20 Tahun Tsunami Aceh
Kisah Penyintas Tsunami Aceh, Dikejar Gelombang Hitam, dan Cerita Aneh si Pus
Saat kaki kami menginjak anak tangga yang ketiga, sejurus itu pula lidah air dari berbagai penjuru menjilat lantai masjid disusul suara dentuman keras
Saya membantu ibu membereskan semua barang-barang yang pecah untuk dibuang keluar.
Sedangkan kondisi rumah tidak ada kerusakan berarti.
Air laut naik, orang-orang panik berlarian
Setelah saya memastikan semuanya beres, saya pamit pada ibu untuk pergi ke toko.
Kebetulan saat itu saya menjabat sebagai wakil ketua Remaja Masjid Darul Makmur Desa Lambaro Skep.
Bersama teman-teman di organisasi, kami mengelola satu toko alat tulis dan jasa mengetik dan print komputer.
Ruko tersebut terletak di pinggir jalan, atau depan Lorong Bak Panah, sekitar 200 meter dari rumah saya.
Saya membuka pintu ruko, dan mendapati banyak barang dalam ruko yang jatuh, termasuk sebuah lemari kaca sudah dalam kondisi miring.
Lalu membereskan semuanya barang yang jatuh dan membetulkan lemari yang miring.
Belakangan beberapa teman saya, anggota remaja masjid juga datang ikut membantu.
Di saat kami sibuk membetulkan semua barang dalam ruko, tiba-tiba saya mendengar deru sepeda motor, becak dan mobil yang melintas begitu padat di depan jalan ruko.
Mereka membunyikan klakson bersahut-sahutan.
Dalam sekejap jalanan sudah penuh, sesak dengan kendaraan hingga membuat macet. Saya penasaran. Apa gerangan yang terjadi.
Sejurus kemudian saya juga melihat ada warga dengan pakaian seadanya berlari keluar dari segala penjuru lorong.
Wajah mereka diliputi ketakutan.
Ada anak yang digendong ibunya, ada bocah yang mencari orang tua, menangis dan tak tahu arah. Suasana serba kacau.
Ada pula wanita lanjut usia yang tergopoh-gopoh berjalan mengikuti arus warga yang berlarian.
Mereka bingung tidak tahu mau lari ke mana. Semuanya panik. Saya semakin penasaran. Apa sebetulnya yang terjadi.
Lagi-lagi saya menyaksikan beberapa lelaki berlarian penuh ketakutan.
Ada juga yang membawa kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sambil jalan mereka berteriak, "Air laut naik...air laut naik..." Saya masih tidak ngeh.
Apa betul ada air laut naik ke daratan?
Karena belum pernah ada kejadian, air laut naik hingga membuat semua orang begitu panik.
Betul-betul sebuah pemandangan yang aneh.
Tsunami datang Menerjang menghantam apa saja
Setelah menyaksikan orang-orang berlari panik karena air laut naik, saya akhirnya memilih menutup ruko.
Sekonyong-konyong kemudian saya teringat ibu, bapak, abang, adik, kakak ipar dan anggota keluarga lainnya yang masih berada di rumah.
Tak pikir panjang lagi, saya pulang dengan mengayuh sepeda sekuat tenaga.
Sepanjang jalan saya melihat warga sudah berlarian keluar dari rumah mereka, jalan-jalan lorong juga sudah dipadati kendaraan.
Saya hentikan laju sepeda karena tak mungkin berhasil melawan arus dengan warga yang berlarian keluar dari rumah.
Tepat di depan warung kopi Sabirin, tempat pertama kali merasakan guncangan gempa, saya campakkan sepeda di pinggir jalan.
Suasana kian terasa panik.
Teriakan-teriakan warga "Air laut naik...air laut naik...Lari..lari.." kembali terdengar.
Belum lagi sampai di rumah, saya bertemu dengan ibu di jalan, dipapah adik saya Riska Ramadhani.
Sedangkan yang lainnya abang, kakak ipar dan bapak menggendong cucunya yang masih kecil terus berlari.
Ibu yang saat itu dalam keadaan sakit, hampir terjatuh, hingga membuatnya tak bisa berjalan. Kami berdua si bungsu menuntun ibu sekuat tenaga.
Di saat bertemu ibu inilah, saya melihat pemandangan mengerikan.
Dari arah belakang rumah, saya menyaksikan gelombang air laut yang berasal dari laut Syiah Kuala mulai menuju ke arah kami.
Wujudnya seperti awan hitam bergerak cepat diselimuti langit yang mendung.
Dari kejauhan satu kilometer jaraknya, saya masih bisa melihat satu per satu atap rumah beterbangan ke udara seperti kapas ditiup angin, hancur lebur dilumat gelombang raksasa itu.
Sejauh mata memandang, saya bisa memastikan, semua rumah yang disapu gelombang berada di Desa Diwai Makam, sebuah dusun yang dikeliling tambak di Kecamatan Kuta Alam, dan hanya berjarak sekitar satu kilometer dari laut Syiah Kuala.
Semuanya tidak tersisa.
Pohon bakau, dan kelapa yang semula bisa terlihat dari tempat saya berdiri, kini sudah tidak tampak lagi.
Daratan sudah berganti dengan lautan dengan airnya yang hitam pekat yang makin lama semakin mendekat ke arah saya dan warga lainnya yang tengah berlarian.
Setelah melumat habis rumah warga di Diwai Makam, gelombang raksasa itu kemudian melewati hamparan tambak, sehingga saya dapat melihat dengan jelas pergerakannya.
Di tengah jalan, ibu saya Adawiyah, merasa sudah kelelahan.
Ibu minta berhenti. Ia meminta saya dan si bungsu agar terus berlari, dan tidak perlu memikirkannya.
Dengan suara terengah, ia meminta kami meninggalkannya di jalan.
"Mak bah di sino mantong, awak kah kajak laju. (Mamak biar di sini saja, kalian pergi terus)."
Karena ibu khawatir kalau kami masih memapahnya akan memperlambat usaha kami untuk menyelamatkan diri.
Sementara air laut yang mengejar kami semakin dekat disusul suara gemuruh yang semakin lama semakin kuat terdengar.
Saya tak tega membiarkan ibu sendiri di tepi jalan.
Sekuat tenaga yang ada, kami memapah ibu.
Saya spontan teringat, ibu akan kami bawa ke masjid saja.
Karena bangunan yang paling aman dan terdekat saat itu adalah masjid.
Saya pikir jarak antara kami dengan masjid hanya terpaut sekitar 30 meter lagi.
Saya harus memapah ibu sampai ke masjid.
Kini, suara gemuruh gelombang yang tertiup angin semakin dekat terdengar di telinga seperti ingin menabrak kami dari belakang.
Alhasil, saya, ibu, dan adik berhasil mencapai Masjid Darul Makmur, Lambaro Skep.
Disapu gelombang hitam
Saya menuntun ibu naik ke lantai dua.
Saat kaki kami menginjak anak tangga yang ketiga, sejurus itu pula lidah air dari berbagai penjuru menjilat lantai masjid disusul suara dentuman keras terdengar bersahutan.
Suara itu berasal dari dinding-dinding beton yang dihantam air dengan kekuatan yang amat dahsyat.
Pada saat bersamaan, air laut dalam wujud hitam pekat itu juga membawa berton-ton material.
Dalam sekejap mata, air sudah memenuhi ruangan lantai satu masjid dengan ketinggian 4 hingga 6 meter. Berputar-putar seperti diblender.
Kami sempat berpapasan dengan warga yang sudah lebih dulu naik ke lantai dua masjid, tapi kemudian mereka memilih turun lagi.
Saat itu ada yang berteriak, masjid akan runtuh..., masjid akan runtuh...Sehingga banyak warga yang tidak selamat karena memilih turun dari masjid, dan akhirnya mereka disapu gelombang.
Sedangkan saya, ibu dan adik bersikeras tetap naik ke lantai dua, dan akhirnya memang terbukti masjid tidak runtuh meskipun gempa masih terjadi saat air laut menghantam dinding masjid dan bangunan di sekitarnya.
Sesampai di atas lantai dua kami berkumpul kembali.
Rupanya anggota keluarga saya yang tadi lebih dulu lari juga ikut naik ke lantai dua masjid.
Tapi ada satu yang kurang. Setelah saya melihat-lihat, ternyata kakak saya Erawati dan suaminya tidak bersama kami di lantai dua.
Kami terpisah. Sekeluarga gundah. Tidak ada kabar sama sekali.
Orang-orang juga tidak melihat mereka.
Lalu kami saling mendoakan semoga Allah swt menyelamatkan mereka berdua. Apalagi keduanya baru saja menikah.
Namun rasa gundah dan gelisah itu kami simpan dalam hati masing-masing.
Sebab nasib kami sekeluarga di atas lantai dua masjid juga belum sepenuhnya aman.
Berkali-kali gempa mengguncang, membuat bangunan masjid terasa bergoyang hebat.
Kami khawatir masjid runtuh yang membuat keadaan semakin buruk. Kami hanya bisa berdoa dan berzikir.
Selain kami sekeluarga, ada sekitar puluhan warga lain yang juga ikut naik ke lantai dua masjid.
Beberapa di antara mereka berlumur lumpur. Saya pikir mereka adalah korban yang selamat dari gulungan gelombang laut.
Tak jauh dari masjid, saya juga melihat seorang ibu dan balita terjebak di atas atap sebuah rumah dalam kondisi kedinginan.
Logika saya tak bisa menjawab, bagaimana bisa ibu dan anak balita itu berada di atas atap rumah. Keduanya selamat.
Kami yang berada di lantai dua masjid melemparkan satu kain sarung untuk menyelimuti anaknya yang kedinginan.
Di atas lantai dua masjid saya juga melihat ada seorang wanita paruh baya dalam kondisi sekarat.
Diketahui ibu tersebut terminum banyak air laut yang hitam pekat.
Allah swt kemudian berkehendak lain, ibu itu akhirnya meninggal di depan kami.
Itulah korban yang pertama saya lihat.
Di tengah ratapan kesedihan itu, tiba-tiba terdengar orang-orang berteriak air laut naik lagi.
Kini, hampir menyentuh lantai dua masjid. Semuanya kembali panik.
Menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan
Dalam suasana gundah, saya berusaha menenangkan diri dan berpikir bagaimana jika seandainya air laut benar-benar menyentuh lantai dua masjid.
Akhirnya timbul ide. Saya mengajak teman yang senasib, namanya Ustaz Mulyadi yang juga ketua remaja masjid.
Kami mencari tangga, dan dengan tangga tersebut, kami mengevakuasi semua warga di lantai dua naik ke atap masjid, dekat dengan kubah.
Kami dahulukan anak-anak dan perempuan baru kemudian laki-laki. Sekitar 50 orang berhasil kami evakuasi naik ke atap masjid.
Selebihnya memilih bertahan di lantai dua. Saya dan orang-orang kemudian duduk mengitari pinggiran kubah di puncak masjid.
Sejauh mata memandang wilayah pesisir Banda Aceh seperti Gampong Deyah Raya di Syiah Kuala, Alue Naga, Tibang, Lampulo, Lamdingin, Lingke, Ulee Lheue, Gampong Jawa dan wilayah pesisir Baet, Kajhu, semuanya sudah menjadi lautan.
Saya tidak bisa membedakan lagi mana batas wilayah. Saya juga menyaksikan beberapa kali air laut surut lalu disusul gelombang laut yang lebih tinggi menerjang daratan, dengan memuntahkan berton-ton material.
Cerita yang lebih miris lagi, dari atas masjid saya melihat ada seorang gadis setengah telanjang terjebak dalam puing-puing kayu, seng, dan beton yang terbawa air.
Tubuhnya tak berdaya. Tapi ia terus berusaha untuk keluar dari puing-puing itu. Tapi nahas, gelombang laut yang datang berikutnya memupuskan harapannya. Gadis itu hilang digulung ombak yang datang lebih tinggi dari dua gelombang sebelumnya.
Sedih dan merasa bersalah. Saya tak punya kuasa untuk menolongnya.
Sekitar empat jam kami berada di atas puncak masjid dan dengan mata telanjang dan pasrah kami menyaksikan detik demi detik peristiwa yang maha dahsyat itu terjadi dari atas ketinggian atap masjid.
Saat itu saya sempat berpikir, kalau seandainya saja masjid ini runtuh, saya memutuskan untuk lebih dulu melompat. Tapi akhirnya saya sadar, ide itu sebuah kekonyolan saya berpikir.
Di bawah air yang menutupinya, ternyata banyak puing bangunan, seng dan benda tajam lainnya yang bisa melukai saya. Untung saja saya tidak jadi melompat.
Setelah lima jam berada di atas masjid, air yang menggenangi desa setinggi 4-6 meter kembali surut dengan menyedot semua puing-puing kembali ke laut, dengan begitu cepat.
Saat kami turun ke lantai dua, ada seorang lelaki tua berjubah putih, yang sebagian badannya berlumur lumpur, tiba-tiba muncul di tengah-tengah kami. Beliau adalah Tgk H Amiruddin KF. Beliau mengumandangkan azan zuhur.
Kami melaksanakan shalat berjamaah diimami Tgk Amir dengan pakaian apa adanya. Pada 2016 lalu, tersiar kabar beliau menghadap Yang Maha Kuasa dalam usia senja di atas pembaringannya. Semoga Allah swt merahmatinya, mengampuni dosa-dosanya dan meluaskan kuburnya.
Semoga kelak Allah juga mempertemukannya dengan istri dan anak semata wayangnya di surga Jannatun Naim. Keduanya menjadi korban dalam musibah memilukan itu.
Seusai shalat kami memutuskan turun dari masjid. Innalillahi wainna alaihi rajiuun, saya menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan. Ada yang terjepit dalam puing, ada yang mengapung di atas air, dan ada pula yang tersangkut di atas rumah.
Orang-orang yang selamat mengangkat satu per satu mayat-mayat tadi ke dalam masjid. Di situ saya baru sadar, ternyata, bukan hanya satu. Tapi ada puluhan mayat yang terlihat bergelimpangan. Sedangkan saya bersama keluarga pulang melihat rumah.
Kami harus berjalan di atas puing-puing yang menggunung dengan air yang masih sebatas lutut. Tapi kami tak menemukan apa pun lagi. Semuanya sudah hilang tak berbekas. Saya melihat banyak rumah warga desa lain yang rusak dan hilang tersapu gelombang.
Pada sore harinya, saya dan keluarga akhirnya memutuskan keluar dari kampung melintasi genangan air di antara puing-puing di dalamnya. Setapak demi setapak kami menyusuri menuju Masjid Lambhuk. Kami juga mendapat kabar dari seseorang, kakak saya Erawati bersama suaminya Rinaldi yang sempat terpisah dari kami, selamat dari musibah ini.
Mengungsi dan cerita aneh Si Pus
Keesokan paginya kami mengungsi ke Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, dan kemudian pindah ke kamp pengungsian Desa Cot Madi, tak jauh dari bandara.
Setahun di pengungsian sebuah NGO membangun kembali rumah kami sebagai awal untuk menata hidup kembali pasca tsunami. Dari semua hal yang saya alami dalam peristiwa tsunami, ada satu yang hingga saat ini tak bisa saya lupakan.
Yaitu tentang kucing kesayangan saya bernama si Pus. Ternyata benar, naluri hewan menangkap tanda-tanda alam lebih tajam dari manusia. Tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa tiga hari sebelum gempa bumi dan tsunami terjadi, si Pus sudah mengetahuinya.
Ia menampakkan perilaku gelisah. Setiap malam tiba kedua tangannya menggaruk-garuk pintu kamar rumah kami sambil mengeong. Seolah-olah ia ingin memberi tahu sesuatu kepada kami. Namun tak satu pun dari kami yang mengerti perilaku anehnya itu.
Sehari sebelum pagi 26 Desember tiba, saya sudah tidak melihat lagi Si Pus di rumah kami. Malam itu juga tidak terdengar lagi ia mengeong dan mencakar pintu kamar rumah kami dengan kedua tangannya.
Saya memperkirakan si Pus sudah lebih dulu pergi menyelamatkan diri sebelum bencana datang. Sewaktu saya pulang dari pengungsian dua bulan kemudian, saya menemukan si Pus duduk dan mengitari pertapakan rumah kami. Sorot matanya tertuju ke saya.
Ia juga menggesekkan kepalanya dengan manja di kaki saya. Ternyata si Pus benar-benar selamat dari tsunami. Tapi saat itu saya tak bisa berbuat banyak membawanya pergi bersama. Hingga akhirnya kepulangan saya yang kedua kalinya ke bekas pertapakan rumah, saya sudah tidak menemukan lagi si Pus.
Semoga cerita saya yang singkat ini, bisa menjadi iktibar bagi kita semua. Yang paling penting adalah perkuat keimanan dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selalu juga waspada dan membekali diri dengan pengetahuan tentang kebencanaan untuk meminimalisir risiko jatuhnya korban.
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Tapi setidaknya kita sudah siap menghadapinya jika kelak bencana serupa kembali terjadi. Sekarang 20 tahun sudah bencana tsunami menerjang Aceh. Kehidupan warga di Desa Lambaro Skep sudah kembali normal, meskipun masih menyisakan trauma.
Hampir 900 lebih warga meninggal dan hilang. Alhamdulillah kami sekeluarga selamat semuanya. Ada pun ibu kemudian meninggal pada 2020. Allahummaghfirlaha.
Ya Allah, ampuni dosa-dosa mereka yang telah syahid dalam musibah ini, dan berikanlah kekuatan bagi kami yang masih tersisa di Gampong Lambaro Skep untuk melanjutkan hidup, dalam rahmat dan lindungan-Mu. Wallahu A'lam Bishawab.(*)
Doa 20 Tahun Tsunami Dengan Buku Diplomasi Bencana |
![]() |
---|
Ribuan Masyarakat Larut dalam Tafakur, Jepang Puji Mitigasi Bencana di Aceh |
![]() |
---|
Ketua PIM Aceh Santuni Anak Disabilitas dalam Kegiatan Zikir dan Doa Bersama 20 Tahun Tsunami |
![]() |
---|
UUI dan PIM Peringati 20 Tahun Tsunami, Ustadz Zul Arafah Pimpin Zikir dan Doa Bersama |
![]() |
---|
Kisah Baby 81, Bayi Korban Tsunami 20 Tahun Lalu yang Telah Beranjak Dewasa, Begini Nasibnya |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.