Selasa, 2 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Menggugah Harapan di Ladang Cengkeh Aceh

Kenaikan ini, walau mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, memberi secercah harapan bahwa sektor rempah yang sempat surut dapat kembali bangkit.

Tayang:
Editor: Yocerizal
Serambinews.com
Bambang Sukarno Putra, S.TP, M.Si, Dosen di Universitas Syiah Kuala. 

Oleh: Bambang Sukarno Putra, S.TP, M.Si *) 

CENGKEH, rempah yang telah menjadi bagian dari sejarah kejayaan Nusantara, kini kembali menarik perhatian petani dan pemerhati ekonomi lokal. 

Berita dari Sulawesi Utara bahwa harga cengkeh telah menyentuh Rp 100.500 per kilogram, seperti dilansir TribunManado, membawa harapan baru bagi petani cengkeh di sana. 

Kenaikan ini, walau mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, memberi secercah harapan bahwa sektor rempah yang sempat surut dapat kembali bangkit.

Lantas, bagaimana dengan cengkeh Aceh? Provinsi yang dikenal sebagai salah satu penghasil rempah ini juga memiliki sejarah panjang dengan cengkeh. 

Tetapi apa yang terjadi dengan nasib para petani cengkeh Aceh? Apakah mereka juga merasakan dampak dari pergerakan harga yang menguntungkan ini, atau justru tertinggal dalam ketidakpastian?

Kenaikan harga cengkeh di Sulawesi Utara tentu membawa harapan baru. Dengan harga yang kini mencapai Rp 100.500 per kilogram di Gudang Wanea, Kota Manado, petani di sana bisa mengharapkan pendapatan yang lebih baik. 

Bagi petani cengkeh seperti Wahyu dari Minsel, kenaikan ini bukan hanya kabar baik, tapi juga peluang untuk memperbaiki ekonomi keluarga. 

Dalam beberapa waktu terakhir, harga cengkeh memang terbilang stagnan, dan ketika akhirnya bergerak naik, banyak petani yang melihatnya sebagai berkah yang patut disyukuri.

Namun, ini bukanlah pertama kalinya harga cengkeh mengalami kenaikan. Pasar komoditas seperti cengkeh memang terkenal fluktuatif. Harga bisa melonjak tinggi pada satu periode dan terjun bebas pada periode berikutnya. 

Kondisi ini tentu sangat berpengaruh pada kesejahteraan petani, yang selalu berharap harga dapat bertahan di level yang menguntungkan.

Baca juga: China Sepakat Bantu Danai Program Makan Bergizi Gratis Presiden Prabowo

Aceh, yang juga memiliki lahan cengkeh yang subur, menyimpan potensi besar dalam sektor ini. Meski tidak sebesar Sulawesi Utara, produksi cengkeh Aceh telah memberikan kontribusi signifikan dalam komoditas ekspor Indonesia. 

Namun, di tengah potensi tersebut, petani cengkeh Aceh kerap menghadapi tantangan yang tak kalah besar. Mulai dari fluktuasi harga, minimnya akses pasar, hingga kurangnya dukungan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga.

Banyak petani cengkeh di Aceh yang masih mengandalkan metode tradisional dalam mengolah dan mengelola kebun mereka. Meski demikian, hasil panen cengkeh Aceh sebenarnya memiliki kualitas yang sangat baik. 

Pertanyaannya, mengapa cengkeh Aceh belum sepenuhnya bisa bersaing di pasar lokal maupun global? 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved