Opini
Free Free Palestine!
KETIKA wisuda Universitas Malikussaleh, 14 Januari 2025, penulis sempat membawakan lagu “Free Free Palestine” bersama Band Frontline.
Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi Fisipol Universitas Malikussaleh
KETIKA wisuda Universitas Malikussaleh, 14 Januari 2025, penulis sempat membawakan lagu “Free Free Palestine” bersama Band Frontline. Aksi itu bukan sekadar hiburan, tapi dimaksudkan sesuatu.
Lagu yang dibawakan Maher Zain dan sempat dianggap gubahan grup band Punk, Green Day, ini memang tidak setenar “Palestine will be free” atau “We Will Not Go Down” karya Michel Heart. Namun, lagu itu seperti menyuarakan proklamasi.
Dibawakan dengan semangat birama cepat atau mars, terdengar benar-benar membakar jiwa.
Ketika pertama kali penulis dengarkan lagu ini, awal tahun 2025, terasa lagu ini harus dibawakan ke ruang publik. Memang para audien tidak cukup familiar. Namun, dengan lirik sederhana mereka bisa ikut nyanyikan, sambil menghablurkan doa untuk syuhada di Palestina.
Moment of truth
Tidak ada momen kecuali harus diciptakan. Penderitaan masyarakat Palestina pascaserangan kilat Hamas ke Israel 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.189 orang dan menyandera 251 warga Israel itu, dibalas berpuluh kali lipat kerusakan dan derita yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia modern pascaperang dunia II.
Benyamin Netanyahu dan tentara Israel Defence Force (IDF) adalah pelaku utama kejahatan perang ini.
Tragedi di Gaza itu kurang membuat dunia bereaksi terlalu banyak untuk menghentikannya. Kita lihat, bagaimana serangan balik Israel pada 27 Oktober 2023 hingga 19 Januari 2025 telah menewaskan sedikitnya 47.283 ribu warga Palestina termasuk pimpinan Hamas dan lebih 120 ribu terluka dan cacat permanen.
Beragam kejahatan kemanusiaan terjadi sepanjang perang itu, seperti pembunuhan perempuan dan anak-anak, termasuk menembak mati empat perempuan hamil saat membawa bendera putih pada 23 Desember 2023. Demikian pula penyerangan dengan drone di kamp pengungsian, merusak bantuan makanan untuk warga dari PBB, membiarkan orang terluka meninggal tanpa bantuan medis, dan anak-anak mati kedinginan karena kekurangan makanan dan selimut.
Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) sempat memasukkan Bashar Al-Assad dan Jokowi sebagai tokoh dunia yang melanggar HAM dan korup pada 2024, tapi sesungguhnya menjadi penilaian sumir dan tidak objektif. Jika mau fair, Benyamin Netanyahu harusnya masuk sebagai tokoh negara yang korup, pelanggar HAM, dan pembungkam kebebasan pers 2024.
Selama perang Israel – Hamas, IDF telah membunuh 183 jurnalis sejak Oktober 2023. Menurut Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, pembunuhan jurnalis di Gaza lebih dua kali lipat pembunuhan jurnalis setahun di seluruh dunia. Ini pula yang menyebutkan bahwa kejahatan di Palestina bukan saja kejahatan atas kemanusiaan tapi pembohongan global atas kejahatan Israel selama 70 tahun terakhir.
Jadi sebenarnya apa yang dilakukan Hamas dan juga Hezbollah adalah reaksi alamiah membela warga tertindas atas kolonialisme dan penindasan Israel. Itu pula yang dilakukan oleh para pejuang Hamas dan Hezbollah yang syahid seperti Muhammad Deif (31/7/2024), Ismael Haniyeh (31/7/2024), Hassan Nasrallah dan Ali Karaki (28/9/2024), Fatah Syarif (30/9/2024), dan Yahya Sinwar (16/10/2024). Sebagian besar mereka meninggal dalam penyergapan, dan bukan dalam perang terbuka.
Pidato Joe Biden setelah meninggalnya Sinwar di Rafah, sebagai hari baik bagi perdamaian Palestina dan hari terakhir Hamas, nyatanya tidak. Pada saat gencatan senjata 19 Januari 2025, ribuan pasukan tempur Hamas, Brigade Al-Qassam memenuhi jalan-jalan utama di Gaza, sehingga membuat pejabat militer Israel terkaget-kaget.
Berburu waktu
19 Januari 2025 menjadi hari yang disepakati gencatan senjata antara Pemerintah Israel dan Hamas, setelah 15 bulan kejahatan kemanusiaan dan memaksa 2,3 juta warga Gaza mengungsi. Namun gencatan senjata ini tidak berarti ada kestabilan situasi di Gaza dan Palestina secara keseluruhan. Meskipun demikian, tekanan dunia semakin menguat untuk kemerdekaan Palestina.
Saatnya dunia harusnya bisa adil menilai. Aksi 7 Oktober 2023 adalah “ingatan untuk keterlupaan” (Memorry for Forgetfulness), mengutip salah satu novel penulis Palestina, Mahmoud Darwish. Aksi itu adalah ingatan kepada dunia agar masalah.
Palestina dilihat, seolah-seolah kekejaman harian dan penjajahan Israel bisa dibiarkan dengan menutup mata dan telinga.
| Masa Depan Pertanian Aceh Pascabanjir |
|
|---|
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pengamat-Politik-Universitas-Malikussaleh-Unimal-Teuku-Kemal-Fasya.jpg)