20 Tahun Tsunami Aceh

Kisah Penyintas Tsunami Aceh, Dikejar Gelombang Hitam, dan Cerita Aneh si Pus

Saat kaki kami menginjak anak tangga yang ketiga, sejurus itu pula lidah air dari berbagai penjuru menjilat lantai masjid disusul suara dentuman keras

|
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Penampakan Masjid Darul Makmur Gampong Lambaro Skep, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh 10 hari pascabencana tsunami 26 Desember 2004. Di atas kubah masjid itulah (tanda lingkaran) puluhan warga menyelamatkan diri saat gelombang tsunami menerjang. (Insert: Ansari Hasyim). 

"Dari kejauhan satu kilometer jaraknya, saya masih bisa melihat satu per satu atap rumah beterbangan ke udara seperti kapas ditiup angin, hancur lebur dilumat gelombang raksasa itu."

Kisah ini dituturkan ANSARI HASYIM. Saat peristiwa tsunami 26 Desember 2004, ia adalah seorang mahasiswa semester akhir di jurusan KPI IAIN Ar-Raniry yang kini berubah status menjadi UIN. Pada 17 Januari 2005 Ansari memilih menjadi jurnalis di Harian Rakyat Aceh dalam suasana pengungsian ketika itu. Pada 2008 ia kemudian pindah ke Harian Serambi Indonesia hingga sekarang. Sehari-hari ia menjadi editor Serambinews.com dan mengasuh rubrik OPINI Harian Serambi Indonesia. Kisah ini ditulis sebagai pengingat, agar tragedi mahadahsyat ini menjadi memori kolektif yang tidak mudah dilupakan begitu saja baik oleh para penyintas maupun generasi mendatang.

                                                               *  *  *

MINGGU pagi 26 Desember 2004. Seperti biasa, pagi itu saya duduk di warung kopi kampung sambil membaca surat kabar yang baru saja diantar loper.

Layaknya warga lain, saya memesan segelas teh dan mengambil beberapa potong kue.

Suasana kedai kopi hari itu terlihat ramai.

Jalan di depan warung juga terlihat padat dilalui kendaraan bermotor.

Aktivitas warga desa Lambaro Skep, berjalan seperti biasa.

Di sebelah timur saya melihat matahari baru saja naik memancarkan cahayanya menerangi alam semesta.

Suasana alam begitu tenang nyaris tak ada angin yang melambai pepohonan.

Saya melanjutkan membaca koran. Saat itu isu politik konflik GAM dan Pemerintah RI masih mewarnai halaman surat kabar.

Saat sedang membuka halaman koran, saya merasakan kursi dan meja tempat saya duduk bergerak tiba-tiba.

Semakin lama-semakin kuat, sehingga membuat saya merasa ada sesuatu yang sedang terjadi.

Jarum jam di dinding warung menunjukkan pukul 07.58 WIB.

Beberapa detik kemudian, tanah yang saya injak berguncang hebat. Saya menengadahkan kepala.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved