Opini
Guru dan Pembelajaran Mendalam
Keresahan civitas pendidikan sedikit terobati. Dinas pendidikan Aceh meresponnya dengan menggelar kuliah umum yang menghadirkan pakar kompeten. Drs. S
Oleh: Nelliani MPd, Guru SMAN 1 Baitussalam, Aceh Besar, Desa Seuleu, Darussalam
MENARIK mengikuti kuliah umum yang digelar Dinas Pendidikan Aceh bekerja sama dengan Yayasan Sukma Bangsa, Senin, 14/04/2025. Tema yang diangkat adalah isu yang sedang hangat diperbincangkan kalangan akademisi dan dunia pendidikan yaitu pembelajaran mendalam (deep learning). Penulis berkesempatan hadir dan serius menyimak diskusi yang disampaikan dengan ringan oleh para nara sumber.
Sejak digaungkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, deep learning “sukses” membuat guru galau. Betapa tidak, para cek gu itu resah memikirkan hal baru apa lagi ini, bagaimana menerapkannya dalam pembelajaran, apakah sesuai untuk semua anak atau seperti sebelumnya hanya berhasil pada sekolah-sekolah tertentu saja. Yang lama belum benar-benar paham, tiba-tiba saja muncul yang baru. Hingga terdengar suara-suara sumbang “ganti menteri ganti kurikulum, ganti kebijakan kesejahteraan tetap jauh dari harapan”.
Keresahan civitas pendidikan sedikit terobati. Dinas pendidikan Aceh meresponnya dengan menggelar kuliah umum yang menghadirkan pakar kompeten. Drs. Syamsir Alam, MA sebagai salah seorang tim penyusun naskah akademik deep learning dan Prof. Dr. Rahmah Johar, M.Pd yang selama ini menjadi tenaga ahli Disdik.
Baca juga: Viral Siswa SMA Diminta Gambar Organ Reproduksi saat Ujian, Sang Guru Kini Minta Maaf
Dalam paparannya, Syamsir mengatakan guru tidak perlu bingung dengan hadirnya deep learning. Ini bukan hal baru, sebelumnya guru pernah melakukannya hanya saja dengan istilah berbeda. Sebenarnya inti dari pendekatan ini bagaimana mengasah kemampuan berpikir kritis anak dari apa yang sudah dipelajari menjadi meaningful dalam diri mereka sehingga pengetahuan tersebut bisa digunakan dalam konteks berbeda.
Kegalauan terasa karena selama ini sebagian guru sudah nyaman dengan pendekatan pembelajaran “zona aman”. Dimana guru ceramah sedangkan siswa menyimak, menghafal atau mencatat. Sedangkan pembelajaran mendalam menuntut kreativitas dan inovasi guru dalam merancang pembelajaran sehingga bermakna dan menyenangkan peserta didik.
Tanpa dimungkiri, pembelajaran tradisional kurang memberi kesempatan anak membangun sendiri pengetahuannya sehingga menghambat berkembangnya ruang kreativitas dan berpikir kritis. Fenomena bersekolah tetapi tidak belajar banyak terjadi. Kegiatan mencatat saja, menyimak atau menghafal saja hanya akan membuat siswa pasif, mudah bosan dan kurang termotivasi. Peserta didik yang tidak dibiasakan berpikir kritis akan kesulitan menerapkan pengetahuan yang diperoleh jika berhadapan pada situasi berbeda.
Dalam tes-tes yang diujikan, jika dicermati berdasarkan taksonomi Bloom, sebagian besar peserta didik hanya mampu menyelesaikan soal sampai tahap C1- C3. Mereka kewalahan bila berhadapan dengan soal berkonsep Higher Order Thinking Skills (HOTS). Ini adalah dampak nyata dari kemampuan berpikir kritis belum berkembang secara optimal.
Hasil PISA membenarkan fenomena tersebut. Data PISA menunjukkan kemampuan literasi numerasi siswa Indonesia berada di bawah rata-rata peserta didik Internasional (matematika; 472, sains; 485 dan membaca; 476). Indonesia menempati peringkat 68 dari 81 negara dengan skor matematika (379), sains (398), dan membaca (371) (OECD, 2023).
Ada adagium, didiklah anak sesuai zamannya. Maknanya guru dan orang tua penting mengupayakan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Pendidikan perlu terus berkembang dan adaptif terhadap perubahan teknologi, sosial dan budaya. Jika ada sesuatu yang baru, guru tidak perlu panik menyikapinya.
Dalam dunia pendidikan, kemampuan berpikir kritis membantu siswa memahami materi pelajaran dengan lebih baik, mengembangkan pemahaman lebih mendalam sehingga mampu menemukan solusi jika dihadapkan pada konteks yang beragam. Kompetensi ini adalah satu kebutuhan untuk menjawab tantangan abad 21.
Pembelajaran mendalam diyakini bisa menjawab persoalan tersebut. Pembelajaran ini bukan hanya memberikan materi untuk dihafal atau dicatat, namun mengajak siswa memahami lebih dalam setiap materi yang dipelajari.
Dengan pembelajaran berpusat pada peserta didik, memberi kesempatan bagi mereka terlibat aktif dalam kegiatan belajar, seperti diskusi, eksplorasi dan eksperimen yang membuat pengalaman belajar lebih tertantang dan termotivasi. Pengetahuan yang dibangun sendiri memudahkan siswa mengaitkan hal-hal baru dengan pengalaman dan pengetahuan yang sudah mereka miliki. Hal ini membuat pembelajaran lebih bermakna dan mudah diingat.
Dikutip dari naskah akademik Kemdikdasmen, pembelajaran mendalam didefinisikan sebagai pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna dan mengembirakan. Pembelajaran mendalam tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademis, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas dan empati sehingga peserta didik tumbuh menjadi individu yang utuh dan selaras dengan tuntutan global.
Untuk itu guru perlu memahami 3 prinsip dasar dalam menerapkan pendekatan ini yaitu mindful, meaningful dan joyful. Mindful artinya peserta didik hadir secara sadar dan serius dalam proses pembelajaran melalui aktivitas menyimak, memahami, menganalisis, berdiskusi dan lainnya. Tugas guru adalah membimbing dan mengarahkan, selebihnya siswa sendiri yang terlibat aktif membangun pengetahuannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nelliani-8j.jpg)