KUPI BEUNGOH

Menggagas Aceh Dialogue

Pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024, pada bulan September lalu merupakan salah satu kesempatan untuk menguji kemampuan Aceh

Editor: Zaenal
Facebook/Fahmi M. Nasir
Fahmi M Nasir, Mahasiswa S3 Fakultas Hukum Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM). 

Oleh: Fahmi M. Nasir*)

Pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024, pada bulan September lalu merupakan salah satu kesempatan untuk menguji kemampuan Aceh menyelenggarakan acara besar berskala nasional.

Hajatan besar itu telah pun berakhir dengan baik walaupun sebenarnya banyak sisi penyelenggaraan yang bisa dioptimalkan lagi. 

Kita berharap pemangku kepentingan di Aceh telah melakukan evaluasi untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan yang terjadi ketika menjadi tuan rumah acara olahraga empat tahunan ini.

Sisi-sisi baik yang ditunjukkan selama menjadi tuan rumah itu tentu akan membawa dampak positif jangka panjang bagi Aceh.

Menjadi tuan rumah suatu acara besar ini paling tidak menjadikan Aceh tetap relevan di mata provinsi lain.

Melihat penyelenggaraan PON kali ini membuat saya teringat dengan kisah Malaysia menjadi tuan rumah Commonwealth Games tahun 1998 lalu, dan bagaimana mereka mengekalkan momentum pasca acara tersebut dengan menyelenggarakan berbagai program kelas dunia yang lain di negara jiran tersebut.

Malaysia mencalonkan diri menyelenggarakan ajang olahraga multinasional negara-negara persemakmuran itu untuk mengangkat profil mereka dan menarik sebanyak mungkin delegasi peserta dan para pendukung untuk berpartisipasi dan melihat kemajuan yang telah diraih selama ini.

Kisah ini bisa kita baca dengan rinci pada memoar Tun Mahathir Mohamad berjudul ‘A Doctor in the House’ yang ditulisnya sendiri.

Sasaran utama yang ingin dicapai adalah menunjukkan kemampuan Malaysia dalam menyelenggarakan pesta olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade, dan impak positif lain untuk jangka panjang.

Setelah sukses menjadi tuan rumah Commonwealth Games 1998 itu, berbagai ajang acara olahraga kelas dunia yang lain diselenggarakan di Malaysia yang tentunya semakin mengangkat profil negara itu di mata dunia internasional.

Di antara ajang olahraga lain yang mengangkat profil Malaysia ke dunia internasional adalah ketika masuknya negara itu ke dalam kalender tuan rumah Formula Satu.

Balapan mobil yang paling bergengsi di dunia ini diselenggarakan di Malaysia mulai tahun 1999 – 2017. 

Fakta lain yang sangat menarik, namun jarang diketahui publik, adalah kebijakan Tun Mahathir membentuk satu unit kerja khusus, yang tugasnya menyelenggarakan konferensi internasional, ketika ia menjadi Perdana Menteri tahun 1981.

Tidak heran, jika negara ini kemudian menjadi tuan rumah berbagai konferensi internasional termasuk Pertemuan ke-10 Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada bulan Oktober 2003 di Putrajaya, beberapa minggu sebelum ia mengakhiri jabatannya sebagai Perdana Menteri.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved