Senin, 20 April 2026

Konflik Rusia dan Ukraina

AS dan Rusia Makin Mesra, Trump Tuding Zelensky Picu Perang Ukraina!

Pernyataan itu disampaikan Trump hanya sehari setelah serangan besar Rusia yang menewaskan sedikitnya 35 orang dan melukai lebih dari 117 orang di kot

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
Kremlin.ru
PUTIN DAN TRUMP - Foto ini diambil pada Jumat (14/2/2025) dari website resmi Kremlin, memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden AS Donald Trump (kanan) bertemu di sela-sela acara G20 di Hamburg, Jerman pada 7 Juli 2017. 

"Saya pikir kita mungkin berada di ambang sesuatu yang akan sangat, sangat penting bagi dunia pada umumnya," ujar Steve Witkoff, utusan khusus Trump, dalam wawancara bersama Fox News.


Witkoff sebelumnya bertemu dengan Putin di St. Petersburg dan mengungkapkan bahwa pembicaraan mereka berlangsung hampir lima jam, membahas rencana perdamaian yang menyeluruh, termasuk:

Status lima wilayah Ukraina yang diklaim Rusia telah dianeksasi

Kesepakatan "tidak ada NATO, tidak ada Pasal 5", merujuk pada aturan aliansi militer yang menyatakan setiap anggota akan membela negara anggota lain yang diserang.


Witkoff menyebut pembicaraan itu sebagai peluang komersial dan diplomatik besar yang dapat "membentuk ulang hubungan AS-Rusia dan membawa stabilitas baru ke kawasan".

 
Zelensky: “Datang dan Lihat Langsung Korbannya”

Merespons sikap Trump yang semakin akrab dengan Putin dan cenderung menyalahkan Ukraina, Zelensky menyampaikan seruan langsung kepada Presiden AS itu dalam wawancara dengan program 60 Minutes di CBS.

"Tolong, sebelum mengambil keputusan apa pun, sebelum melakukan bentuk negosiasi apa pun, datanglah dan lihat orang-orang, warga sipil, prajurit, rumah sakit, gereja, anak-anak yang hancur atau tewas," kata Zelensky dengan nada emosional.


Serangan terbaru di kota Sumy yang terjadi saat Minggu Palma, menurut Zelensky, adalah serangan Rusia paling mematikan terhadap warga sipil tahun ini.

“Ini terjadi tepat di jantung kota saat orang-orang berdoa,” ujar Zelensky.


Moskow mengklaim bahwa mereka menargetkan pertemuan militer Ukraina dan menewaskan 60 tentara, tetapi tidak memberikan bukti apa pun untuk mendukung klaim tersebut.

 
AS Tolak Resolusi PBB yang Sebut Rusia sebagai Agresor


Yang semakin memperkeruh suasana, pada bulan Februari, AS secara mengejutkan memberikan suara bersama Rusia untuk menolak resolusi PBB yang menyatakan Rusia sebagai agresor dalam perang.

Langkah ini sangat jarang terjadi dan menjadi tanda bahwa kebijakan luar negeri AS di bawah Trump berbeda drastis dari pendahulunya.

 
Perang yang Berakar Panjang

Konflik antara Rusia dan Ukraina sendiri tidak dimulai pada 2022, melainkan sejak tahun 2014, ketika presiden pro-Rusia di Ukraina digulingkan. Tak lama kemudian, Rusia mencaplok wilayah Krimea dan mendukung kelompok separatis di wilayah timur Ukraina.

Perang skala penuh baru terjadi pada 24 Februari 2022, dan sejak saat itu ratusan ribu orang dari kedua belah pihak telah tewas atau terluka, sementara jutaan lainnya mengungsi. 

Pernyataan Trump yang menyalahkan Zelensky tidak hanya memicu kemarahan publik internasional, tetapi juga membuka babak baru dalam dinamika geopolitik global.

Dengan kedekatan Trump dan Putin yang semakin nyata, serta sikap AS yang mulai menjauh dari Ukraina, banyak pihak kini mempertanyakan komitmen Amerika terhadap perdamaian yang adil.

Jika pendekatan damai yang sedang dirintis oleh Trump dan Putin tidak mempertimbangkan kepentingan rakyat Ukraina, maka perdamaian itu sendiri bisa jadi hanya akan menjadi alat diplomasi yang menguntungkan pihak yang lebih kuat.

Baca juga: Dunia Geger! Trump Ancam Perang Dagang, Lalu Tiba-Tiba Rem Mendadak

 (Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved