Citizen Reporter
Menyaksikan Pesta Rakyat Terbesar di Pulau Pinang
NAMA Pulau Pinang atau lazim disebut Penang tentunya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Aceh.
Namun, sangat disayangkan karena pengurusan stan dari provinsi Aceh ini tidak terkelola dengan baik. Tidak adanya penjaga stan khusus yang dikirim dari Aceh menjadikan pengunjung stan Aceh ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan pengunjung di stan Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
Pada akhir tahun 2024 lalu, stan Provinsi Aceh yang di atas pintunya dihiasai dengan logo Pancacita itu malah terkunci rapat. Hanya ada seorang penjaja pakaian dan baju-baju daster yang menawarkan dagangannya di depan stan Provinsi Aceh ini. Tentu saja penjual tersebut bukan berasal dari Aceh, apalagi menjadi petugas penjaga stan kebanggaan rakyat Aceh yang ada di negeri jiran tersebut.
Kurangnya informasi tentang adanya pesta rakyat terbesar di pulau ini membuat pengunjung dari Aceh sepi. Padahal, faktanya jumlah kunjungan masyarakat Aceh ke Pulau Pinang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Entah untuk berobat atau berbelanja atau hanya sekadar berlibur akhir tahun bersama keluarga ataupun hanya menumpang transit untuk selanjutnya menuju ke Thailand.
Sebagai warga Aceh yang pernah tinggal dua tahun di Pulau Pinang pada tahun 2017-2019 saat menyelesaikan program magister di USM, saya merasa sangat kecewa bahwa setelah lima tahun berlalu keadaan stan Aceh di Tapak Pesta wilayah Sungai Dua, Gelugor tersebut tidak menunjukkan adanya peningkatan yang berarti.
Jika diperhatikan malah semakin menurun dari keadaan lima tahun lalu.
Saya berharap pemerintah daerah beserta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mau meninjau kembali keadaan stan Aceh dan menunjuk panitia khusus untuk menjaga stan Aceh pada 'event' tersebut setiap tahunnya.
Sebagai warga yang mencintai budaya Aceh, saya sangat berharap bahwa melalui perhelatan besar-besaran ini, Aceh bisa menampilkan budaya serta keragaman etnik Aceh ke mata Asia khususnya dan mata dunia pada umumnya.
Ajang ini bisa sekaligus menjadi program berkesinambungan setelah acara pemilihan Agam Inong Aceh beberapa waktu lalu. Para finalis dan juara Agam Inong tersebut bisa saja ditunjuk menjadi panitia di stan Nanggroe Aceh yang kita cintai ini.
Harapan tersebut tentu saja bukan hanya saya tujukan kepada pemerintah daerah semata, tetapi juga kepada semua warga Aceh yang sedang berkunjung ke Pulang Pinang untuk kepentingan apa pun sepanjang Desember 2024 hingga akhir Januari 2025 nanti.
Demikian juga untuk Anda yang berencana mengunjungi Pulau Pinang bukan dalam keadaan mendesak atau alasan medis, mengapa tidak menunggu hingga Desember supaya dapat bergabung dalam perayaan dan meramaikan kembali stan Aceh di tapak pesta tersebut?
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Menyaksikan Pesta Rakyat Terbesar di Pulau Pinang
Pulau Pinang
Malaysia
NURUL HIKMAH
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/NURUL-HIKMAH-2025.jpg)