Selasa, 5 Mei 2026

Opini

Perpisahan Sekolah: Antara Tradisi, Ekonomi, dan Esensi Pendidikan

Pada akhirnya, perpisahan sekolah adalah tentang mengakhiri sebuah babak dengan rasa syukur dan membuka babak baru dengan semangat dan harapan. Kenang

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Syarifah Rukayah, pemerhati pendidikan. 

Oleh: Syarifah Rukayah, pemerhati pendidikan

PERPISAHAN sekolah, bagi sebagian besar siswa, merupakan momen yang dinanti-nantikan. Ia menjadi penanda berakhirnya sebuah babak penting dalam kehidupan pendidikan, sekaligus gerbang menuju jenjang yang lebih tinggi. Lebih dari sekadar acara seremonial, perpisahan diharapkan menjadi wadah untuk mengukir kenangan indah bersama teman-teman dan guru, sebuah memori kolektif yang akan dikenang di kemudian hari.

Tak heran, gagasan untuk merayakannya dengan meriah seringkali muncul dari inisiatif siswa, didukung oleh keinginan untuk memiliki "akhir yang berkesan" setelah bertahun-tahun belajar bersama.

Namun, di balik euforia dan harapan akan perayaan yang membahagiakan, tersembunyi sebuah persoalan pelik, terutama dalam konteks kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti saat ini.

Himbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Kepala Dinas Pendidikan Banda Aceh, Bapak Martunis, yang melarang perpisahan sekolah dengan alasan memberatkan orang tua dan cenderung bermewah-mewah, adalah suara yang patut didengarkan. Kita tidak bisa menutup mata terhadap realitas bahwa tidak semua keluarga memiliki kemampuan finansial yang sama.

Biaya untuk pakaian seragam khusus, kontribusi acara, hingga akomodasi jika acara diadakan di luar sekolah, dapat menjadi beban yang signifikan bagi sebagian orang tua. Ironisnya, semangat kebersamaan yang seharusnya menjadi esensi perpisahan justru dapat ternodai oleh jurang pemisah ekonomi antar siswa.

Senada dengan hal tersebut,  sebagaimana berita yang viral saat ini kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang melarang perpisahan sekolah dan studi tur yang berlebihan, juga didasari oleh pertimbangan yang sama. Beliau melihat bahwa praktik-praktik ini sering kali menjadi ajang pemborosan dan bahkan sumber pungutan liar yang merugikan orang tua. Ketegasan Dedi Mulyadi mengirimkan pesan yang kuat bahwa pendidikan seharusnya bebas dari unsur-unsur komersialisasi yang tidak relevan dengan esensi pembelajaran.

Larangan ini disambut baik oleh banyak pihak yang merasa resah dengan tren perpisahan sekolah yang semakin jauh dari nilai-nilai kesederhanaan dan kebersamaan.

Namun, di balik kebijakan dan himbauan tersebut, tersiar berita mengenai beberapa sekolah yang tetap "ngeyel" menyelenggarakan perpisahan dengan konsep yang mewah dan bertempat di lokasi-lokasi yang eksklusif. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang tingkat kepatuhan dan pemahaman pihak sekolah terhadap kebijakan yang telah ditetapkan.

Alasan di balik keukeuhnya beberapa sekolah ini mungkin beragam, mulai dari tradisi yang sudah mengakar, keinginan dari sebagian orang tua atau siswa yang menginginkan perayaan yang meriah, hingga kurangnya pemahaman tentang dampak ekonomi yang ditimbulkan bagi sebagian besar orang tua lainnya. Tindakan ini jelas bertentangan dengan semangat keadilan dan kesetaraan yang seharusnya dijunjung tinggi dalam dunia pendidikan.

Di sisi lain, suara penolakan terhadap kebijakan pelarangan atau pembatasan perpisahan sekolah juga datang dari kalangan siswa. Argumen yang paling sering dilontarkan adalah keinginan untuk memiliki "kenangan" yang berkesan di akhir masa sekolah.

Bagi mereka, perpisahan adalah momen penting untuk merayakan kebersamaan dengan teman-teman seangkatan sebelum berpisah untuk melanjutkan pendidikan atau karir masing-masing. Mereka beranggapan bahwa sebuah acara perpisahan yang meriah akan menjadi memori indah yang akan mereka kenang sepanjang hidup.

Perasaan ini tentu wajar mengingat masa sekolah adalah periode penting dalam pembentukan identitas dan relasi sosial. Kehilangan kesempatan ini tentu menimbulkan kekecewaan.

Akan tetapi, penting untuk mempertimbangkan kembali definisi "kenangan yang berkesan". Apakah sebuah kenangan harus selalu diukur dengan kemewahan dan biaya yang tinggi?

Bukankah kebersamaan, rasa syukur, dan momen-momen refleksi yang sederhana juga dapat menciptakan kenangan yang tak terlupakan? Justru, perayaan yang berlebihan dan fokus pada kemewahan dapat mengaburkan esensi dari perpisahan itu sendiri, yaitu mengapresiasi perjalanan pendidikan dan mempererat tali persaudaraan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved