Opini
Paus, Aceh, Gaza & Rohingya
umat Islam, kita tetap menjadikan Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya sebagai pedoman hidup sehari-hari sebagaimana yang termaktub dalam Quran d
Murizal Hamzah, Penulis buku Peran Bapa Suci Sri Paus & Umat Katolik
KABAR duka cita itu datang dari Vatikan. Sri Paus Fransiskus pulang ke Rumah Papa pada Senin (21/4/2025). Pemakaman Kepala Negara Vatikan dan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma Paus Fransiskus telah diadakan pada Sabtu (26/4/2025). Puluhan kepala negara, anggota kerajaan dan lain-lain melepaskan kepergiannya dengan syahdu di Lapangan Santo Petrus. Presiden Prabowo Subianto mengutus mantan Presiden RI Joko Widodo dan lain-lain ke sana. Dalam proses pemakaman ini dilanturkan doa dalam bahasa Arab, Mandarin, Jerman, dan sebagainya.
Bagi Paus, kunjungan ke luar negeri seperti ke Indonesia pada 2024 adalah sebagai kepedulian kepada rakyatnya. Dalam Katolik, proses penceraian suami-istri dilakukan setelah ada persetujuan dari Paus. Penatapan dan pengangkatan uskup-uskup di setiap negara dilakukan oleh Paus. Begitulah Vatikan, negara terkecil wilayahnya dan penduduknya paling sedikit di dunia. Namun di luar Vatikan, ada sekitar 1,4 miliar umat Katolik yang berkiblat ke Kota Suci Vatikan.
Dalam berbagai kesempatan, Paus mengecam pembakaran al-Quran di Swedia pada Juli 2023. Menurutnya, pembakaran ini bukanlah bentuk kebebasan berbicara. Kitab suci apa pun harus dihormati untuk menghargai mereka yang mempercayainya. Sebelumnya pada 2015, Paus protes kepada Majalah satir Charlie Hebdo yang memuat kartun Nabi Muhammad. Paus menegaskan kebebasan berekspresi ada batasnya.
Gaza
Pemakaman Paus tidak dihadiri oleh pemimpin Israel. Mereka hanya mengutus Dubes Israel di Vatikan. Negara biadab itu tidak senang kepada Paus yang mendukung rakyat Palestina jadi negara. Paus terus menyerukan gencatan senjata di Gaza dan konsisten mengecam agresi Israel. Sementara pada pemakaman Paus Yohanes Paulus II pada 2005, hadir Presiden Israel, Menlu Israel, Hakim Mahkamah Agung Israel, dan Kepala Rabi Israel.
Paus memiliki keinginan membangun jembatan antara komunitas Katolik dan Muslim. Hal itu terbukti dari kunjungan ke berbagai negara mayoritas Muslim seperti Timur Tengah, Afrika Utara, Asia, dan lain-lain. Paus bersama Grand Syaikh Al-Azhar pada 2019 teken Fraternity Document di Abu Dhabi sebagai tonggak sejarah dalam kerja sama lintas agama. Reaksi pemimpin Muslim menunjukkan warisan Paus memperjuangkan perdamaian dan saling pengertian lintas iman akan terus dikenang dan dilanjutkan.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebut Paus sebagai sahabat setia rakyat Palestina yang mengakui negara Palestina dan mengizinkan bendera Palestina dikibarkan di Vatikan. Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi menyebut Paus sebagai suara cinta dan belas kasih. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memuji Paus yang memajukan dialog antaragama. Sementara Prabowo Subianto mengatakan bahwa pesan Paus tentang kesederhanaan, pluralisme, keberpihakan pada kaum miskin, dan kepedulian kepada sesama menjadi contoh yang abadi.
Aceh
Pada abad ke-16, Belanda menyebarkan kabar kepada Sultan Iskandar Thani bahwa kehadiran Portugis di Aceh untuk memurtadkan rakyat Aceh yang sudah Islam. Hal ini terjadi setelah awak kapal Portugis serta dua pastor memasuki wilayah Aceh. Sultan menawarkan mereka masuk Islam. Namun ada yang menolak. Karena itu, pada 27 November 1638 mereka yang bertahan dengan keimanan digiring ke pantai. Dua pastor yakni Pastor Pater Dionisius dan Pastor Bruder Redemptus merenggang nyawa. Kelak, Gereja Katolik memberi gelar beato (orang suci) kepada dua pastor yang dikenang setiap 29 November. Begitulah sejarah pahit yang dialami oleh dua pastor di era Kerajaan Aceh.
Pada abad ke-21, Paus memanjatkan doa kepada korban gempa di Pidie Jaya dan Bireuen pada 8 Desember 2016. Gempa berkekuatan 6,5 SR pada 7 Desember 2016 menewaskan lebih dari 100 warga dan puluhan rumah, toko dan lain-lain ambruk. Kabar duka di Serambi Mekkah Aceh masuk ke ruang kerja Paus termasuk Ketika gempa bumi yang disusul tsunami pada 2004.Dalam kunjungan ke Indonesia pada September 2024, Paus mengatakan, Indonesia adalah negara besar yang memiliki tambang emas terbesar di dunia. Dia berpesan bahwa harta yang paling berharga ialah kemauan menjaga kerukunan agar tidak saling bertikai antaragama. Paus memberikan pelajaran kepada pejabat Indonesia untuk hidup sederhana dengan menggunakan mobil seharga Rp 450 juta.
Rohingya
Muslim Rohingya adalah etnis yang paling tertindas dan terlupakan di permukaan dunia. Namun tidak bagi Paus yang memakai kata Rohingya ketika bertemu 16 pengungsi Muslim Rohingya pada 1 Desember 2017 di Katedral St. Mary, Kota Dhaka mendengarkan keluhan penderitaan dan pengalaman pahit yang dihampirinya satu per satu. Foyez Ali Majhi, pengungsi Rohingya meminta Paus menyebarkan informasi ke dunia tentang derita mereka.
Foyez mengatakan militer Myanmar membunuh dan memperkosa keluarga dan tetangganya. "Rumah kami dibakar dan mereka (militer Myanmar) telah mengambil semuanya. Saya memberi tahu Paus untuk mengusahakan keadilan bagi kami," katanya.
Pengungsi Rohingya menitikkan air matanya dan Paus memeluk satu per satu perwakilan etnis minoritas. Paus mengadvokasi pengungsi dan kelompok minoritas yang rentan terhadap penganiayaan. Berulang kali mengutuk kekerasan terhadap sebagian besar minoritas Muslim, menyebut mereka sebagai saudara laki-laki dan perempuannya dan memberi label kepada orang-orang Kristen yang menolak untuk memperlakukan mereka manusiawi sebagai orang munafik. "Atas nama semua orang yang telah menganiaya Anda, sakit menyakiti Anda, saya meminta maaf. Saya meminta hati yang besar untuk memberi kami pengampunan yang kami mohon," ungkap Paus.
Hal serupa dilakukan kembali setelah Paus mendarat di Jakarta dan langsung ke Nunsiatur Apostolik (Kedutaan Besar Takhta Suci Vatikan) pada 3 September 2024 bertemu pengungsi yang ditampung oleh Jesuit Refugee Service seperti Muslim Rohingya yang terdampar di Indonesia. Dalam kesempatan itu juga, Paus bertemu anak-anak yatim piatu, lansia, tunawisma, dan lain-lain.
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Aceh sebagai Pintu Gerbang Perdagangan Internasional, Mengaspirasi Pembangunan Dubai |
|
|---|
| Nasib Aceh jika Kepala Daerah Dipilih DPRD |
|
|---|
| Menata Standar Pendidikan Menuju Ekosistem yang Lebih Bermakna |
|
|---|
| Dampak Bencana dan Antisipasi Perubahan RPJMA 2025-2029 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MURIZAL-HAMZAH.jpg)