Minggu, 3 Mei 2026

Konflik Suriah

Habis Perang Terbitlah Perang, Warga Suriah Kini Dibayangi Serangan Israel: Kami Ingin Perdamaian

"Kami sudah cukup mengalami perang, cukup banyak pertumpahan darah, cukup banyak kehidupan yang keras, kami harus menghentikannya,”

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
rntv/tangkap layar
Pasukan Demokratik Suriah (SDF) menembaki para demonstran yang menentang kendali kelompok yang didukung Amerika Serikat (AS) di Raqqa, Jumat (13/12/2024) 

Habis Perang Terbitlah Perang, Warga Suriah Kini Dibayangi Serangan Israel: Kami Ingin Perdamaian

SERAMBINEWS.COM – Warga Suriah baru saja merayakan kemenangan setelah kelompok pemberontak negara itu menggulingkan rezim Bashar al-Assad.

Namun perayaan itu tak berlangsung lama, sebab Suriah kini harus menghadapi serangan Israel.

Serangan udara Israel, yang diklaim menargetkan kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran, telah menambah penderitaan warga Suriah yang sudah lama mendambakan perdamaian.

Tentara Israel telah menguasai jalan pedesaan menuju desa Hadar di Suriah.

Dua kendaraan militer dan beberapa tentara dengan perlengkapan tempur lengkap menjaga pos pemeriksaan dadakan.

Itu adalah bukti serangan Israel ke wilayah Suriah dan perebutan sementara atas zona penyangga yang dipantau PBB, yang ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata 50 tahun lalu.

"Mungkin mereka akan pergi, mungkin mereka akan tinggal, mungkin mereka akan membuat daerah itu aman lalu pergi," kata Riyad Zaidan, yang tinggal di Hadar. 

"Kami ingin berharap, tetapi kami harus menunggu dan melihat," sambungnya, dikutip dari BBC News.

Kepala desa, Jawdat al-Tawil, menunjuk ke wilayah Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel pada tahun 1967, terlihat jelas dari teras Hadar.

Banyak penduduk di sini memiliki saudara yang masih tinggal di sana.

Kini, mereka melihat pasukan Israel secara rutin bergerak di sekitar desa mereka sendiri, yang sebagian menjorok ke zona demiliterisasi. 

Di lereng di atas, buldoser Israel terlihat bekerja di lereng bukit.

Seminggu setelah rezim Presiden Assad jatuh, rasa kebebasan di sini diwarnai dengan fatalisme.

Jawdat al-Tawil dengan bangga menceritakan bagaimana desanya mempertahankan diri terhadap kelompok milisi selama perang saudara Suriah, dan menunjukkan potret puluhan orang yang tewas saat melakukannya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved