Minggu, 12 April 2026

Kupi Beungoh

Melawan Tirani Pragmatisme: Ulama Sebagai Pertahanan Politik Aceh yang Terancam

Pemisahan ulama dari politik mungkin dijanjikan sebagai solusi profesionalisme, tetapi hal itu berisiko menghapus dimensi moral yang esensial.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Khairul Amri, M.H 

Oleh: Khairul Amri Ismail

DI TENGAH panggung politik Aceh saat ini, kita menghadapi momen krusial yang lebih dari sekadar pilihan elektoral.

Ini adalah pertaruhan terhadap nilai-nilai moral dan spiritual yang akan mengarahkan Aceh di masa depan.

Pilihan antara merangkul ulama seperti Tu Sop atau memilih pendekatan pragmatis adalah ujian sejauh mana kita berkomitmen pada prinsip-prinsip yang telah lama menjadi inti dari identitas kita.

Aceh, sebagai tanah yang kaya akan tradisi keislaman, memerlukan pemimpin yang tidak hanya mengerti teknis pemerintahan tetapi juga mendalam dalam nilai-nilai moral yang membentuk masyarakat kita.

Keterlibatan ulama dalam politik bukan sekadar langkah strategis, tetapi deklarasi tegas bahwa nilai-nilai keislaman akan tetap menjadi landasan keputusan publik.

Ini adalah jaminan bahwa kebijakan akan selaras dengan prinsip keadilan, kebijaksanaan, dan kebajikan—nilai-nilai yang merupakan tiang penyangga kehidupan kita.

Dalam ranah filsafat politik, kekuasaan yang tidak memiliki dasar moral akan mengarah pada ketidakadilan dan penyelewengan.

Ulama, dengan peran mereka sebagai penjaga moral, memainkan fungsi vital dalam memastikan bahwa kekuasaan tetap berfokus pada kepentingan bersama, bukan pada pragmatisme yang dangkal.

Pemisahan ulama dari politik mungkin dijanjikan sebagai solusi profesionalisme, tetapi hal itu berisiko menghapus dimensi moral yang esensial.

Ini adalah ancaman nyata terhadap stabilitas sosial dan kepercayaan publik yang telah lama terjaga.

Ulama seperti Tu Sop bukan hanya membawa pengetahuan agama; mereka menghadirkan hikmah yang diperlukan untuk menghadapi tantangan politik modern.

Mereka adalah penyeimbang yang memastikan bahwa kekuasaan tidak tergelincir ke dalam kesewenang-wenangan, melainkan diorientasikan untuk kebaikan bersama.

Dalam konteks demokrasi sejati, keterlibatan ulama memastikan bahwa kebijakan tidak hanya mencerminkan kepentingan segelintir orang, tetapi aspirasi seluruh masyarakat.

Ini adalah inti dari demokrasi yang berintegritas di mana setiap keputusan politik diukur dengan standar moral yang tinggi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved