Sabtu, 9 Mei 2026

Opini

Sains tidak akan Menemukan Ruh? 

Ruh adalah topik yang penuh misteri, terutama dalam ajaran Islam. Dalam Islam, ruh disebut sebagai urusan Tuhan, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'a

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
IST
Dr Muhammad Iqbal SPd MA, Dosen Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh 

Sebagai contoh, Allah berfirman dalam QS As-Sajdah: “Kemudian, Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)-Nya (QS As-Sajdah: 9). Ayat ini menegaskan bahwa ruh adalah pemberian khusus dari Allah kepada manusia yang menjadikannya makhluk yang istimewa. Ruh bukan hanya sekadar “energi kehidupan” tetapi bagian yang menghubungkan manusia dengan Penciptanya. Hal ini membuat manusia memiliki kapasitas moral dan spiritual yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. 

Selain itu, ruh juga menjadi dasar tanggung jawab manusia di dunia ini. Dengan ruh, manusia diberi kebebasan untuk memilih, berbuat baik, atau berbuat buruk. Sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Balad: Dan kami juga telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)? (QS Al-Balad: 10). Dalam hal ini, ruh memainkan peran penting dalam menentukan arah kehidupan manusia. 

Sains dan Batas Pengetahuan 

Sains telah mencapai kemajuan luar biasa dalam memahami otak manusia, pusat dari pikiran, emosi, dan kesadaran. Neurosains, misalnya telah mengungkap bagaimana berbagai bagian otak berfungsi dan bagaimana sinyal listrik menciptakan pengalaman subjektif. Namun, bahkan dengan semua pengetahuan ini, pertanyaan tentang “kesadaran” dan kaitannya dengan ruh tetap belum terjawab. 

Kesadaran adalah fenomena yang sulit dijelaskan oleh sains. Bagaimana pengalaman subjektif, seperti perasaan cinta atau rasa sakit, muncul dari aktivitas saraf? Apakah kesadaran hanya hasil interaksi kimia dan fisika atau ada sesuatu yang lebih dalam? Ini adalah celah yang belum mampu dijembatani oleh sains yang memberikan ruang bagi kepercayaan spiritual tentang keberadaan ruh sebagaimana dijelaskan dalam Islam. Dalam ajaran Islam, keterbatasan sains dalam menjelaskan ruh bukanlah kelemahan tetapi pengingat bahwa pengetahuan manusia bersifat terbatas.  

Ruh: Urusan Tuhan 

Dalam ajaran Islam, ruh tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang misterius tetapi juga sakral. Ruh adalah milik Allah, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur'an. Memahami ruh sepenuhnya dianggap melampaui kapasitas manusia. Pendekatan ini mengingatkan kita akan keterbatasan pengetahuan manusia dan pentingnya kerendahan hati dalam menghadapi misteri kehidupan. 

Sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Isra: 85, pengetahuan tentang ruh adalah sesuatu yang hanya Allah ketahui secara sempurna. Umat manusia diberi pengetahuan yang terbatas, sehingga mencoba memahami rahasia ilahi ini sepenuhnya bisa menjadi bentuk arogansi yang tidak pada tempatnya. Kesadaran akan keterbatasan ini juga mengajarkan manusia untuk lebih bersyukur dan tunduk kepada Allah. 

Ruh juga menjadi pengingat tentang akhirat. Ketika manusia meninggal, ruh kembali kepada Allah. Sebagaimana dinyatakan dalam QS Az-Zumar: “Allah menggenggam nyawa (manusia) pada saat kematiannya dan yang belum mati ketika dia tidur. Dia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan” (QS Az-Zumar: 42). Ayat ini menunjukkan bagaimana ruh terhubung dengan kehidupan dunia dan akhirat. 

Pada akhirnya, pertanyaan tentang ruh adalah pengingat tentang keterbatasan manusia. Seberapapun majunya teknologi atau ilmu pengetahuan, ada aspek-aspek kehidupan yang mungkin akan tetap berada di luar jangkauan kita. Ruh adalah salah satu dari aspek tersebut, sebuah misteri yang mengingatkan kita akan kebesaran Allah dan keterbatasan usaha manusia. 

Menerima bahwa ruh adalah urusan Tuhan bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan pengakuan akan kebijaksanaan ilahi yang tak terbatas. Sebagai manusia, tugas kita bukan untuk memahami semua misteri, tetapi untuk menjalani hidup dengan penuh kesadaran akan tujuan yang telah Allah tetapkan. Dalam menerima misteri ruh, kita tidak hanya menghormati kebesaran Allah tetapi juga menemukan kedamaian dan makna yang lebih dalam dalam hidup kita.

*) Penulis adalah dosen Universitas Bina Bangsa Getsempena, Banda Aceh. Email: miqbal@bbg.ac.id    

 

 

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved