Sabtu, 30 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Memanen Ekoenzim di Pesantren Baitul Arqam

Lalu, apa sebenarnya ekoenzim itu? Nah, saya akan ceritakan pengalaman saya dan teman-teman saat pertama kali kami diberi tahu mengenai ekoenzim dan s

Tayang:
Editor: mufti
IST
NABILA ALFATHYA 

Selain pemantauan jamur, kami juga harus mengecek apakah muncul gas yang ditandai dengan menggelembungnya tutup wadah. Jika ada gas, tutup wadah digeser sedikit untuk mengeluarkan udara.

Ekoenzim boleh dipanen setelah tiga bulan. Pada hari panen, kami membuka tutup wadah ekoenzim   dengan   hati   yang   tak   sabaran.   Sebelum   kami   membukanya,   Tim   Pengabdian Masyarakat Unmuha Aceh menyediakan saringan, botol, dan corong untuk digunakan ketika menyalin air tersebut ke dalam wadah lain. Alat-alat tersebut diberikan kepada masing-masing   kelompok.  

Ketika   tutup   wadah   dibuka,   aroma   yang   dikeluarkan   oleh ekoenzim tersebut berbeda-beda, sesuai dengan bahan dasarnya. Aroma yang dihasilkan dari kulit buah dan kulit sayur berbeda. Seperti aroma ekoenzim yang dihasilkan oleh salah satu kelompok putra, aroma ekoenzim yang dicampur dengan buah lebih wangi dari aroma  ekoenzim  yang   di  dalamnya  ada  campuran  sayur.   Walaupun  ada  campuran  sayur  di dalamnya, tetap saja aroma yang dominan atau aroma yang khas dari tiap kelompok, yaitu aroma jeruk yang sangat menyengat.

“Kemungkinan aroma jeruk  yang   dihasilkan   oleh ekoenzim yang  kalian   buat   itu karena lebih   banyak   menggunakan   kulit   jeruk   daripada   kulit   buah   lain,”     kata   Bu   Mutia   Zahara.

Tak hanya aromanya saja yang hampir sama, tetapi warnanya juga. Warna dari ekoenzim yang kami hasilkan dominan berwarna oranye. Baik itu oranye terang maupun oranye pudar. “Mirip   nurdin,   ya,”   kata   salah   satu   teman   saya   yang   menyebut   salah   satu   minuman Nutrisari dingin yang sering disingkat jadi nurdin.

Namun, beberapa di antaranya hampir sewarna dengan capucino susu. Biasanya itu hasil yang terakhir atau ekoenzim yang terakhir disaring.

Kami menyalin ekoenzim tersebut ke dalam botol kemasan 500 ml dan 250 ml yang telah disediakan. Kami juga menggunakan corong dan saringan. Memanen ekoenzim ternyata menyenangkan sekali.

Kami mengambil airnya saja, lalu sisa kulit buah dan sayuran yang sudah difermentasikan tadi disatukan ke dalam ember dan dapat digunakan sebagai pupuk organik.

Ekoenzim dapat digunakan sebagai pembersih kamar mandi, pembersih kaca jendela, sebagai pembersih lantai, dan masih banyak lainnya. Namun, untuk pewangi lantai, sebaiknya harus dicampur dengan campuran lain agar aromanya lebih wangi.

Penggunaan untuk   pembersih   kamar  mandi   dapat dipakai   dengan  perbandingan  1:10.

Ekoenzim   ini   memang   memiliki   sangat   banyak   manfaat,   bahkan   saat   ini   pemerintah   sudah mendukung penggunaan ekoenzim sebagai pembersih limbah di sungai.

Saat ini kami sudah menggunakan ekoenzim ini sebagai pembersih lantai dan pembersih kamar mandi di asrama. Untuk pemakaian pembersih lantai, memang sebaiknya menggunakan pewangi tambahan. Jadi, selain lantainya bersih dari kuman, aromanya juga lebih wangi. Paling penting ekoenzim ini ramah lingkungan dan bisa mengurangi limbah dapur. Apalagi seperti kami yang tinggal di sekolah asrama, biasanya banyak menghasilkan limbah dapur.

Tim Pengabdian Unmuha akan mendampingi kami untuk membuat ekoenzim dari limbah di dapur asrama. Saya sendiri berharap, kelak ketika saya pulang ke rumah, bisa juga mengaplikasikannya di rumah kami.  

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved