RAMADHAN MUBARAK
Puasa dan Pendidikan Keluarga Untuk Generasi Muda Islam
Fenomena ini sangat memprihatinkan karena dapat merusak akhlak generasi muda Islam, dapat melemahkan umat Islam.
Oleh Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M Ag. Dosen UIN Ar Raniry Banda Aceh
KASUS HIV (Human Immunodeficiency Virus), pergaulan bebas, kekerasan seksual, aborsi, LGBT, dan perzinaan meningkat di banyak tempat. Fenomena ini sangat memprihatinkan karena dapat merusak akhlak generasi muda Islam, dapat melemahkan umat Islam.
Fenomena ini terjadi dengan banyak sebab seperti pengaruh gadged, pengaruh lingkungan atau minimnya kesadaran beragama pada generasi muda Islam.
Ditambah lagi dengan keadaan orang tua harus bekerja mencari uang siang malam, membuat orang tua tidak punya waktu untuk memperhatikan pendidikan akhlak, pendidikan ibadah dan agama pada anak. Tapi orang tua mesti ingat bahwa anak adalah bekal orang tua untuk kembali ke kampung akhirat.
Lalu apa yang harus dilakukan orang tua dalam kondisi demikian, mempersipkan anak untuk bekal pulang ke kampung akhirat di bulan Ramadhan ini?
Tanggung jawab orang tua mendidik anak. Lelahnya orang tua bekerja, seringkali menjadi alasan bagi orang tua untuk menyerahkan 100 persen tanggung jawab mendidik anak, kepada guru di sekolah atau dosen di kampus. Seharusnya tidak demikian, karena tanggung jawab mendidik anak adalah tanggung jawab dan kewajiban orang tua.
Lalu bagaimana, bukankah orang tua harus bekerja? Orang tua harus bekerjasama, orang tua harus membantu guru dan dosen dalam menyinkronkan pelajaran yang diberikan guru di sekolah dan di kampus, lalu dipantau, dibimbing lagi oleh orang tua di rumah, sehingga pembelajarannya berjalan maksimal, terutama pelajaran akhlak dan ibadah.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an berikut ini, ”Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Qs. At-Tahrim ayat 6).
Usaha-usaha orang tua dalam mendidik anak di bulan Ramadhan. Ada beberapa cara yang pernah dicontohkan Rasulullah SAW, dalam mendidik anak, keluarga dan para sahabat, sampai menjadikan generasi sahabat adalah orang-orang yang disegenani oleh lawan dan disayangi oleh kawan.
Pertama, adalah keteladan dari orang tua, bahwa orang tua itu harus melaksanakan ibadah puasa, melaksanakan shalat wajib, shalat sunat taraweh, tadarus, berbagi makanan berbuka dan ibadah lainnya, sehingga dapat dicontoh, diikuti oleh anak.
Kedua, pembiasaan dari orang tua. Orang tua meminta anak untuk ikut berpuasa, ikut melaksanakan ibadah shalat wajib baik sendiri-sendiri atau berjamaah di masjid dan mushalla, melaksanakan shalat sunat, tadarus, dan ibadah lainnya selama Ramadhan, sehingga terbiasa.
Ketiga, orang tua dapat memberikan pengajaran kepada anak, tentang keutamaan mengisi Ramadhan dengan berpuasa, dengan shalat wajib, shalat sunat dan ibadah lainnya.
Keempat, pengawasan dari orang tua. Orang tua mengawasi anak, menanyakan kemana ia pergi, dengan siapa ia bergaul. Menanyakan kepada anak, apakah ia sudah shalat, dimana ia shalat, menanyakan apakah ia berpuasa atau hal-hal lainnya.
Kelima, nasehat dari orang tua. Orang tua dapat memberi nasehat kepada anak, jika mendapati anak melakukan hal-hal yang melalaikan, apalagi melanggar syariat. Keenam, reward dan punishment, yaitu orang tua memberi penghargaan atas kebaikan yang dilakukan anak, dan memberi hukuman yang mendidik atas kesalahan yang anak lakukan.
Ketujuh, doa dan tawakkal. Orang tua, senantiasa mendoakan agar anak-anaknya menjadi anak yang shaleh. Karena iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa. Artinya, orang tua tidak punya kekuasaan untuk memastikan anaknya menjadi anak-anak yang shaleh, lagi bertakwa.
Di bulan Ramadhan ini, adalah saat yang tepat untuk orang melihat kembali perkembangan akhlak dan ibadah anak, melakukan evaluasi dan bersama-sama dapat memperbaikinya agar menjadii lebih baik.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.