Konflik Palestina dan Israel
Donald Trump Ancam Hamas: Jika Sandera Tidak Dibebaskan, Kalian MATI!
"Juga, kepada Rakyat Gaza: Masa depan yang indah menanti, tetapi tidak jika kalian menyandera. Jika kalian melakukannya, kalian MATI!"
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Agus Ramadhan
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa AS telah bernegosiasi langsung dengan Hamas melalui utusan khusus untuk sandera, Adam Boehler.
"Dua pertemuan langsung telah terjadi antara Hamas dan seorang pejabat AS, didahului oleh beberapa komunikasi," kata sumber Palestina kepada BBC.
Leavitt juga menyebutkan bahwa Israel telah diajak untuk berkonsultasi sebelum pertemuan-pertemuan ini berlangsung.
"Presiden Trump percaya bahwa penting untuk selalu mengutamakan kepentingan rakyat Amerika," ujarnya dalam keterangan pers.
Pembicaraan di Qatar dan Posisi Israel
Menurut laporan, pertemuan antara pejabat AS dan Hamas dilaksanakan di ibu kota Qatar, Doha.
Qatar, yang merupakan sekutu utama AS di kawasan Teluk, telah lama menjadi tempat perundingan internasional yang rumit, termasuk perundingan dengan Iran, Taliban, dan Rusia.
Meskipun Israel telah diberitahu tentang pembicaraan langsung antara AS dan Hamas, mereka belum mengungkapkan posisi resmi mereka tentang masalah ini.
Sementara itu, beberapa sumber dari pihak Palestina menyebutkan bahwa Hamas memiliki basis yang cukup kuat di Doha sejak 2012, dan ini menjadi salah satu alasan mengapa pertemuan tersebut terjadi di negara tersebut.
Konflik antara Israel dan Hamas dimulai setelah serangan lintas perbatasan besar-besaran pada 7 Oktober 2023, yang mengakibatkan sekitar 1.200 orang tewas dan lebih dari 250 orang diculik.
Sejak saat itu, lebih dari 48.000 orang telah kehilangan nyawa mereka di Gaza akibat pertempuran yang terus berlanjut.
Hingga kini, Israel melaporkan bahwa masih ada 59 sandera yang ditahan di Gaza, dengan 24 di antaranya diperkirakan masih hidup.
Di antara para sandera tersebut, lima orang di antaranya adalah warga negara AS. Salah satu dari mereka, Edan Alexander, diyakini masih hidup, sementara empat lainnya diduga telah tewas.
Proses Diplomatik yang Rumit
Mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Timur Tengah, Mick Mulroy, mengungkapkan bahwa AS perlu menjadi lebih "proaktif" dalam memulangkan warganya yang menjadi sandera.
Ia juga menambahkan bahwa jika proses ini tidak dikoordinasikan dengan baik dengan Israel, ini bisa menyulitkan upaya negara tersebut untuk memulangkan warganya yang juga ditahan oleh Hamas.
Hamas, yang memiliki basis di Doha, Qatar, sejak 2012, telah menjadi pemain penting dalam negosiasi perjanjian gencatan senjata dan upaya mengakhiri perang.
| Pemukim Israel Masuk Al-Aqsa Dikawal IOF, Ketegangan Meluas hingga Yerusalem dan Tepi Barat |
|
|---|
| Setelah Berbulan-bulan Ditutup, Rafah Gaza-Mesir Akhirnya Dibuka, Tapi Ada Syaratnya |
|
|---|
| Hamas Ingin Tetap Kuasai Keamanan Gaza, Tak Bisa Janjikan Pelucutan Senjata |
|
|---|
| Pengakuan Jurnalis Palestina, Saleh Aljafarawi Sebelum Gugur di Gaza: Saya Hidup dalam Ketakutan |
|
|---|
| Pengakuan Aktivis GSF Gaza: Disiksa di Sel Israel sebelum Akhirnya Dideportasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Presiden-Amerika-Serikat-AS-Donald-Trump-memberi-isyarat.jpg)