Opini
Puasa, dari Energi Takut ke Perubahan
KALAU kita ingin memperoleh sebuah kemahiran dan kecakapan dalam bidang tertentu, biasanya kita akan mengikuti pendidikan dan atau pelatihan.
Teuku Zulkhairi, Sekjend Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD). Dosen FTK UIN Ar-Raniry
KALAU kita ingin memperoleh sebuah kemahiran dan kecakapan dalam bidang tertentu, biasanya kita akan mengikuti pendidikan dan atau pelatihan. Pendidikan dan pelatihan yang kita ikuti jangka waktu tertentu ini akan menempa kita sehingga mahir dalam sebuah bidang keilmuan dalam jurusan tertentu dan dalam waktu tertentu. Ada orang yang membuat pelatihan menjahit, pelatihan jurnalistik dan seterusnya.
Di dalam pemerintahan, pendidikan dan pelatihan atau dikenal dengan singkatan Diklat bahkan menjadi sebuah kewajiban yang harus diikuti oleh seorang calon pegawai negeri atau pegawai negeri yang ingin naik tingkat ke level tertentu. Dengan Diklat ini seseorang diharapkan dapat memiliki bekal kecakapan dalam melakukan sejumlah pekerjaan.
Maka demikian halnya bulan Ramadhan yang merupakan madrasah rabbaniyah yang akan menempa kita untuk mahir dan cakap dalam menjalani tugas-tugas dan fungsi kekhalifahan di atas muka bumi.
Ramadhan selalu hadir setiap tahunnya untuk kembali mendidik dan melatih kita agar memiliki bekal menjalani kehidupan. Begitulah ketentuan Allah, bahwa Ramadhan akan terus hadir memberi energi bagi kita. Energi yang dibutuhkan untuk menata kehidupan pribadi seorang muslim, kehidupan bermasyarakat dan juga kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu sangatlah beruntung orang-orang yang berhasil menarik energi Ramadhan untuk bekal sebelas bulan berikutnya. Lalu energi apa yang diberikan Ramadhan kepada kita? Itulah energi takut yang merupakan manifestasi dari takwa.
Di bulan Ramadhan kita diajarkan untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, berhubungan suami istri, dan lain-lain yang meskipun itu adalah halal dilakukan di hari-hari di luar Ramadhan. Sebab Ramadhan ingin mendidik kita agar memiliki rasa takut. Kita diajarkan bahwa meskipun manusia tidak dapat melihat kita, tapi Allah Swt dapat melihat kita dimana saja posisi kita dan kapan saja. Jadi kita tidak berani makan dan minum karena takut bahwa Allah melihat kita, karena rasa takut ini kita tidak berani berbohong.
Bagaimana konkretnya rasa takut yang diajarkan Ramadhan ini menjadi energi dalam mewujudkan perubahan? Sebab, sesungguhnya takut ini adalah kekuatan. Tentu, seorang pemimpin yang takut kepada Allah Swt maka dia tidak akan mengkhianati amanah kepemimpinannya tersebut. Dia tidak akan berani menipu rakyatnya. Tidak akan berani “menjual” negerinya untuk asing karena akan membuat rakyatnya melarat. Dia juga tidak akan berani mengingkari janji politiknya. Sebab, dia takut bahwa Allah Swt melihat dia.
Kalau kita melihat banyak persoalan mendera negeri muslim, barangkali itu karena rasa takut ini tidak dimiliki oleh para pemimpinnya. Rasa takut bahwa pengkhianatan mereka kepada rakyat itu sesungguhnya diketahui oleh Allah dan cepat atau lambat akan menerima pembalasannya.
Contoh lain, rasa takut jika dimiliki seorang ayah maka akan membuat dia menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya agar menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah.
Dia tidak akan berani membiarkan anak-anaknya bermaksiat kepada Allah Swt oleh sebab ia takut kelak akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
Begitu juga, seorang istri yang memiliki rasa takut kepada Allah, maka ia akan menjadi seorang istri yang shalihah yang akan taat dan patuh kepada suaminya selama suaminya berada di jalan Islam. Seorang anak yang memiliki rasa takut maka dia akan takut menjadi anak yang pendurhaka.
Dia akan senantiasa mengabdi kepada kedua orang tuanya.
Demikian juga seorang pedagang yang memiliki rasa takut ini. Mereka pasti akan menjadi pedagang yang jujur, tidak akan mengurangi timbangannya untuk pembeli. Seorang pegawai negeri juga akan senantiasa sukarela dengan penuh semangat menjadi “pelayan” bagi rakyatnya. Sebab mereka memiliki rasa takut, bahwa jika dia tidak melaksanakan kewajibannya maka kelak Allah Swt akan meminta pertanggungjawaban mereka di hadapan mahkamah-Nya yang adil.
Begitu juga rasa takut yang jika dimiliki oleh seorang aparat keamanan. Mereka tidak akan mengarahkan senjata dan sepatu boots-nya kepada rakyat yang tidak bersalah. Sebab semua mereka paham bahwa kelak semua akan disidangkan di hadapan mahkamah Allah Swt. rasa takut ini juga akan membuat setiap muslim untuk tidak akan berani meninggalkan kewajiban shalat.
Takut ciri takwa
Dan takut ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Ghazali (dalam Abdullah bin Alwi Al Haddad: 1988), merupakan salah satu di antara ciri-ciri takwa. Artinya bahwa seseorang yang berhasil meraih gelar takwa di bulan Ramadhan dapat ditandai apabila ia telah memiliki rasa takut. Ciri-ciri lain menurut Imam Ghazali yaitu taat dan ibadah dan menyingkirkan hati dari segala dosa.
Oleh sebab itu, maka puasa di bulan Ramadhan dan segenap amalan yang ditekan untuk dikerjakan di dalamnya sesungguhnya akan menghasilkan derajat takwa bagi orang-orang yang mengerjakannya sebagaimana tersebut dalam al-Baqarah ayat 183. Tapi sebagaimana dijelaskan di atas, sebagai manifestasi dari rasa takut kepada Allah Swt, maka takwa ini sesungguhnya bukan sekadar derajat yang pasif. Ia adalah suatu energi yang sangat dahsyat karena para penyandang derajat ini akan mampu memberikan efek bagi agenda-agenda filantropi dan transformasi sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sekjen-ISAD-Aceh-Teuku-Zulkhairi-tentang-Maroko.jpg)