Senin, 20 April 2026

Kupi Beungoh

Aceh, Maroko, dan Warung Kopi

Kesamaan lainnya yang tak kalah menarik adalah budaya minum kopi dan maraknya warung kopi di kedua tempat ini.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Mahasiswa Aceh di Maroko dan Alumni Dayah Insan Qurani Aceh Besar, M Fataya Almuwahhid 

*) Oleh: M Fataya Almuwahhid

MEMBICARAKAN Aceh dan Maroko rasanya seperti membicarakan dua sosok adik dan abang.

Walaupun terpaut jarak yang begitu jauh (yang satu di timur, yang satu di barat) hal itu tak menjadi penghalang bagi keduanya untuk memiliki banyak kesamaan.

Salah satunya adalah tradisi membaca Dala’ilul Khairat, atau yang lebih akrab disebut dala’e—sebuah kitab kumpulan shalawat dan zikir karya ulama besar Maroko, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli. 

Ada juga kisah terkenal tentang penjelajah masyhur asal Maroko, Ibnu Batutah, yang pernah menginjakkan kaki di tanah Aceh sekitar tahun 1345 Masehi, ketika Samudera Pasai dipimpin oleh Raja Al-Malik Az-Zahir. 

Kesamaan lainnya yang tak kalah menarik adalah budaya minum kopi dan maraknya warung kopi di kedua tempat ini.

Kopi dan warung kopi di Aceh telah menjadi identitas yang tak terpisahkan.

Tak heran jika Aceh dijuluki sebagai Negeri Seribu Warung Kopi. Ke mana pun kita pergi, hampir pasti akan kita temui minimal satu warung kopi

Namun, warung kopi bukan sekadar tempat menikmati kopi.

Sejak dulu, warung kopi telah menjadi ruang sosial: tempat berbincang, menyelesaikan transaksi, bertemu teman dan kerabat, bahkan tempat menyendiri untuk mengerjakan tugas, merancang proyek, atau sekadar merenung.

Aneka hidangan tersedia di sana. Mulai dari kuphi pancong (Kopi sareng hitam dalam gelas setengah isi yang diracik dari biji kopi Arabika atau Robusta) hingga kopi susu, perpaduan seimbang antara kopi dan susu.

Ada juga kopi sanger, mirip kopi susu tetapi dengan proporsi kopi yang lebih dominan, menciptakan rasa yang lebih kuat. 

Selain kopi, warung-warung ini juga menyediakan berbagai minuman lain seperti teh dingin, teh tarik, susu cokelat, dan sebagainya.

Disana juga tersedia jajanan khas Aceh, baik kue tradisional seperti timphan, pulot bakar, maupun citarasa nusantara serta sajian lainnya. 

Menariknya, hal serupa juga ditemukan di Maroko. Di kota Fes, dalam radius satu kilometer dari tempat tinggal kami, terdapat lebih dari dua puluh warung kopi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved