Rabu, 29 April 2026

Jurnalisme Warga

Menghadirkan Industri ‘Hospitality’ di Banda Aceh

Sejujurnya istilah "industri hospitality" saya dengar dari Dr Safrizal MSi, Penjabat Gubernur Aceh pada awal Desember 2024 lalu.

Tayang:
Editor: mufti
For Serambinews.com
Dr TAQWADDIN, S.H., S.E., M.S., Ketua Ikatan Cendekiawan Muslism Indonesia (ICMI) Aceh, melaporkan dari Bogor, Jawa Barat 

(Catatan dari Silaknas ICMI di Bogor)

Dr TAQWADDIN, S.H., S.E., M.S., Ketua Ikatan Cendekiawan Muslism Indonesia (ICMI) Aceh, melaporkan dari Bogor, Jawa Barat

Sejujurnya istilah "industri hospitality" saya dengar dari Dr Safrizal MSi, Penjabat Gubernur Aceh pada awal Desember 2024 lalu. Sebelumnya, istilah ini asing bagi saya. Harap dimaklumi karena jika diterjemahkan secara litterlijk atau perkataan, maka kesannya seperti industri rumah sakit, padahal bukan.

Setelah Pak Safrizal menjelaskan panjang lebar tentang yang beliau maksudkan dengan industri hospitality, barulah saya paham dan saya sangat setuju.

“Pak Taqwa, kita di Aceh ni berat bersaing dengan provinsi sebelah. Kita masih banyak kendala dan hambatan jika bersaing dalam bidang industri manufactoring dengan mereka. Payah kita menghadirkan para investor untuk membangun berbagai macam pabrik di Aceh. Maka saya pikir, industri hospitality adalah bisnis yang tepat dikembangkan di Aceh. Dalam bidang ini kita unggul,” kta Dr Safrizal, Pj Gubernur Aceh yang mertuanya adalah guru saya.

Industri hospitality adalah usaha yang bergerak di bidang keramahtamahan dan pelayanan. Kita memiliki adat budaya "peumulia jamee" yang bisa dieksplorasi untuk menghadirkan berbagai industri pariwisata.

Alam Aceh luar biasa indahnya. Pantainya yang putih berpasir lembut di Lampuuk, Lhoknga, dan sepanjang pesisir barat selatan Aceh, tak terkecuai di Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil.

Gunungnya menghijau dengan iklim yang sejuk dingin di Dataran Tinggi Gayo. Ditambah lagi dengan aneka ragam minuman dan makanan Aceh yang enak dan enak sekali, serta dukungan kuat dari keterbukaan dan keramahan orang-orang Aceh. Semua ini adalah modal utama Aceh untuk industri hospitality.

Apalagi situasi keamanan dan ketertiban yang dalam dua dasawarsa terakhir sudah benar-benar kondusif. Maka, industri hospitality di Banda Aceh layak bersanding dengan daerah-daerah lain, seperti Bali, Lombok, dan Banyuwangi. Dalam hal ini kita bisa mengalahkan provinsi tetangga.

“Makanya Pak Taqwa, selama saya sebagai Pj Gubernur Aceh paling sering mengadakan event-event  nasional, bahkan internasional di Banda Aceh. supaya apa? Supaya banyak orang datang ke Aceh, membawa uang dan membelanjakan uangnya di Aceh. Hal ini penting agar ekonomi Aceh bergerak, agar bisnis perhotelan, transportasi, sovenir, kuliner, dan bisnis terkait lainnya hidup bergairah di Aceh. Meunan Pak Taqwa,” kata Safrizal, yang masih penjabat tinggi di Kemendagri ini.

Saya dan beberapa teman yang hadir dalam pertemuan di Hotel Hermes Banda Aceh saat itu manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Safrizal. Dalam hati saya, "Ini orang makin kelihatan pintar dan berwawasan luas setelah menjadi Penjabat Gubernur Kalimantan Selatan dan Penjabat Gubernur Bangka Belitung. Ini layak menjadi Gubernur Aceh masa depan.".

Minggu lalu saya menghadiri acara Tanwir Muhammadiyah di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Acara ini dihadiri oleh Presiden Prabowo dan lebih dari setengah menteri Kabinet Merah Putih. Dengar-dengar, uang beredar dalam perhelatan Muhammadiyah itu puluhan miliar rupiah.

Wali Kota Kupang dan warga Kupang yang saya temui, termasuk penjual ikan bakar dan penjual sovenir di Pasar Solor, senangnya bukan main dengan kehadiran kami yang berbelanja di lapak mereka.

Berkali-kali mereka ucapkan terima kasih kepada Muhammadiyah sudah buat acara di kota mereka. Atas dasar ini, baru saya paham pantaslah ada enam pimpinan wilayah Muhammadiyah (PWM) yang menyampaikan hasrat secara terbuka agar tanwir tahun depan dibuat di provinsi mereka saja.

Kali ini, Jumat, Sabtu, dan Mingggu, 13-15 Desember 2024, saya bersama 23 personel pengurus ICMI dari Aceh hadir di Bogor untuk mengikuti Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI.

Agenda Silaknas ini dimaksudkan untuk saling menyampaikan laporan kerja tahunan, baik oleh Majelis Pengurus Pusat (MPP), Badan Organisasi Otonom (Batom), maupun oleh Majelis Pengurus Wilayah (MPW) ICMI.

Saya selaku Ketua MPW ICMI Aceh bersama para personel pengurus wilayah dan pengurus daerah ICMI kabupaten/kota berangkat ke Bogor 23 orang. Rata-rata per provinsi mengirimkan 20-an orang. Ditambah dengan peserta organisasi daerah (Orda) yang datang dari berbagai daerah kabupaten/kota, maka total peserta yang hadir pada acara Silaknas ICMI di Bogor ini mencapai 1500-an orang.

Dengan jumlah orang yang hadir 1.500 orang yang harus membayar kontribusi wajib kepada panitia guna membiayai akomodasi sebanyak Rp2.500.000 per orang. Belum lagi ongkos penerbangan, transportasi lokal, pengeluaran masing-masing pribadi selama di Bogor. Maka, taksiran saya, dalam tiga hari itu uang yang mengalir dari peserta ke acara seperti ini bisa mencapai miliaran rupiah.

Berangkat dari dua pengalaman di atas dalam dua minggu ini, saya terpikir kembali, benar juga apa yang dikatakan oleh Dr Safrizal pada awal Desember lalu di Hotel Hermes Banda Aceh. Bahwa industri hospitality juga akan mendatangkan  miliaran rupiah kepada kita. Apalagi beliau ungkapkan hal itu di depan 23 kapolres dan juga di depan 23 orang kepala kantor pertanahan se- Aceh. Yang tentu saja mereka hadir ke Banda Aceh dengan membawa sopir dan bawahannya.

Acara seperti ini saja sudah menghadirkan orang ke Banda Aceh 200-orang. Mungkin saja semua mereka berbelanja kebutuhannya selama berada di Banda Aceh. Ini jika dirupiahkan bisa mencapai ratusan juta. Belum lagi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh penyelenggara kegiatan.

Dari perhitungan menghadiri pertemuan di  Banda Aceh, Kupang, dan  Bogor selama Desember 2024 ini saya perkirakan uang masuk ke daerah-daerah tempat acara itu digelar mencapai belasan miliar rupiah. Wah, ini lahan bisnis yang patut kita kembangkan.

Tahun lalu, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan sopir taksi di Bangkok, Thailand. Dia muslim dan berasal dari Naritya, Thailand Selatan. Saya memulai pembicaraan, "Thailand semakin maju iya, berbeda dengan beberapa tahun lalu. Apa sumber utama pendapatan Thailand?”

Dengan ramah dan akrab dalam bahasa Melayu, dia jawab, "Pendapatan utama kami dari industri pariwisata, Pak. Kami tidak banyak industri manufacturing. Andalan kami hanya pariwisata saja."

Jawaban senada juga saya dengar dari pemandu wisata di Vollendam dan Kukenhauf pada April 2018 di Belanda. Negara kecil yang sangat bersih dan tertib ini juga mengandalkan industri pariwisata sebagai sumber utama pemasukan negara mereka.

Belanda adalah negara kecil yang dengan pelayanan kereta api cepatnya yang bagus dan nyaman, kita bisa keliling negara ini dalam waktu satu hari. Benar-benar hospitality.

Catatan ini secara naratif membuktikan bahwa industri hospitality dalam bisnis pariwisata benar-benar dapat memberikan pendapatan yang nyata bagi warga setempat. Karenanya, saya sarankan agar usaha-usaha di bidang pariwisata di Aceh, utamanya di Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang, dan Aceh Tengah terus dikembagkan dan ditingkatkan mutu pelayanannya.

Semoga dengan diangkatnya Almuniza Kamal MSi, Kadis Budpar Aceh sebagai Pj Wali Kota Banda Aceh, maka industri hospitality yang mengandalkan keramahtamahan dan pelayanan yang baik dalam bisnis pariwisata semakin berkembang di Banda Aceh. Insyaallah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved