20 Tahun Tsunami Aceh

Kisah Penyintas Tsunami Aceh, Dikejar Gelombang Hitam, dan Cerita Aneh si Pus

Saat kaki kami menginjak anak tangga yang ketiga, sejurus itu pula lidah air dari berbagai penjuru menjilat lantai masjid disusul suara dentuman keras

|
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Penampakan Masjid Darul Makmur Gampong Lambaro Skep, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh 10 hari pascabencana tsunami 26 Desember 2004. Di atas kubah masjid itulah (tanda lingkaran) puluhan warga menyelamatkan diri saat gelombang tsunami menerjang. (Insert: Ansari Hasyim). 

Saya kemudian memilih duduk, karena tak sanggup lagi berdiri sampai akhirnya gempa reda dengan sendirinya.

Saya melihat di sekeliling. Ternyata warga lain juga ikut berlarian ke lapangan bola saat gempa terjadi.

Kami saling berpandangan tanpa berkata-kata. Semuanya diam. Semuanya seperti bengong. Mereka-reka apa yang sebenarnya terjadi.

Saya teringat keadaan ibu, bapak, adik dan keluarga lain di rumah.

Bergegas mengambil keputusan untuk pulang.

Sepanjang jalan saya melihat banyak warga berdiri di depan rumah mereka.

Sedangkan rumah saya terpaut sekitar 150 meter dari lapangan itu.

Beberapa rumah terlihat dalam kondisi miring dan retak-retak akibat gempa.

Banyak warga yang juga berdiri di pinggir jalan.

Mereka saling bertanya, tentang apa yang sesungguhnya terjadi.

Setiba di rumah, saya melihat semua anggota keluarga sudah berkumpul di luar.

Mereka tak berani masuk dalam rumah karena takut ada gempa susulan.

Tapi saya berkeras hati, bersama ibu memberanikan diri masuk.

Banyak perabotan dalam rumah sudah berantakan.

Ada yang jatuh, miring, gelas-gelas pecah karena terjun dari lemari termasuk satu televisi ikut jatuh ke atas kursi, tapi tidak pecah.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved