Salam
Banjir dan Lingkungan Perlu jadi Isu di Pilkada
Banjir juga merendam pemukiman warga di Kabupaten Aceh Selatan yang menyebabkan 87 jiwa dari 29 keluarga mengungsi.
BANJIR kembali melanda sejumlah daerah di Aceh. Di antaranya di Kabupaten Aceh Jaya, yang menyebabkan sebanyak 670 jiwa dari 189 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke sejumlah titik aman dari banjir. Banjir juga merendam pemukiman warga di Kabupaten Aceh Selatan yang menyebabkan 87 jiwa dari 29 keluarga mengungsi.
"Ada tiga desa yang terimbas banjir, tapi yang paling parah di Desa Sapek," kata Kepala BPBK Aceh Jaya, AG Suhadi sebagaimana diberitakan Serambinews.com, Minggu malam (18/8/2024).
Ketinggian air di Gampong Sapek disebutkannya mencapai 30-80 sentimeter dan sudah mulai masuk ke dalam rumah-rumah warga. "Jadi di Desa Sapek rata-rata semua mengungsi, ada yang ke rumah saudara dan juga ada yang ke masjid atau meunasah," tambah AG Suhadi.
Sementara di Aceh Selatan, selain merendam rumah warga, banjir juga menyebabkan dua jembatan penghubung Gampong Raket dan Kecamatan Trumon putus dan ambruk, yakni jembatan Suak Aron dan Sigede. Hal ini menyebabkan akses jalan antara desa dan kecamatan tidak bisa dilalui.
Selain di dua kabupaten itu, banjir juga diberitakan terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Singkil. Hanya saja tidak separah di Aceh Jaya dan Aceh Selatan, banjir hanya sebatas menggenangi badan jalan.
Itu merupakan musibah banjir yang terberitakan dalam dua atau tiga hari terakhir. Nah bila kita melihat dalam sebulan ini, berdasarkan data di website Serambinews.com, Aceh Singkil dan Aceh Selatan sempat beberapa kali mengalami banjir. Banjir juga terjadi di Kabupaten Pidie Jaya yang menyebabkan lima gampong tergenang.
Di sini kita bisa melihat bahwa banjir sudah semakin sering terjadi, dan merata di hampir semua daerah di Aceh. Dan hingga kini, masih belum ada upaya kongkret untuk mengatasinya. Bencana banjir sebenarnya masuk dalam kategori bencana paling merugikan dan merusak. Memang dampak yang ditimbulkan tidak semasif bencana tsunami misalnya, tetapi karena kejadiannya selalu berulang, maka kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan juga menjadi besar.
Banjir juga bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, terutama faktor kerusakan hutan dan lingkungan. Data dari Yayasan Hutan Alam Lingkungan Aceh (HakA), sepanjang tahun 2023, Aceh kehilangan tutupan hutan seluas 8.906 hektare. Pemicunya alih fungsi lahan menjadi hak guna usaha perkebunan, pembukaan ladang, hingga pembangunan infrastruktur.
Banjir itu sendiri merupakan salah satu dampak ekologis dari kerusakan hutan yang terjadi. Dampak ekologis lainnya lainnya adalah longsor, kekeringan, termasuk juga konflik antara satwa dan manusia. Semua bencana itu secara tren, terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Nah, dalam kaitan itu, dalam momen Pilkada 2024 ini, perlu rasanya untuk mengingatkan kembali kepada para bakal calon kepala daerah, terutama bakal calon gubernur Aceh tentang pentingnya upaya mengatasi banjir serta melestarikan hutan dan lingkungan.
Karena untuk mengatasi itu semua, sangat diperlukan keseriusan dan ketegasan dari pemerintah. Memang butuh waktu yang tidak sebentar, tetapi setidaknya kita bisa memulai dari sekarang. Tanpa adanya upaya serius dari Pemerintah, bisa dipastikan ke depannya musibah banjir, kekeringan, dan konflik satwa yang terjadi di Aceh akan semakin parah. Sekarang saatnya kita menagih komitmen serius dari calon kepala daerah untuk lebih memerhatikan hutan dan lingkungan di Aceh.
POJOK
Aceh masih akan dilanda hujan
Alhamdulillah, semoga tidak sampai banjir
PNA dukung Mualem
Itulah politik. Dulu lawan, sekarang kawan
Bulog jasa stabilitas pangan di 79 wilayah
Hehehe... tapi harga pangan naik terus
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/warga-berfoto-di-tengah-banjir-Aceh-Jaya.jpg)