Kupi Beungoh
Aceh, Maroko, dan Warung Kopi
Kesamaan lainnya yang tak kalah menarik adalah budaya minum kopi dan maraknya warung kopi di kedua tempat ini.
Semua kalangan (mulai dari anak muda hingga orang tua) betah duduk di maqha (bahasa Arab untuk warung kopi).
Para remaja berkumpul, bercanda tawa; mahasiswa sibuk dengan muqarrar (diktat)-nya; orang paruh baya menatap layar laptopnya; dan para lansia menikmati senja bersama secangkir kopi dan sebatang rokok.
Beberapa waktu lalu, kami duduk bersama warga Maroko di sebuah maqha, menyaksikan Final Copa del Rey antara dua rival abadi: Barcelona dan Real Madrid.
Antusiasme terhadap sepak bola di sini sangat tinggi. Jika timnas Maroko bermain, hampir dipastikan semua warung kopi penuh sesak.
Sedangkan menu andalan di warung kopi Maroko antara lain normal dan spesial, dua jenis kopi hitam tanpa gula yang disajikan dalam gelas kecil—bedanya, spesial ditambahkan susu.
Ada juga attai bin na’na’ (أتاي بالنعناع), teh khas Maroko dengan daun mint yang memberikan sensasi segar.
Selain minuman, maqha juga menyajikan berbagai halawiyat (حلويات)—kue-kue kering dengan beragam bentuk dan topping, mirip kue-kue lebaran di Indonesia.
Juga aneka roti khas Prancis seperti croissant, roti renyah berbentuk bulan sabit, dan pain au chocolat, roti isi cokelat berlapis mentega.
Keberadaan roti-roti ini tak lepas dari sejarah kolonialisme Prancis di Maroko selama 44 tahun, sebelum akhirnya merdeka pada 1956.
Satu hal unik yang membedakan warung kopi di Aceh dan Maroko adalah posisi kursi dan meja.
Di Aceh, kursi mengelilingi meja dari segala sisi. Sebaliknya, di Maroko, kursi di maqha cenderung menghadap ke jalan.
Setiap meja biasanya hanya memiliki satu atau dua kursi yang semuanya menghadap ke arah jalan, terutama di bagian teras.
Jadi, jika kita berjalan melewati sebuah maqha, besar kemungkinan Anda akan menjadi tontonan para kakek yang sedang menikmati normal atau attai-nya sambil merokok.
Entah mengapa, tapi tampaknya ada kesenangan tersendiri bagi masyarakat Maroko dalam menyaksikan lalu-lalang kehidupan di jalanan.
Setidaknya antara Maroko dan warung Kopi telah mengobati sedikit kerinduan kami para mahasiswa untuk Tanoh recong. (*)
*) PENULIS adalah Mahasiswa Aceh di Maroko dan Alumni Dayah Insan Qurani Aceh Besar
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-Fataya-Almuwahhid-Mahasiswa-Aceh-di-Maroko.jpg)