Jurnalisme Warga
Mengenang Peristiwa Tsunami Aceh 2004
Banyak cerita orang di hari pertama tsunami yang tak mampu lagi saya ingat. Kalau tidak salah, listrik baru hidup keesokan harinya.
NURUL HUSNA, S.Pd., alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) dan Anggota FAMe, melaporkan dari Labuhanhaji, Aceh Selatan
Saya menulis kisah tentang tsunami Aceh 26 Desember 2004 ini pada saat kenangan mulai memudar dari ingatan saya. Maklum, sudah 20 tahun berlalu.
Saya sangat bahagia bila tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca di mana pun berada.
Kami tiga bersaudara, perempuan semua (saya, kakak, dan adik). Panggilan untuk kakak kandung adalah Kak Rika, tetapi lidah saya terbiasa berucap Kak Ika. Sedangkan adik saya kami panggil Upik. Ini bukan nama sebenarnya, tetapi panggilan kesayangan. Upik berarti anak perempuan.
Waktu itu di Labuhanhaji, Aceh Selatan, kami bertiga tinggal dengan keluarga kakak ibu saya, yang kami panggil Mak Sayang. Keluarganya terdiri atas suami (Pak Sayang), satu anak laki-laki (Bang Jaya), dan dua orang anak perempuan (Kak Tuti dan Kak Yanti).
Minggu, 26 Desember 2004, pagi yang awalnya tenang. Saat itu saya di dapur dan seingat saya kami semuanya berada di dalam rumah. Setelah sarapan, kebiasaan kami di hari libur adalah bersih-bersih seperti pada hari Minggu yang sudah-sudah.
Setelah sarapan, saya hendak bersih-bersih, lalu tiba-tiba terjadi gempa. Awalnya pelan, lama-lama kuat dan saat gempa terjadi saya tenang saja. Seolah-olah itu gempa biasa. Kebiasaan buruk yang saya miliki adalah jarang lari ke luar rumah ketika gempa terjadi. Itu berlaku sampai sekarang. Saya baru ke luar rumah saat terdesak atau disuruh, atau ditarik tangan saya oleh orang lain.
Di samping dan belakang rumah Mak Sayang banyak pohon yang ditanam Pak Sayang. Sedangkan di halaman rumah banyak kami tanam bunga.
Di dapur, pintunya ada tiga. Ke luar dari mana saja pun tetap bertemu banyak pohon. Pemikiran saya waktu itu rumah adalah tempat paling aman daripada di luar saat gempa mengguncang.
Ketika gempa terjadi di rumah hanya ada kami berlima (saya, Kak Yanti, Kak Tuti, Kak Ika, dan Upik). Bang Jaya bekerja di Banda Aceh, sedangkan Mak Sayang, Pak Sayang, serta keluarganya pergi ke Banda Aceh mengantar rombongan ibu Pak Sayang yang akan pergi haji ke Makkah dan sekarang ibunya sudah meninggal karena sakit.
Dari arah depan terdengar suara orang berteriak menyuruh saya ke luar dari rumah. Entah itu suara Kak Yanti, entah Kak Tuti. Saat itu guncangan gempanya sudah sangat kuat. Akhirnya, saya keluar melalui pintu tengah.
Setelah gempa reda, saya masuk ke dalam rumah menuju halaman melalui pintu depan. Saat itulah terdengar kabar air laut surut, tapi orang-orang bukannya takut, malah memungut ikan yang banyak tergeletak di dasar laut.
Setelah mengambil ikan, mereka melihat gelombang air laut sangat tinggi, oleh karenanya mereka pun berlarian ke daratan. Masyarakat Labuhanhaji saat itu sebagian tidak tahu tanda tsunami akan datang. Dari kejadian tersebutlah masyarakat dan saya tahu jika air laut surut, kita tidak boleh mendekati pantai.
Sesudah itu banyak orang yang rumahnya di sekitar pantai mengungsi ke rumah keluarga atau saudaranya yang jauh dari pantai. Akibat gempa, listrik pun mati sehingga kami tidak bisa menonton televisi (tv) untuk mengetahui berita. Itulah sebab, kami tidak tahu bahwa Banda Aceh dan sekitarnya dilanda bencana yang sangat dahsyat.
Banyak cerita orang di hari pertama tsunami yang tak mampu lagi saya ingat. Kalau tidak salah, listrik baru hidup keesokan harinya. Saya melihat Kak Yanti menonton tv dan mendengarkan berita tentang situasi Banda Aceh sambil menangis. Saya tidak bertanya, tetapi ikut menonton tv. Tampak semua bangunan hancur, mayat bergeletakan di mana-mana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/NURUL-HUSNA-OKE-BARU.jpg)