Kupi Beungoh

Esensi Bulan Ramadhan, Bulan Tarbiyah

Ramadhan adalah madrasah kehidupan yang mengajarkan kita untuk tidak menjadikan hak Allah sebagai hak kita.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Pemuda dan warga Gampong Ikulhung, FIRNANDA, S.Pd, M.Pd 

Demikian pula dalam setiap langkah kehidupan, Ramadhan juga mengingatkan kita untuk tidak menjadikan hak orang lain sebagai hak kita.

Bagi mereka yang diberi amanah, baik dalam pemerintahan, bisnis, ataupun dalam kehidupan sehari-hari, Ramadhan adalah saat untuk merenung.

Ini adalah waktu untuk menilai kembali apakah kita telah menunaikan amanah dengan adil dan bijaksana, ataukah justru tergoda untuk meraih keuntungan pribadi dari hak yang bukan milik kita.

Ketahuilah, kekuasaan dan harta yang kita miliki hanyalah titipan, dan Ramadhan mengingatkan kita untuk tidak menggunakannya demi kepentingan pribadi yang semu.

Betapa indahnya jika para pemimpin dan pengusaha mencontohkan kebijaksanaan ini, menahan diri untuk tidak menjadikan hak orang lain sebagai hak mereka, dan selalu ingat bahwa amanah adalah tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Penting untuk diingat, bahwa Ramadhan adalah cermin yang memantulkan hakikat diri kita di hadapan Allah.

Ketika gema takbir menyambut datangnya bulan suci ini, di mana posisi hati kita? Apakah kita termasuk orang-orang yang bersukacita karena berjumpa dengan bulan penuh keberkahan, ataukah kita merasa biasa saja, seolah Ramadhan hanyalah pergantian bulan semata?

Jika hati kita tidak bergetar saat Ramadhan tiba, mungkin bukan Ramadhan yang kurang istimewa, tetapi justru diri kita yang semakin jauh dari cahaya keimanan. Maka inilah saatnya kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: sejauh mana kecintaan kita kepada Allah dan agama-Nya?  

Dalam bulan ini, Allah melimpahkan pahala yang berlipat ganda, pintu-pintu surga dibuka, dan rahmat-Nya tercurah luas.

Namun, bagaimana sikap kita? Apakah kita termasuk yang berlari mengejar ampunan, atau justru semakin tenggelam dalam kelalaian? Saat umat Islam berlomba-lomba menghidupkan malam dengan ibadah, apakah kita memilih untuk ikut serta, atau justru hanyut dalam kebiasaan yang sia-sia?

Ramadhan mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang apa yang kita ucapkan, tetapi bagaimana hati kita merespons seruan kebaikan. Jika Ramadhan ini tidak mengubah kita menjadi lebih baik, lalu kapankah hati ini akan tersentuh oleh hidayah-Nya?  

Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, Ramadhan adalah perjalanan menuju penyucian diri. Ia datang sebagai kesempatan untuk kembali kepada Allah dengan hati yang lebih bersih, dengan jiwa yang lebih tulus.

Namun, apakah kita menyambutnya sebagai anugerah atau beban? Saat keheningan sahur dan keindahan berbuka menghampiri, Ramadhan mengajak kita untuk merenungi: sudahkah kita menggunakan waktu ini untuk lebih dekat dengan-Nya?

Ataukah kita masih terpaut pada dunia yang fana? Jika Ramadhan berlalu tanpa membawa perubahan dalam hidup kita, maka sungguh, kita telah kehilangan kesempatan yang tak ternilai harganya.  

Kesimpulannya, Ramadhan adalah waktu yang penuh tarbiyah, mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, menyucikan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved