Kupi Beungoh
Makmeugang: Mempertahankan Tradisi Aceh di Tengah Dilema Indonesia Gelap
Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol kebersamaan, melainkan juga sebagai wujud syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
Oleh: Mallikatul Hanin dan Siti Nurramadani
Makmeugang atau meugang adalah tradisi warisan indatu (leluhur) yang telah mengakar kuat dalam kebudayaan masyarakat Aceh. Menyambut bulan suci Ramadhan serta Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, masyarakat Aceh merayakan makmeugang dengan membeli, memasak dan menyantap daging bersama keluarga.
Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol kebersamaan, melainkan juga sebagai wujud syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. (Makmeugang Sebuah Tradisi Rutin di Aceh, https://aceh.kemenag.go.id).
Momentum meugang Ramadhan 2025, gemuruh pasar menjadi saksi semangat yang tak pernah padam. Bau daging segar bercampur dengan riuh tawa dan tawar-menawar, menghidupkan denyut tradisi yang telah berakar sejak leluhur.
Di setiap rumah, tungku menyala, aroma rempah menguar, mengabarkan datangnya bulan suci yang dinanti dengan suka cita.
Meugang adalah ingatan tentang rumah yang selalu dirindukan, tentang tangan-tangan yang saling menggenggam dalam hangatnya persaudaraan. Orang-orang di perantauan akan pulang kampung untuk berkumpul bersama pada momentum meugang.
Dilema: Serba Mahal, Uang tak Cukup
Momentum meugang Ramadhan 2025 menjadi dilema bagi rakyat Aceh. Harga daging melonjak tinggi, bayang-bayang krisis ekonomi menghantui, membuat banyak keluarga kesulitan membeli daging.
Banyak orang menatap pasar dengan tatapan kosong, menghitung-hitung uang di genggaman, mencoba mencari cara agar tradisi tetap berjalan meski keadaan tak lagi sama.
Makmeugang yang dahulu menjadi lambang kegembiraan, kini bercampur dengan kecemasan: Bisakah semua orang tetap menikmati kemewahan tahunan ini?
Di pasar-pasar tradisional, suasana makmeugang tahun ini terasa berbeda. Jika biasanya lapak-lapak pedagang penuh sesak dengan pembeli yang berebut memilih daging terbaik, kini banyak yang hanya berdiri di pinggiran, menimbang-nimbang antara kebutuhan dan kemampuan.
Harga daging yang terus meroket hingga mencapai Rp 200.000 per kg, membuat banyak orang menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah pergi dengan tangan hampa. Bagi sebagian orang, membeli sekilo daging kini sama artinya dengan mengorbankan belanja untuk hari-hari berikutnya. (Aceh Antaranews.com: Harga Daging Saat Tradisi Meugang Mencapai Rp.200.000 per kg).
Di balik lapak-lapak yang masih bertahan, para pedagang juga merasakan beban yang sama. Mereka bukan hanya menjual, tetapi juga menghadapi dilema menaikkan harga demi menutup ongkos yang semakin tinggi, atau bertahan dengan margin tipis demi menjaga pelanggan setia. Namun, keduanya sama-sama berat.
"Dulu, orang beli lima kilo, sekarang satu kilo pun susah," keluh seorang pedagang, sementara tangannya tetap lincah menimbang daging dengan harapan dagangannya tetap laku.
Jika krisis ini terus berlanjut, bagaimana nasib makmeugang di tahun-tahun mendatang? Akankah tradisi ini hanya menjadi kenangan, tergantikan oleh kesibukan bertahan hidup yang semakin menyesakkan?
Ataukah, justru dalam keterbatasan ini, nilai sejati makmeugang semakin nyata bahwa ia bukan tentang kemewahan, melainkan tentang kebersamaan, tentang ketulusan berbagi meski dalam kesederhanaan?
Kenaikan PPN dan Dampaknya
| Perang dan Damai - Bagian 16, Kebebasan Berlayar di Selat Hormuz sebagai Jalan Perdamaian |
|
|---|
| Internsip Dokter dan Krisis Otonomi Akademik |
|
|---|
| Kritisi Pergub JKA, Dua Aksi Beda Cara |
|
|---|
| Menjaga Api yang Terus Menyala: Kiat Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh |
|
|---|
| Syeh Syoh: Behavioral Noise di Forum Publik Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mallikatul-Hanin-dan-Siti-Nurramadani.jpg)