Jurnalisme Warga

Keasyikan Bermedsos Negatif Tak Seindah Jatuh Cinta

Cinta sejati dapat meningkatkan rasa percaya diri, memberikan rasa aman, dan menurunkan tingkat stres yang sangat berbeda dengan energi negatif di med

Editor: mufti
IST
M. ZUBAIR, S.H., M.H., Kepala Dinas Komunikasi, Informasi, dan Persandian Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen 

Mengapa pemuda-pemudi yang disasar dalam kegiatan ini? Itu karena, mereka masih produktif dan diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh konten-konten negatif yang bisa berdampak buruk bagi masa depannya.

Pemateri berikutnya dari Badan Nerkotika Nasional (BNN) Provinsi Aceh yang mengulas tentang bahaya penggunaan narkotika.

Bekal ilmu yang diperoleh perserta dari pelatihan ini dapat mereka informasikan melalui platform digital sehingga penggunaan medsos benar-benar dirasakan mafaatnya.

Untuk melatih pembuatan konten positif juga dihadirkan konten kreator andal dari Kabupaten Bireuen, yaitu Turhamun. Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadyah Mahakarya (Ummah) Bireuen ini membimbing peserta dengan cara praktik  untuk mampu berkreasi membuat konten-konten positif di medsos.

Bila dilihat kenapa orang menikmati interaksi online negatif lewat medsos adalah karena ada efek dopamin (hormon bahagia) bagi pelakunya sebab telah melepaskan unek-uneknya secara tidak patut.

Namun, kebahagiaan tersebut bersifat instan yang berbeda dengan kebahagiaan jatuh cinta: lebih mendalam dan tahan lama apabila percintaan itu berjalan pada alur yang benar.

Hal itu sejalan dengan yang dikatakan oleh psikolog di Phoenix, Amerika Serikat, Lilies Weiss, Ph.D dalam bukunya “Cara Mudah dan Murah Menjadi Wanita Sehat” karya dr. Myra Puspotiorini, yaitu cinta yang kita rasakan dapat memengaruhi segala sesuatu mulai kesejehteraan umum sampai seberapa tahan tubuh kita melawan penyakit.

Orang-orang yang merasakan cinta tulus memiliki kadar kolesterol lebih rendah daripada mereka yang tidak memiki dukungan emosional.

Selanjutnya, orang menyukai medsos negatif karena merasa superioritas yang dalam beberapa kasus orang tipe ini puas telah menjatuhkan orang lain, sebab ia terbawa pikiran buruk karena ilusinya menjadi superioritas.

Dengan mengkritik atau menghina, mereka merasa lebih benar dan tenar yang diiringi rasa puas yang bersifat sementara dan cenderung destruktif.

Hal serupa sudah sangat sering kita saksikan di kangan TikToker asal Aceh yang menghina dalam bahasa Aceh dan telah menjadi perbincangan miris terhadap dirinya.

TikToker negatif tersebut terlihat pada awalnya menyenangkan, tetapi secara tidak sadar karena terlalu sering terlibat dalam interaksi yang salah itu bisa menimbulkan stres, kecemasan, dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri. Baik bagi pelaku maupun korban sama-sama akan berdampak psikolgis yang tidak bisa diabaikan dan perlu penangkalan sejak dini sebelum memakan banyak korban.

Pelaku yang terus-menerus mencari validasi melalui perilaku negatif bisa mengalami ketergantungan, sedangkan korban kerap menghadapi tekanan mental yang berat seperti kecemasan, depresi, bahkan trauma.

Dampak buruk lainnya dari bermedsos negatif adalah terjadinya keretakan hubungan sosial yang dimulai di dunia maya, terus berlanjut ke dunia nyata, dapat merusak hubungan dengan teman, keluarga atau pasangan, bahkan antaranggota masyarakat.

Selanjutnya, penyebaran hoaks sangat meresahkan. Informasi palsu yang disebarkan bisa memengaruhi opini publik dan menciptakan keresahan sosial. Malah, keasyikan bermedsos negatif dapat berujung pada masalah hukum, karena UU ITE mengatur sanksi bagi pelaku ujaran kebencian, pencemaran nama baik, atau penyebaran hoaks. Banyak kasus karena iseng bermedsos negatif pelakunya harus mendekam di penjara.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved