

Tayang:
Editor: mufti
IST
Prof Dr Phil Abdul Manan SAg MSc MA, Guru Besar Antropologi pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh 

Hal ini dilakukan sebagai bentuk perbatasan wilayah sosial yang terletak di bawah kuasa Tuhan. Setan diberikan sesajen yang tidak suci yang berwarna merah, seperti darah, dan sebagainya. Jin diberikan hadiah berwarna putih. Ini dimaksudkan, supaya setan dan jin kembali ke laut. Namun, pada masa sekarang praktik semacam ini tidak ditemukan lagi di desa-desa maupun pantai-pantai di Aceh. Sebab, dianggap tidak relevan serta bertentangan dengan Syariat Islam.

Dari dialektika di atas, dapat disimpulkan sebelum Islam dipahami masyarakat dengan baik dan  kaffah, ritual tolak bala ini memiliki dua dimensi. Pertama, diselenggarakan dengan cara mengirim sesajen ke laut untuk membuang sial. Karena, masyarakat percaya, dari lautlah asal kematian, penyakit dan bencana. Kedua, di saat bersamaan ritual itu bagi pemuda-pemudi dijadikan sebagai ajang saling berkenalan dan memilih calon pasangan untuk dinikahinya. Malah, ada yang menggunakan ajang tolak bala sebagai momen bercinta-cintaan. Bukan menolak bala, justru mendatangkan bala.

Perubahan

Ritual tolak bala di Aceh dan tepi pantai, sudah banyak mengalami perubahan. Ini seiring semakin terbukanya budaya di daerah pesisir dan banyak dipengaruhi budaya para pendatang yang lebih modern nan rasional. Perubahan ini juga terjadi atas dasar kritik dari pihak kaum muda “modernis” dan para ulama. Mereka mengklaim bahwa pemberian sesajen yang diletakkan di atas rakit batang pisang yang telah dihias dan dilepaskan ke laut merupakan kegiatan sebelum datang dan berkembangnya Islam.

Sedangkan kalau pergi ke pantai, sekadar makan-makan, rekreasi atau berwisata, masih bisa ditoleransi. Karena ini berdampak positif. Bisa sebagai ajang melepaskan “kesuntukkan”, refreshing, rileks, setelah lama dan rutin beraktivitas. Selain itu, menjalin rasa kekompakan, dan mempererat silaturahmi. Oleh karena itu, sekarang ini, aspek rekreasi, ngumpul-ngumpul, makan-makan (pajoh-pajoh) saat tolak bala, lebih diutamakan dari pada aspek ritual tolak bala itu sendiri.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved