KUPI BEUNGOH

Menggagas Aceh Dialogue

Pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024, pada bulan September lalu merupakan salah satu kesempatan untuk menguji kemampuan Aceh

Editor: Zaenal
Facebook/Fahmi M. Nasir
Fahmi M Nasir, Mahasiswa S3 Fakultas Hukum Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM). 

Untuk Keynote Address, forum bisa memilih tokoh-tokoh ternama untuk menyampaikan gagasan mereka. Kalau kita mau menonjolkan sisi perdamaian Aceh dan menjadikan Aceh sebagai ikon perdamaian, mungkin tokoh seperti Presiden Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono ataupun wakilnya ketika itu, M. Jusuf Kalla, layak diberikan kehormatan untuk memaparkan pemikirannya pada edisi perdana Aceh Dialogue.

Jika fokus temanya adalah tentang pembangunan ekonomi regional, tidak salah jika acara ini memberikan kehormatan kepada Presiden Indonesia sekarang ini, Prabowo, untuk menyampaikan pandangannya.

Pada tahun yang berbeda, kesempatan untuk menjadi pembicara kunci ini juga dapat diberikan kepada tokoh-tokoh terkemuka dari luar negeri.

Untuk agenda yang lain, forum juga dapat mengundang para nara sumber dan delegasi dari mancanegara yang terdiri dari berbagai elemen mulai dari pengambil kebijakan, LSM, investor, tokoh industri, tokoh masyarakat, pengusaha, dan akademisi.

Bagaimana caranya agar Aceh Dialogue ini menjadi agenda tahunan di daerah kira?

Forum ini hendaklah dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Aceh, di mana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh menjadi salah satu penyelenggara utama. 

Untuk mitra penyelenggara yang lain, dapat melibatkan berbagai kampus di Aceh ataupun melibatkan entitas lain yang sudah berpengalaman.

Berdasarkan rekam jejak selama ini, pihak International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), yang telah berhasil menyelenggarakan Seminar ICAIOS setiap dua tahun sekali, tentu sangat layak untuk menjadi salah satu mitra kunci Aceh Dialogue. 

Sebagai bagian dari pemikiran untuk menjadikan Aceh relevan, maka tempat penyelenggaraan acara ini bisa dibuat di tempat yang berbeda untuk setiap tahunnya baik di Banda Aceh, Sabang, Takengon, Meulaboh, Sigli, Bireuen, Lhokseumawe, Langsa, dan ibukota kabupaten/kota yang lain.

Bila acara ini dipersiapkan secara matang melalui sinergi dan kolaborasi semua pemangku kepentingan di daerah kita, penulis yakin Aceh Dialogue ini akan menjadi salah satu agenda yang penting dan berpengaruh, minimal di kawasan Asia Tenggara.

Tentunya kondisi ini secara otomatis akan membuat naratif tentang Aceh akan selalu relevan di mata dunia.

 

*) PENULIS adalah penulis buku Isu-Isu Kontemporer Wakaf Indonesia. Email: fahmi78@gmail.com

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi dari setiap artikel menjadi tanggung jawab penuh penulis.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved