Kupi Beungoh
Lebaran: Ajari Anak Memberi, Bukan Meminta
Kita merayakan satu hari suci, tapi secara tak sadar sedang membangun karakter ketergantungan massal. Mental menanti. Mental menagih.
*) Oleh: Tgk. Alwy Akbar Al Khalidi, SH, MH
SETIAP Idul Fitri tiba, anak-anak ramai membanjiri rumah-rumah tetangga.
Bukan untuk mendengar petuah orang tua. Bukan pula untuk menyambung silaturahmi.
Mereka datang dengan misi sederhana namun disayangkan: mengumpulkan THR.
Tangan kecil mereka menyodorkan salam. Senyum manis, basa-basi seperlunya. Lalu pamit, pindah ke rumah berikutnya.
Seolah lebaran adalah semacam “ritual ekonomi miniatur”, di mana yang tua harus membayar, yang muda menerima, dan siapa yang membawa pulang amplop paling tebal jadi pemenangnya.
Lucu? Mungkin.
Tapi jika kita jujur, ini bukan kelucuan. Ini kekacauan nilai yang ditanamkan sejak dini, lalu terus membesar hingga mereka tumbuh dewasa.
Membiasakan anak-anak meminta saat lebaran adalah bentuk kegagalan kita sebagai masyarakat.
Kita merayakan satu hari suci, tapi secara tak sadar sedang membangun karakter ketergantungan massal. Mental menanti. Mental menagih.
Padahal Islam datang membawa semangat sebaliknya. Memberi, bukan meminta.
Rasulullah SAW bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bukan karena posisi tangan itu lebih tinggi. Tapi karena nilai yang terkandung di dalamnya: keberdayaan, kemandirian, dan keikhlasan.
Nilai-nilai yang justru hari ini makin langka di tengah masyarakat yang gemar menuntut namun enggan berkontribusi.
Fenomena “anak berburu THR” bukanlah soal receh. Ia adalah puncak dari gunung es pembiasaan jangka panjang: bahwa menerima adalah budaya, bahwa meminta adalah hak, dan bahwa lebaran adalah momen memanen uang, bukan momen memanen nilai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tgk-Alwy-Akbar-Al-Khalidi-SH-MH.jpg)