Jumat, 10 April 2026

Opini

Mencegah Kebinasaan Aceh dengan Akhlak Tasawuf

Sebuah peribahasa mengatakan Tegakkan kebenaran walau berat, cegah kebinasaan sebelum terlambat

Editor: mufti
IST
Teuku Zulkhairi 

Dr Teuku Zulkhairi MA, Sekjend Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD)

SAAT ini kita semua harus menerima kenyataan bahwa problem terbesar dalam membangun Aceh adalah terpinggirkannya akhlak tasawuf dalam diskursus pembangunan. Bagaimana membangun Aceh jika akhlak sebagai nilai-nilai dasar telah menjauh dari kehidupan kita? Percayalah, jika hari ini kita melihat budaya iri dengki di kalangan orang berilmu, permusuhan, dendam, saling sikat dan sikut di kalangan politisi, money politic saling caci maki dalam Pilkada atau Pileg, atau hilangnya rasa cinta dan kasih sayang kepada sesama di tengah-tengah masyarakat kita. Maka hal itu adalah konsekuensi logis saat akhlak tasawuf kian menjauh dari kehidupan kita, dimana ini merupakan hasil dari menipisnya kepercayaan kepada Tuhan.

Budaya korupsi, kolusi, nepotisme, tamak, hasad, hilangnya kasih sayang dan kepedulian, serta tindakan saling menghancurkan yang diperagakan saban hari di dunia nyata oleh para elite kita, serta “budaya” caci maki, hilangnya budaya malu alias hana malee lee yang menerpa semua usia, teumeunak dan fitnah yang kian mewarnai jagad media sosial kita orang Aceh – sesungguhnya adalah problem krusial yang menandakan bangsa Aceh sedang berada pada titik nadir yang sangat krusial menuju kehancuran sebagai bangsa.
Sebagaimana ungkapan Penyair Mesir, Syauqi Bey ketika ia mengatakan: “Tegak bangsa karena akhlak, akhlak rusak bangsa binasa”. Lalu, apakah kita sebagai bangsa akan membiarkan kebinasaan ini? Sebuah peribahasa mengatakan: ”Tegakkan kebenaran walau berat, cegah kebinasaan sebelum terlambat."

Sebelum terlambat, apa yang paling krusial untuk kita pahami dan akui adalah bahwa memang kita memiliki problem serius tersebut sebagaimana kita bahas di atas. Penyakit yang kita derita sebagai bangsa barang kali sudah terlalu parah sehingga jalan untuk mengobatinya pun harus lebih serius yaitu jalan yang pernah ditempuh oleh umat Islam di masa terdahulu yang di tangan mereka Islam pernah berjaya, termasuk jalan atau metode yang pernah digunakan oleh ulama-ulama dan penguasa Aceh terdahulu yang di tangan mereka Aceh pernah menjadi kampium kejayaan dan mercusuar Islam di Asia Tenggara. Ya, metode itu adalah kembali ke akhlak tasawuf.

Sesungguhnya, masalah besar yang kita saat ini adalah kita mulai mengabaikan ajaran akhlak tasawuf. Di lembaga-lembaga pendidikan Islam sendiri, pembelajaran tentang tasawuf sering kali kurang diperhatikan, apalagi di lembaga pendidikan umum. Hal ini menyebabkan nilai-nilai spiritual yang seharusnya menjadi landasan moral terpinggirkan sejak awal. Di tengah budaya materialisme dunia yang mendominasi, maka nilai-nilai akhlak mulia semakin terpinggirkan dan semakin sulit ditemukan sehingga muncullah berbagai kerusakan lainnya.

Menarik untuk diingat kembali bahwa pada masa kejayaan Islam formulasi nalar umat Islam saat itu berhasil memadukan semua metode-metode untuk mewujudkan kebangkitan. Seperti di Andalusia, Turki Usmani, dan termasuk di masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam dan sebagainya. Di masa itu, berbagai metode berpikir umat Islam dipadukan menjadi kekuatan yang integratif yang mampu menjadi energi utama dalam membangun. Metode ‘Irfani, yang mengandalkan pendekatan sufistik, berkolaborasi dengan metode bayani (pendekatan tekstual) dan metode burhani (pendekatan rasional).

Sinergi ini menciptakan tradisi ilmiah yang kuat, melahirkan pemikir-pemikir besar dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari filsafat, sains, hingga sastra dan lahirlah kejayaan. Ketiga metode ini bekerja sama, saling melengkapi dan memperkaya pemahaman umat Islam tentang kehidupan. Jadi, pendekatan tasawuf dijadikan sebagai bagian integral dalam pembangunan umat sehingga di tangan mereka umat Islam pernah berjaya.
Maka saya melihat, inilah yang seharusnya kita kembangkan kembali di Aceh, menjadikan akhlak tasawuf sebagai pilar utama dalam pembangunan Aceh. Dalam upaya membumikan akhlak tasawuf di masyarakat, sesungguhnya kita sangat memerlukan langkah-langkah konkret. Kita berharap, lembaga Pendidikan maupun organisasi massa di Aceh perlu memperkuat kaderisasi akhlak tasawuf.

Kurikulum yang mengintegrasikan akhlak tasawuf dengan pelajaran ilmu pengetahuan lainnya akan membantu para generasi muda kita untuk memahami hubungan antara spiritualitas dan kehidupan sehari-hari.
Kita juga berharap agar penggunaan media digital untuk menyebarluaskan nilai-nilai tasawuf dapat menjangkau generasi muda yang lebih terbiasa dengan dunia maya. Konten-konten akhlak tasawuf yang menarik dan inspiratif di platform digital akan membantu menanamkan pemahaman yang lebih baik tentang tasawuf. Stakeholder pemerintah yang terkait harus proaktif di jalan ini.

Nilai spiritual tasawuf

Jalan lainnya, termasuk dengan membudayakan kembali metode praktik Suluk secara lebih massif. Selama ini latihan pembinaan jiwa dengan Suluk ini kita lihat umumnya hanya dilakukan orang-orang tua di kampung-kampung di Aceh di setiap bulan Ramadhan. Padahal pembersihan hati perlu dilakukannya oleh semuanya, apalagi oleh siapapun yang di pundaknya ada amanah untuk membangun negeri, baik kalangan legislatif, eksekutif maupun yudikatif. Juga semua elemen Masyarakat Aceh lainnya. Kita mungkin semua mengtahui latihan-latihan pembinaan hati dan jiwa seperti pelatihan ESQ atau nama-nama lain yang pernah populer.

Pelaksanaan Suluk yang barengi dengan tawajjuh-tawajjuh di dalamnya sesungguhnya bisa menjadi jalan awal perbaikan akhlak. Dan seperti kita pahami, metode suluk dalam pembersihan hati ini ini adalah warisan para ulama terdahulu yang akan sangat bermanfaat bagi kita yang hidup di akhir zaman. Dengan hati yang yang bersih, maka permusuhan akan bisa diminimalisir. Iri, dengki, dendam, hasad, tamak dan berbagai sifat buruk akan bisa dihilangkan.

Pelatihan kepemimpinan berbasis tasawuf juga sangat penting bagi para penguasa dan para pengambil kebijakan lainnya di Aceh. Nilai-nilai spiritual yang diajarkan tasawuf, seperti keadilan, amanah, dan ketulusan, sangat diperlukan dalam menjalankan tanggung jawab mereka. Jika para pemimpin dapat menerapkan akhlak tasawuf dalam kebijakan politik dan tindakan mereka, ini akan menjadi langkah besar menuju kebangkitan Aceh yang bermartabat.

Dengan segala tantangan yang dihadapi Aceh hari ini, menghidupkan kembali akhlak tasawuf bukan hanya pilihan, tetapi keharusan.

Sebagai umat yang meyakini kebenaran akhirat, kita harus sadar bahwa segala kebijakan dan langkah pembangunan yang hanya berfokus pada duniawi akan membawa kehancuran. Keseimbangan antara dunia dan akhirat, yang diajarkan dalam tasawuf, harus menjadi pondasi bagi para pengambil kebijakan. Oleh karena itu, mari kita, sebagai bangsa Aceh, mulai dengan langkah nyata.

Para pemimpin di lembaga eksekutif dan legislatif perlu menjadikan akhlak tasawuf sebagai panduan moral dalam merumuskan kebijakan dan sikap-sikap politik mereka sebagai pribadi atau partai. Di sisi lain, lembaga pendidikan harus kembali mengajarkan dan menunjukkan keteladanan nilai-nilai tasawuf kepada generasi muda, agar mereka tumbuh dengan akhlak yang mulia dan hati yang bersih.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved