Salam

Singkirkan Pejabat Bermental “Impor”

SALAH satu mental kurang baik bangsa ini adalah kebiasaan mengimpor barang apa pun  dari luar negeri.

Editor: mufti
IST
ILUSTRASI -- Barang-barang impor ilegal asal Thailand 

SALAH satu mental kurang baik bangsa ini adalah kebiasaan mengimpor barang apa pun dari luar negeri. Bahkan kadang merasa bangga jika berhasil memperoleh barang dari luar negeri ketimbang produk lokal. Menjadi masalah besar, jika mental seperti ini dimiliki oleh negara melalui sejumlah pejabat pengambil kebijakan. Karena kebijakan ini, rakyat banyaklah yang menderita kerugian. 

Semua diimpor, mulai dari energi, fashion, mobil,  hingga pangan. Padahal, sedari dulu kita disesaki dengan informasi bahwa Republik Indonesia ini teramat kaya. Luas lahan pertanian di Indonesia juga disebut mencapai 70 juta hektare. Alamnya sangat subur, sehingga ‘tongkat’ pun kalau ditanam bisa menjadi tanaman.  Namun ternyata julukan sebagai negeri ‘kaya’ tidak ada makna sama sekali. Beras berjuta-juta ton diimpor dari luar negeri setiap tahun, yang menyebabkan para petani hingga kini tak kunjung sejahtera.  

Maraknya impor pakaian dan alas kaki menyebabkan sejumlah industri tekstil di Indonesia bangkrut. Puluhan ribu orang pun menganggur seketika. Pakaian jadi dari luar negeri yang dijual murah menyebabkan industri tekstil dalam negeri kehilangan pasar. Sementara produk ilegal juga merajalela. Pemerintah seakan menjadi penonton, karena tidak punya kemampuan menemukan solusinya. 

Baru-baru ini, publik juga dihebohkan dengan video viral, yang menunjukkan peternak di Pasuruan, Jawa Timur, membuang ribuan liter susu sapi segar ke sungai. Aksi yang mengejutkan ini memicu reaksi  publik.

Para peternak mengungkapkan kekecewaan mereka karena hasil kerja keras mereka tidak dapat dimanfaatkan dengan semestinya. Tindakan pembuangan susu ini dilakukan sebagai wujud protes terhadap pembatasan kuota pengiriman susu yang diterapkan perusahaan pengolahan susu. Namun ternyata kejadian ini sudah terjadi secara menyeluruh, tidak hanya terjadi di daerah Pasuruan saja.

Ada sejumlah penyebab susu segar peternak tidak jadi pilihan. Di antaranya, negara pengekspor susu seperti Selandia Baru dan Australia manfaatkan perjanjian perdagangan bebas dengan Indonesia, yang menghapus bea masuk produk susu. Sehingga harga produk susu mereka lebih rendah dibandingkan lainnya. Industri pun tak tertarik dengan susu peternak yang butuh pengolahan lebih lanjut dan jadi mahal. 

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan untuk mendukung produksi susu dalam negeri. Ia juga sudah meminta Kementerian Perdagangan untuk mengkaji ulang dan memperketat aturan impor susu.

"Kita sudah minta berkoordinasi dengan Kemendag agar diutamakan produksi dalam negeri. Jika kurang baru impor," ujar Zulhas sesaat setelah peresmian Pasar Natar di Lampung Selatan, dalam keterangan resmi Kemenko Pangan, dikutip Sabtu (16/11/2024).

Ia secara rinci meminta penyerapan susu produksi peternak lokal sebagai syarat bagi Industri untuk impor susu. "Sedang kita godok dengan Kemendag. Nanti itu yang boleh (impor) itu tidak semuanya. Yang boleh impor susu ya pelaku industri yang terlebih dulu menyerap susu hasil peternak lokal sehingga tidak terjadi lagi apa yang di Boyolali," tegas Zulhas.

Terkait isu kualitas susu dalam negeri yang dituding kurang, Zulhas menegaskan pembelaannya. Ia pun meminta agar industri melakukan pembinaan agar ada kualitas yang meningkat. "Kalau (soal) kualitas tidak layak peternaknya dibimbing dong, ya kan," ujarnya.

Sejumlah kementerian memang sudah bergerak membuat sejumlah regulasi, terutama untuk menghentikan penutupan pabrik tekstil, seperti yang diinstruksikan Presiden Prabowo Subianto. Begitu pula dengan susu peternak yang tidak laku, pemerintah sedang berusaha mencari solusinya. Efektif atau tidak upaya dan kebijakan mereka untuk menyelamatkan peternak dan produsen berbagai produk di dalam negeri, memang masih membutuhkan waktu. Namun, korbannya sudah duluan berjatuhan. Kini kita sedang menunggu untuk tidak ada korban-korban lain akibat kebijakan impor yang tidak adil.(*)

 

POJOK

Mahasiswa USK ikut merdeka belajar ke-2 negara 

Mudah-mudahan di kampus sendiri juga bisa merdeka

Penurunan tiket pesawat terus dikaji

Dikaji sesuai dengan kemauan pemilik maskapai, ya?

Polres gelar operasi mantap Praja Seulawah

Setiap kali operasi, mantap memang pak..he..he..

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved