Breaking News

Opini

Algoritma dan Keshalihan di Dunia Maya

Revolusi industri pertama ditandai dengan ditemukannya mesin uap pada 1780, menandai dunia memasuki era mekanisasi.

Editor: mufti
IST
Mujtahid Anwar, Wakil ketua IKAT bidang dakwah dan penguatan umat 

Mujtahid Anwar, Wakil ketua IKAT bidang dakwah dan penguatan umat

PADA April 2018 presiden Joko Widodo melaunching tagline Making Indonesia 4.0 sebagai roadmap dalam strategi Indonesia menghadapi era revolusi industri 4.0. Jargon tersebut kemudian sering dipakai oleh para pejabat dalam kata-kata sambutan atau dalam penyampaian materi kegiatan-kegiatan pemerintahan. Era revolusi Industri 4.0 itu sendiri merupakan perkembangan revolusi industri yang keempat.

Revolusi industri pertama ditandai dengan ditemukannya mesin uap pada 1780, menandai dunia memasuki era mekanisasi. Revolusi Industri 2.0 ditandai dengan ditemukannya mobil oleh Ford pada 1870, dunia memasuki era demokratisasi transportasi yang mana orang tidak lagi terikat dengan rel kereta api atau kuda. Revolusi industri 3.0 ditandai dengan ditemukannya komputer, dengan demikian dunia memasuki era otomatisasi.

Revolusi industri 4.0 merupakan kelanjutan dari revolusi industri sebelumnya. Salah satu tandanya adalah dengan tersambungnya fisik manusia dengan siber. Sebagai contoh sederhana, jam digital yang terhubung dengan handphone dapat membaca langkah kaki dan detak jantung manusia.

Masyarakat Indonesia secara umum, Aceh secara khusus termasuk ‘’masyarakat terkejut’’, karena tidak melewati semua tahapan perkembangan telekomunikasi. Sebagai gambaran, tidak semua masyarakat Aceh melewati dan menikmati fase telepon umum koin, warung telekomunikasi (wartel), dan  telepon rumah.

Kemudian fase perkembangan telepon genggam atau telepon seluler yang memiliki sifat portabilitas yang memungkinkan perangkat tersebut dibawa ke mana-mana, dari teknologi 1G yang bersifat analog, sampai pada fase 3G, 4G, 5G yang berkembang saat ini. Masyarakat Aceh yang tidak melewati semua fase tersebut tiba-tiba dikejutkan dengan smartphone di tangan mereka. Sehingga sebagian masyarakat Aceh ibarat si puntong meuteumeung jaroe (tidak karuan).

Perkembangan teknologi yang begitu pesat mempermudah masyarakat untuk memiliki perangkat telekomunikasi. Dengan modal satu jutaan, masyarakat sudah dapat memiliki smartphone yang canggih. Namun di sisi lain, minimnya pengetahuan pemakai gawai tersebut tentang teknologi juga berdampak negatif. Salah satunya, mereka tidak tahu untuk membedakan yang mana ranah privat dan publik. Tak jarang masyarakat yang mempublikasikan hal-hal privasi di semua perangkat media sosialnya, seperti identitas pribadi, nomor induk kependudukan dan lain sebagainya yang dapat dimanfaat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk hal-hal yang tidak baik. Oleh karena itu, kepemilikan seseorang terhadap perangkat komunikasi pada saat ini, perlu dibarengi dengan pengetahuan teknologi yang baik, salah satunya adalah pengetahuan mengenai cara kerja algoritma di media sosial.

Algoritma

Seorang lelaki paruh baya yang dihantui dengan isu akhir zaman yang belakangan berkembang pesat di komunitas tertentu, dinasihati oleh sahabatnya untuk tidak larut dalam tontonan dan bacaan yang menyangkut dengan isu-isu akhir zaman. Lelaki tersebut menimpali, bagaimana saya tidak menonton tentang itu, sedangkan setiap saya membuka handphone, video-video tersebut yang menghiasi media sosial saya.

Pengalaman lelaki paruh baya ini menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat kita tidak memahami cara kerja algoritma media sosial. Tidak hanya tentang isu akhir zaman, orang yang punya kecenderungan terhadap olahraga, maka yang disuguhkan tentang olahraga, begitu juga di masa pileg dan pilpres lalu, atau pilkada saat ini, orang yang cenderung pada salah paslon tertentu maka algoritma media sosialnya akan menghadirkan info tersebut secara terus menerus, sehingga kadang-kadang menyebabkan pada serapan info yang tidak berimbang.

Bagi masyarakat yang gagap dengan teknologi, terutama kalangan tua, bisa berdampak sebagai korban dari upaya social media weaponization, berupa penggunaan media sosial untuk penyebaran informasi yang tidak benar dan menebar perpecahan. Maka tak jarang warga satu gampong sudah tidak lagi berinteraksi karena perang informasi dalam satu komunitas di grup Whatsapp gampong.

Pada dasarnya setiap media sosial punya algoritma, seperti Instagram punya kecenderungan sendiri, begitu juga dengan Facebook, Twitter, dan Tik Tok.  Namun, secara sederhana dapat dipahami bahwa seseorang yang menonton sebuah video dengan durasi yang lebih lama di salah satu platform media sosial, maka video tersebut yang akan direkomendasikan secara terus menerus. Selanjutnya, jejak browsing di mesin pencarian seperti di google, isian chat di media sosial, suara telepon dan rekaman audio di smartphone juga dapat membentuk algoritma media sosial seseorang.

Bahkan, saat ini, hal-hal yang masih berada dalam pikiran, dapat membentuk algoritma. Seperti seseorang yang baru saja terbesit di pikirannya untuk membeli motor baru, maka ketika dia membuka media sosial, tiba-tiba lewat di berandanya iklan penjualan motor. Begitulah algoritma terbentuk sebagai salah satu konsekuensi dari ketersambungan antara tubuh manusia dengan siber.

Orang yang tidak memahami bagaimana cara kerja algoritma, bagaimana dia dapat mengelola media sosial dengan baik. Sehingga tidak jarang manusia lebih memilih untuk menatap layar daripada melakukan kegiatan yang produktif, padahal tidak ada yang memberitahu mereka untuk berinteraksi dengan sosial media. Padahal, setiap orang bisa menciptakan algoritma media sosialnya, sehingga dapat meminimalisir manusia diatur oleh mesin.

Semua pakar di setiap disiplin ilmu, tak terkecuali para agamawan harus ikut mengawal masyarakat dengan edukasi tentang kehidupan di era industri 4.0 yang disertai dengan pembentukan society 5.0. Mungkin, jika selama ini para agamawan mengingatkan bahwa seseorang dapat melakukan maksiat atau perbuatan tidak baik yang dimotori oleh nafsu yang ada pada diri manusia dan dorongan syaitan, maka perlu diingatkan juga bahwa manusia dapat melakukan perbuatan yang tidak baik di dunia maya karena dikendalikan oleh algoritma yang dia ciptakan secara tidak sadar. Jangan sampai semua lini kehidupan masyarakat diatur oleh algoritma yang dijalankan oleh mesin, sehingga masyarakat tidak memiliki hubungan yang sehat dengan teknologi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved